| Rabu, 25 Juli 2007 | WACANA |
Surat PembacaRitual TujuhbelasanBerbeda dengan negara lain khususnya di Asia, kemerdekaan Indonesia diperoleh dengan perjuangan diawali dengan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Dilanjutkan dengan perang kemerdekaan yang menentang kembalinya penjajah Belanda. Bangsa ini memiliki spirit atau semangat juang memerdekakan diri dengan tujuan kemakmuran hidup di tanah air sendiri. Jadi setiap memperingati hari kemerdekaan harus disertai semangat juang, bukan sakadar uba rampe menaikkan bendera dan pidato kosong. Dengan kata lain peringatan tujuhbelasan harus dilandasi oleh ritual religius, selain bersyukur pada Allah Yang Mahaesa atas karunia-Nya bumi yang subur. Juga berterimakasih kepada para pejuang yang gugur serta introspeksi diri apa yang sudah dilakukan selama ini. Telah 62 tahun merdeka dan 62 kali pula sang saka dikibarkan di Istana Negara, tetapi apakah cita-cita kemerdekaan telah tercapai yaitu kemakmuran dan keadilan bagi rakyat. Di tahun 2007 kondisi masyarakat sungguh sangat memprihatinkan di mana harga kebutuhan pokok semua naik, ribuan jiwa telantar akibat lumpur Lapindo dan korban bencana yang belum teratasi ditambah kemelut politik soal interpelasi. Apa yang akan jadi tema pidato kenegaraan presiden pada tanggal 16 Agustus mendatang di DPR?. Dikhawatirkan akan ada balas dendam para anggota DPR pada saat presiden hadir misal penuh interupsi saat pidato yang menyebabkan diparmalukannya secara politis. Sebaiknya seluruh komponen bangsa menyadari ritual hari kemerdekaan 2007 dijadikan momentum mendalami apa maksud para pendiri bangsa ini memproklamirkan kemerdekaan dengan Pancasila dan UUD 45. Janganlah peringatan proklamsi hanya bersifat lahiriah, tetapi benar-benar mengangkat tema kesengsaraan dan penderitaan rakyat serta kekacauan perpolitikan akibat politik dagang sapi serta korupsi yang makin merajalela. Tak perlu ada lagi tebar pesona dan janji, rakyat sudah muak dengan tingkah laku para poltikus yang hanya memikirkan kehidupan mewah diri sendiri, sehingga tidak terjadi revolusi kedua di Indonesia. Hai pemuda narapan bangsa, berjuanglah demi rakyat tertindas. Patah tumbuh hilang berganti. Sudarjo Jl S Parman 61, Purwokerto Koruptor dan Teroris Obsesi Kapolri Jenderal Sutanto tentang pembentukan polisi modern, profesional, aspiratif dan dekat masyarakat kini lagi diuji. Hal ini berkaitan dengan imbas penangkapan Abu Dujana yang menyisakan dugaan penyimpangan prosedur penangkapan. Tengarai ini dibidik secara jeli oleh media dan dipublikasikan menyaingi pemberitaan tentang aktivitas Abu Dujana sendiri sebelum ditangkap. Kebetulan memang belum banyak keterangan yang berhasil dikorek dari tersangka. Sampai DPR pun urun rembug terhadap dugaan pelanggaran hak-hak sipil dan hak anak yang telah dilaporkan ke Komnas HAM dan Komnas Perlindungan Anak. Di sisi lain kadang untuk menangkap seorang koruptor, kita perlu nego dulu. Apalagi yang sudah hengkang ke luar negeri. Dalam penyidikan mereka masih bisa necis berjas, sepatu mahal dan bermobil mewah. Ini kontras dengan tersangka teroris yang memakai seragam tahanan, diborgol tangan dan dirantai kakinya bebarengan dengan kepala ditutup. Meski berbeda modus operandi tapi karakteristik mereka sebenarnya hampir sama. Bahkan sekarang perlakuan tersebut juga meluas ke napi narkoba. Ini terlihat saat mereka dipindahkan ke LP SMS (Super Maximum Security) di Nusakambangan. Kapan perlakuan tersebut juga ditimpakan kepada para koruptor ?. Sudah waktunya penggerogot bangsa ini diperlakukan sesuai dengan kerakusannya. Sangat wajar bila mereka dikirim ke LP SMS Nusakambangan. Kata aparat, perlakuan napi narkoba dan napi teroris untuk efek jera. Lha ya bisa toh napi korupsi diperlakukan seperti napi narkoba agar juga punya efek jera. Noor Rofiq Jl Wamena V/228-229, Ungaran *** Derita Mahmud Bazar Saya baca berita di harian ini tentang derita keluarga Mahmud Bazar yang ketiga anaknya lumpuh dan belum diketahui penyakitnya. Sebagai dokter di Solo saya tergerak untuk berbagi informasi tentang penyakit yang diderita ketiga anak tersebut. Sekitar 8 tahun lalu, kami dari Fak Kedokteran Trisakti meneliti tentang penyakit Japannes B Enchephalitis di Kecamatan Ciputat Jakarta. Dalam penelitian kami ingin membuktikan penyakit tersebut selain disebabkan virus khususnya golongan Arbo virus, juga bisa karena protozoa yaitu nyamuk Culex. Untuk melakukan penelitian ini, dibantu Ibu Wati Bagian Epidemologi Puskesmas Ciputat dan Prof Gindho Bagian Litbang Jakarta. Saat itu kami menemukan keluarga yang ketiga anaknya mengalami kelumpuhan dan gangguan neurologis secara bersamaan seperti yang dialami ketiga anak keluarga Mahmud tersebut. Menurut keluarganya penyakit itu terjadi sejak anak usia 1 tahun dan diawali panas dan kejang-kejang kemudian mengalami kelumpuhan dan gangguan neurologis. Untuk itu kami mengambil sample darah satu keluarga tersebut dan jentik nyamuk yang ada di selokan serta air minum unggas di dekat rumah mereka. Mengapa memeriksa jentik nyamuk, karena pertimbangan penyakit ini selain disebabkan virus juga bisa akibat nyamuk Culex. Singkat cerita, ketiga anak keluarga itu positif menderita Japannes B Enchephalitis dan 80% jentik yang kami biakkan ternyata nyamuk Culex. Demikian informasi ini semoga dapat dipakai sebagai masukan penelitian bagi pihak terkait untuk menemukan penyakit ketiga anak keluarga Mahmud. Dengan demikian dapat melakukan tindakan lebih lanjut agar bisa mencegah penyakit tersebut. Saya menulis surat ini ingin berbagi ilmu/informasi mengenai penyakit Japannes B Enchephalitis yang gejala mirip dengan yang dialami ketiga anak keluarga Mahmud. Dokter Dwi Redjeki Perum Graha Indah Blok H16 Fajar Indah, Surakarta *** Azan Magrib di RCTI Suara azan yang menggema dari mushala dekat rumah tidak mengusik si bungsu yang baru naik ke kelas 2 SD asyik nonton RCTI yang saat itu masih menayangkan Seputar Indonesia. Ketika menyuruh anak saya shalat, dia beralasan menunggu azan magrib berkumandang di RCTI. Padahal ketika chanel kupindah ke stasiun TV swasta yang lain, ternyata adzan magrib telah berkumandang. Lho kok bisa ya sementara TV lain mengumandangkan azan, RCTI sebagai TV swasta terbesar tetap menayangkan iklan serta hanya menampilkan tulisan: "Waktu shalat magrib untuk wilayah DKI dan sekitarnya". Ketika saya perhatikan hari-hari berikutnya ternyata azan magrib pun tidak di kumandangkan. Azan magrib merupakan panggilan shalat untuk kaum muslim selain juga sebagai tetenger bagi masyarakat untuk meghentikan aktivitas sejenak. Lafadz adzan adalah pernyataan besar yang semestinya mempengaruhi jiwa, jalan berpikir dan tingkah laku seorang mukmin dan memahami sepenuh hati sehingga membangkitkan motivasi, keinsyafan dan rasa cinta yang mendalam kepada Illahi Robbi. Semua ulama menyetujui keutamaan dan kebaikan azan. Garis-garis pokok semacam inilah yang penting saat ini untuk mempertautkan ukhuwah Islamiyah. Apalagi pada hakikatnya umat islam itu satu dan keelokannya tampak nyata dari adanya persatuan dan persaudaraan. Pertanyaannya, sejauh mana media berperan membentuk pribadi seorang muslim? Gema seruan azan mestinya mampu mendatangkan pengaruh positif di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Perbaikan harus di mulai dari diri masing-masing, sehingga cahaya iman bias menembus kabut zaman. Di sini peran media sangat signifikan, walau azan magrib merupakan satu dari lima azan dalam shalat lima waktu. Untuk mengumandangkan adzan magrib saya kira hanya butuh 3 menit s.d 4 menit. Walau mengurangi tayangan iklan sebagai urat nadi dan penopang utama stasiun TV namun tidak akan menyebabkan RCTI merugi. Nyatanya stasiun TV swasta lain juga menayangkan dan belum ada yang kolaps hanya karena kehilangan waktu 4 menit. Sebagai media yang tumbuh dan berkembang bersama masyarakat tentu memiliki tanggung jawab dalam pembentukan moral generasi muda. Karena sesuatu yang besar harus dimulai dari yang kecil dulu serta hal yang baik harus dimulai saat ini juga. Untuk manajemen RCTI, alangkah lebih oke selain acaranya bagus tapi juga tidak meninggalkan aspirasi pemirsa. Mungkin tulisan ini hanya ungkapan rasa rakyat biasa yang tidak memiliki pretensi apa pun. Namun semua keluar dari hati nurani. Mungkin pengetahuan saya masih terbatas mengenai Kode Etik Penyiaran Media Televisi. Untuk itu mohon kepada KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) atau KPID Jateng sebagai perwakilan di Jateng yang memiliki kewenangan mengontrol dan mengawasi lembaga penyiaran untuk menindaklanjuti atau mungkin aturan yang ada memperbolehkan? Mohon tanggapan. Purnomo Marso SSos. Jl Kyai Ibrohim 4 Jatirokeh Songgom, Brebes *** Penjualan Formulis PSB Saya ajukan pertanyaan kepada Dinas Pendidikan sebagai lembaga yang bertanggungjawab terhadap proses pendidikan, apakah formulir pendaftaran siswa baru (PSB) bisa dijual dengan harga semaunya alias suka-suka masing-masing sekolah. Saya heran, apa yang dijadikan dasar kok ada sekolah yang menjual formulir pendaftaran Rp 15.000 dan di SMK ada yang menjual Rp.30.000. Bila salah dalam pengisian harus beli satu lagi Rp 5.000/lembar. Bagi saya hal ini tidak masuk akal penjualan formulir pendaftaran demikian mahal. Bukankah formulir tersebut sudah menjadi tangung jawab institusi yang bersangkutan atau kalau pun bayar paling sekadar ganti cetak tidak lebih dari Rp 2.500. Sejauh mana Dinas Pendidikan berhak campur tangan dalam penentuan harga formulir. Apakah harga tersebut menjadi otonomi masing-masing sekolah. Jika hak sekolah, boleh jadi tahun depan akan dijual dengan harga Rp.100.000 atau bahkan lebih. Mengenai berbagai pungutan dan SPI oleh sekola negeri, cenderung memberatkan orang tua. Mengapa Dinas Pendidikan diam saja terhadap persoalan ini? Suprayitno (081325736405) Jl Tlogomukti Tmr I/878, Semarang *** Kompensasi Flu Burung Desember 2006 merupakan kejadian yang tak pernah saya duga yaitu ternak burung puyuh saya terserang AI (Afian Influensa)/flu burung. Sungguh tak pernah saya bayangkan ternak yang setiap hari saya rawat dengan tekun bisa kena, padahal juga sudah divaksinasi. Di saat bingung, terbesit untuk mendatangi dinas terkait. Saya lapor ke Dinas Peternakan Demak setelah ternak saya yang berjumlah 1.200 ekor ada tanda-tanda terserang virus flu burung. Setelah dilakukan tes cepat memang hasilnya positif hingga akhirnya dilakukan pemusnahan. Permasalahannya, mengenai kompensasi atau penggantian ternak. Awal mulanya kompensasi disepakati pemerintah yaitu sebesar Rp 10.000/ekor meski periode sebelumnya Rp 12.000. Tetapi setelah beberapa bulan lamanya kompensasi kok bisa berubah. Apakah memang seperti itu atau ada permainan sebab ternyata kompensasi malah berubah lagi menjadi Rp 5.000/ekor. Anehnya lagi dalam pelaksanaan ada pemalsuan data. Jumlah ternak yang ditanggung oleh 1 orang hanya 500 ekor. Jadi bila ada yang punya ternak dimusnahkan 1.200 ekor maka harus di-"uwongi" 3 orang. Aneh memang. Kenapa kok harus gitu, padahal itu kan murni milik saya seutuhnya. Apakah seperti itu prosedurnya. Tolong kepada dinas yang terkait/Pemkab menjelaskan masalah ini. Juga mengapa pencairan kompensasinya kok lama. Memang, dinas sudah bilang menunggu anggaran cair. Padahal kejadianya tahun 2006. Lagi-lagi rakyat kecil yang dikorbankan. Mungkinkah ada ulah segelintir/sekelompok oknum yang bermain dalam kompensasi ini. Maksud saya misal anggaran sudah ada tetapi ada pihak tertentu yang memasukan dana sehingga peternak menunggu lama. Kalau demikian berapa keuntungan dari bunganya. Walau akhirnya cair tetapi juga kena potongan. Kepada instansi terkait agar menjelaskan secara terbuka kepada publik, tanpa ditutup-tutupi, trasparan serta apa adanya. Saya akhinya jera beternak. Mungkin kalau beternak lagi mending tidak usah kompensasi, dijual saja. Bukan maksud saya mendeskreditkan kelompok/instansi/dinas tertentu, tetapi memang benar-benar murni dari lubuk hati dan pikiran. Maaf Supradi Ngaloran RT 4/RW 1 Karanganyar, Demak *** Hati-hati Arisan Berantai Model Baru Belum lama ini saya mendapat surat dari seseorang yang tidak jelas alamatnya, karena hanya ditulis Magelang saja. Setelah saya buka, ternyata berisi petunjuk bagaimana mendapat uang banyak (sekitar Rp 168 juta dalam waktu 3 minggu, seperti tertera dalam brosurnya). Jumlah yang sangat banyak di masa sulit seperti ini. Saya imbau masyarakat lebih hati-hati dan tidak mudah terbujuk rayu segala hal yang menawarkan banyak uang tanpa bekerja. Di dalam brosur tersebut tertulis program "Pesona Peduli Sosial" dengan alamat PO Box 146 Blitar 66100 Jawa Timur, Hotline: 08125911499 dan alamat e-mail: management@pesona99.com/Website: www.pesona99.com, serta mencantumkan Akta Notaris Endang S Katosudiro W SH. Walau pun di brosur ditulis program ini bukan penggandaan uang, money game atau arisan berantai, tapi tetaplah modus operandi yang dijalankan seperti arisan berantai dengan dalih sumbangan sukarela. Jika murni sumbangan sukarela, kenapa PT Pesona Group sebagai pengelola tidak memberi data alamat yang jelas. Mohon pihak terkait, Depdag, Polri, Kejaksaan, Pengadilan menyelidiki keabsahan usaha ini agar masyarakat terutama yang awam terhadap bisnis seperti ini tidak terjebak. Jika ingin beramal dan bersedekah, sumbangkan saja kepada anak yatim-piatu, panti asuhan atau korban bencana alam atau kepada lembaga penyalur yang bertanggung jawab. Tidak usah mengharapkan balasan. Ikhlaskan dalam memberi. Kalau ingin mendapat uang banyak ya bekerja, bukan hanya dengan mengirimkan uang pendaftaran Rp 50.000 dan memberi sumbangan Rp 20.000 kepada 3 orang yang ada dalam daftar, lantas berharap dikirimi uang oleh banyak oleh orang lain. Sungguh hal ini hanya membodohi masyarakat dan menjadikan budaya kerja yang malas. Sekali lagi bila menerima brosur seperti itu yang katanya tergabung dalam Asosiasi Jaringan Indonesia (AJI) dan Star Network Internasional (SNI) harus tetap berhati-hati. Konsultasikan lebih dulu kepada orang yang lebih tahu. Iwan Setyawan Pondok R Patah II H/2, Demak *** Calo Tiket City Tour Melihat promo yang begitu gencar di beberapa media, saya tertarik datang ke Semarang Expo di Lawangsewu yang berakhir 15 Juli 2007. Apalagi ada city tour dengan sponsor Kartika Travel & Tour yang promonya, dengan tiket Rp 5.000 atau menukarkan kupon yang terdapat pada salah satu media. Saya dengan beberapa teman datang sekitar 10.00 WIB dengan perkiraan bisa ikut city tur yang dijadwalkan berangkat pukul 11.00 WIB. Tapi alangkah kecewanya karena di meja petugas sudah kosong dan tertulis ''tiket habis" (begitu pula di bagian informasi). Yang membuat lebih kecewa lagi, di depan mata ada orang yang bisa membeli tiket di depan pintu bus dan jelas tanpa tiket. Yang bikin jengkel lagi, meski sudah penuh penumpang ternyata kru bus masih memasukkan orang bahkan dengan membawa kursi sendiri. Kebetulan di sebelah saya ada orang yang cerita bahwa tiket city tour sudah dipegang calo. Mereka kabarnya main dengan kru bus. Temyata calo tidak hanya ada di bus umum tapi sudah merambah di bus pariwisata juga. Hebat sekali. Ke depan (mungkin jika ada lagi) buat Kartika Travel & Tour, kalau memang peminat banyak mengapa tidak menambah busnya saja? Atau berlakukan sesuai aturan, siapa yang punya tiket, dia yang berangkat. Kalau memang tiket habis ya jangan dipaksakan ada "tiket" lain. Saya pikir ini akan lebih menguntungkan (untuk kru bus mungkin tidak menguntungkan). Untuk para kru bus, kalau memang ada "jalan belakang" ya jangan di depan mata banyak orang. Lebih sopan sediakan tempat untuk nego, jadi tidak membikin orang lain kecewa. Atau pakai bus dari PO Damri saja yang di Semarang sudah ber-AC dan ukuran besar. Dewi Nurul Hidayati Jl Mahesosuro RT 4/RW 7 Ps Kliwon, Surakarta |