logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 28 Juli 2007 BUDAYA
Line

Dua Komposisi, Satu Dedikasi

  • Oleh Achiar M Permana

TEPAT pada hari ke-16, dari kecamuk Perang Baratayudha, Batara Yamadipati menjemput Karna. Ya, Padang Kurusetra yang menjadi arena pertempuran Pandawa dan Kurawa itu menjadi saksi akhir kehidupan Adipati Awangga tersebut. Panah Pasopati yang dilesatkan adik kandung seibunya, Raden Arjuna, menuntaskan tugas kehidupannya.

Adegan penutup dari komposisi tari ''Hari Ke-16'' karya Sri Paminto Widi Legowo itu yang dimainkan di gazebo FBS Unnes, baru-baru ini, begitu memantik keharuan. Karna, anak kandung Dewi Kunti itu, memang gugur sebagai panglima Kurawa.

Namun, dia menjalaninya karena darma ksatria, menunaikan janji yang pernah diucapkannya. Solilokui dalam bahasa Jawa yang dibacakan pada akhir adegan itu, kian meruapkan atmosfer kesedihan.

Lewat senandika itu, Paminto seperti mempertegas keharusan semua orang untuk mengekspresikan kesedihan atas kematian Karna. Seperti yang selalu tergambar sebagai adegan terakhir lakon Karna Tandhing dalam epos Mahabharata, dewi-dewi dari kahyangan pun menaburkan bunga-bunga, mengantarkan Karna menjemput pralaya.

Komposisi itu didedikasikan Paminto kepada mendiang Gudel Padmo Sardjono atau akrab dipanggil Mbah Djon, seniman tari dan busana ketoprak yang meninggal beberapa waktu lalu. ''Seperti Karna, Mbah Djon meninggal di hari ke-16, tepatnya Sabtu Wage 16 Juni silam," terang Paminto.

Penari yang juga eksponen Sanggar Seni Paramesthi itu, mengemas ''Hari Ke-16'' sebagai komposisi yang liris. Lihatlah, dia berhasil menghadirkan adegan yang memantik keharuan, ketika Karna berpamitan Surtikanti, istri tercintanya, sebelum berangkat ke Kurusetra.

Adegan itu mengingatkan pada perpisahan Ranggalawe, sang adipati Tuban, sebelum menjemput kematian di medan pertempuran. Atau, pamitan Prabu Salya kepada Dewi Setyawati, sebelum maju perang sebagai Senapati Kurawa. Atau, perpisahan Raden Damarwulan kepada Anjasmara, ketika hendak berperang tanding melawan Urubisma atau Prabu Minakjingga dari Blambangan. Ya, siapa tidak tersentuh mendengar tembang ''Asmaradana'' yang menerbitkan rasa haru itu, ''...karia mukti wong ayu, pun kakang pamit palastra.''

Murwat

Tak cuma Paminto yang menghadirkan komposisi tari untuk menghormat Mbah Djon. Koreografer Yoyok B Priyambodo dari Sanggar Greget juga menampilkan karya berjudul ''Murwat''.

''Beksan punika karipta minangka pisungsung dhateng suwargi Raka Mas Padmo Sardjono, ingkang ageng labuh labetipun tumrap seni kabudayan Jawi babagan beksa saha busana,'' pengantar Yoyok.

Dia memulai komposisi itu dengan adegan yang menggambarkan keheningan. Sesosok tubuh duduk terpaku di keremangan kelambu. Diam, tanpa gerak. Perlahan, sosok itu bergerak dengan intensitas yang terjaga, di dalam tabir transparan yang memenjaranya. Kemudian, muncullah sosok lain yang mengganggu kekhusyukan tapanya. Terjadilah pertarungan, yang diperagakan dengan gerak yang rapi tertata. Dan, para ''goda lan satru pinangka pacobaning urip'' pun takluklah.

Lewat komposisi itu, Yoyok mengapresiasi kiprah Mbah Djon. Dalam pandangannya, Mbah Djon merupakan sosok yang istikamah dalam bidang tari dan busana. Dalam ''katalog'' karya tarinya itu, Mbah Djon digambarkan, ''Seneng sabiyantu marang sanak kadang pamong mitra, ora tau pamrih lan ngundamana, mula tansah kumanthil ana sanubarining para kadang ing bebrayan seni lan budaya Jawi.''

Ya, lewat komposisi masing-masing, Paminto dalam ''Hari Ke-16'' dan Yoyok dalam ''Murwat'' unjuk penghormatan kepada seniman yang terlebih dulu dipanggil Gusti Ingkang Murbeng Dumadi. Dua komposisi, satu dedikasi. Untuk Mbah Djon. (45)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA