| Rabu, 25 Juli 2007 | WACANA |
TAJUK RENCANASemakin Berat Tugas Mendidik AnakPeringatan Hari Anak Nasional (HAN) digelar secara nasional setiap tanggal 23 Juli. Penting kiranya mengisi dan mendalami maknanya, sehingga kita tak terjebak pada seremoni semata. Yang penting adalah timbulnya kesadaran tentang pentingnya mendidik anak dan membentuknya menjadi pribadi yang sehat secara jasmani maupun rohani. Jelas tugas seperti itu tidak ringan di tengah berbagai kendala sosial ekonomi yang dihadapi. Di tengah arus budaya kapitalis di era global yang serba pragmatis dan hedonis, serta realitas berhadapan dengan degradasi moral di segala bidang, apa yang bisa dicontohkan kepada anak-anak? Tak ada proses pembelajaran yang lebih efektif ketimbang memberikan teladan dan bertindak sebagai panutan. Padahal justru itulah yang semakin langka sekarang ini. Pendidikan anak yang terpenting berasal dari lingkungan, yang akan membantu membentuk karakter atau kepribadian seseorang. Pertanyaannya, sudahkah kita mendampingi mereka yang sedang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan seperti sekarang? Mereka terakses tontonan televisi yang seringkali jauh dari unsur edukasi. Bahkan lebih banyak dipenuhi tayangan mistik, kekerasan dan arus budaya konsumtif yang seakan-akan tanpa kendali. Apalagi di perkotaan yang semakin diwarnai oleh budaya serbakeras dan melonggarkan nilai-nilai serta tatanan sosial. Bagaimanapun kita harus mampu melindungi anak dari semua hal negatif dan kontraproduktif yang berasal dari lingkungan. Sayangnya, justru banyak di antara orang tua yang seolah-olah sudah merasa tugasnya selesai ketika menyekolahkan anak dan memenuhi semua kebutuhannya. Padahal hanya berapa jam mereka berada di ruang kelas. Selebihnya adalah pendidikan dalam arti yang sesungguhnya. Baik ketika berada di rumah maupun di luar rumah. Siapa yang mendampingi dan memberikan bimbingan. Dalam perspektif sosial ekonomi, masih banyak hak anak yang terabaikan.Tidak sedikit yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, atau kekerasan yang dilakukan justru oleh keluarga atau orang-orang dekatnya. Waktu untuk sekolah ternyata harus diisi dengan bekerja mencari uang. Ada yang menyemir sepatu, menjual koran, atau menjadi pemulung. Sekarang juga makin banyak anak jalanan di berbagai sudut kota. Terkadang kita menjadi bingung apakah akan meladeni perminta-an dengan memberikan uang tetapi jelas tidak mendidik, ataukah membiarkan begitu saja walau sebenarnya hati kita menangis. Semua menyangkut masa depan bangsa. Merekalah para penerus sehingga jangan sampai menjadi bagian dari sebuah generasi yang hilang. Sebagian besar masalah anak karena kesalahan dan dosa-dosa orang tua. Paling tidak semua ikut bersalah. Para penentu kebijakan mungkin kurang memberikan prioritas pada pendidikan dan pengembangan anak. Para orang tua bisa jadi kurang memiliki tanggung jawab. Atau sebaliknya sangat berlebihan sehingga seakan-akan ingin menguasai seluruhnya tanpa mengingat ada hak-hak anak yang perlu dilindungi. Tidak sedikit orang tua yang memaksakan kehendak kepada anaknya sendiri. Mari kita sikapi masalah ini. Keteladanan yang semakin langka bisa menjadi musibah besar bagi sebuah bangsa. Generasi baru yang tidak lebih baik bisa menjadi ancaman di masa depan. Lalu dari mana dimulai? Dari lingkungan terkecil, yakni keluarga. Pengaruh budaya asing dan berbagai fenomena zaman yang tak mendukung hanya dapat ditangkal dengan kesungguhan mendidik dan membesarkan anak. Dan, itu tak cukup hanya diukur dari materi. Sementara itu dalam tataran makro, harus terus diperangi kemiskinan, keterbelakangan dan pengangguran yang juga akan memakan korban anak-anak tunas bangsa. |