logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 28 Juli 2007 EKONOMI
Line

RI Tetap Harus Waspada

  • Krisis Ekonomi Jilid II

JAKARTA - Indonesia harus tetap mewaspadai goncangnya ekonomi global akibat melonjaknya harga komoditas, terutama minyak, agar terhindar dari terjadinya krisis seperti sepuluh tahun lalu.

Sebab meski cadangan devisa yang dikuasai Bank Indonesia besar, belum tentu cukup untuk mengatasi kekurangan likuiditas di pasar. Pengamat ekonomi Indef Aviliani mengingatkan pemerintah harus memerhatikan dan memastikan bahwa utang pemerintah dan utang swasta tetap berada dalam batas aman.

''Sektor riil juga harus bergerak agar dana jangka pendek segera beralih menjadi investasi jangka panjang. Jika tidak, arus masuk dana jangka pendek yang sudah menggelembung sekarang ini berbahaya,'' katanya menanggapi sinyal Deputi Gubernur Senior BI Miranda S Goeltom (SM, 27/7).

Pendapat senada juga dikemukakan Umar Juoro. Ekonom CIDES ini mengingatkan lonjakan harga minyak dunia yang saat ini sudah melampaui level 70 dolar AS per barel bukan tidak mungkin mengguncang ekonomi global. Jika terjadi jelas hal itu bisa berimbas ke Indonesia. ''Jadi fluktuasi harga minyak dunia ini memang amat mengkhawatirkan,'' katanya.

Umar menekankan, fluktuasi harga minyak dunia menciptakan ketidakpastian ekonomi dan bisnis. Diakui di satu sisi melonjaknya harga minyak dunia memang meningkatkan penerimaan negara.

''Tetapi di sisi lain realisasi subsidi jadi meningkat. Sementara bagi dunia usaha nasional lonjakan harga minyak menjadi faktor yang menyesakkan, karena berdampak membengkakkan beban biaya akibat harga BBM untuk industri sudah tak bersubsidi lagi,'' tandasnya.

Pengamat pasar uang Farial Anwar menilai risiko Indonesia menganut rezim devisa bebas rentan mengalami krisis ekonomi-keuangan. ''Bedanya dengan sepuluh tahun lalu, perbankan nasional sekarang relatif aman, karena tidak ada lagi penjarahan dana bank seperti dahulu,'' kata dia.

Bisa Terulang

M Lutfi Hamidi MA penulis buku Gold Dinar, Sistem Moneter Global yang Stabil dan Berkeadilan meyakini krisis moneter yang pernah dialami negara-negara Asia, termasuk Indonesia bisa terulang lagi. Indikasi yang paling kentara adalah ketergantungan yang amat sangat negara di dunia ini terhadap alat tukar dolar Amerika.

"Melalui mata uangnya, AS mampu menghipnotis dan membutakan mata setiap bangsa di seluruh jagat ini. Kemampuan mencetak dolar dalam jumlah besar, pengaruhnya sangat besar. Dampaknya bisa bagus, atau bahkan sebaliknya, bisa menebar ancaman," jelas Lutfi pada acara bedah buku di aula Rumah Sakit Islam Surakarta, Kamis (26/7).

Menurut staf pengajar di Universitas Paramadina itu ancaman terbesar jika pencetakan dolar tidak terkontrol adalah inflasi. "Jika inflasi benar-benar terjadi dan pemerintah Amerika tidak bisa mengatasi, maka krisis ekonomi siap mengancam dunia ini," tegasnya.

Indikasi lain, adalah mulai susutnya perusahaan di AS dengan credit rating triple A. Pada tahun 1979, AS mampu menempatkan 58 perusahaanya pada strata itu. Lalu menyusut menjadi 27 dan akhirnya tinggal menyisakan delapan perusahaan pada tahun 2002. Dari data itu, Lutfi memerkirakan, pasar modal di AS mengalami banjir dolar yang disebabkan pengiriman balik dari negara-negara untuk investasi .

"Karena kelebihan modal ini perusahaan di AS kesulitan mengembangkan investasi. Jika dana yang diperoleh dari pasar modal dipakai bukan untuk investasi riil, tapi masih diputar di sektor keuangan, hal itu akan memunculkan kerentanan dan bisa sewaktu-waktu meledak dalam bentuk krisis ekonomi," jelasnya. (A20,J5-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA