logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 25 Juli 2007 NASIONAL
Line

SAMUNG RASA

Pengelolaan Kependudukan

  • dialog dengan Gubernur Mardiyanto

Tanya: Bapak Gubernur, untuk apa sih ada peringatan Hari Kependudukan se Dunia ? Mulyadi Lamongan Raya No.14 Sampangan Kota Semarang

Jawab:

Saudari Mulyadi, sejak dibahas dalam Konferensi Internasional tentang Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and Development/ICPD) di Kairo tahun 1994, masalah hak reproduksi mendapat perhatian khusus.

Dalam konferensi tersebut pengelolaan masalah kependudukan dan pembangunan mengalami perubahan ke arah pendekatan paradigma baru. Dari pendekatan pengendalian populasi dan penurunan fertilitas (Keluarga Berencana/KB), menjadi pendekatan yang berfokus pada hak reproduksi perorangan de-ngan menempatkan pribadi sebagai subyek yang harus dihargai hak-hak reproduksinya.

Di antaranya hak dari pasangan atau individu untuk memutuskan secara bebas dan ber-tanggung jawab terhadap jumlah dan jarak anak dan untuk mendapatkan informasi.

Ada pula hak untuk mencapai standar kesehatan reproduksi dan hak untuk membuat keputusan yang bebas dari diskriminatif, paksaan atau kekerasan.

Angka Kematian Ibu

Dalam kaitan dengan pembangunan yang berwawasan ke-pendudukan, ICDP dan Millenium Development Goals (MDGs) menetapkan penurunan 75% angka kematian ibu tahun 1990 dan 2015, serta adanya akses universal atas kesehatan reproduksi.

Oleh karena itu fokus peringatan Hari Kependudukan Dunia Tahun 2007 adalah Men as Partner in Materbal Health (laki-laki sebagai partner dalam urusan kesehatan ibu).

Dasar pemikirannya, laki-laki harus ikut berperan dan dilibatkan dalam mendukung strategi kesehatan ibu.

Pengembangannya melalui ''Gerakan Sayang Ibu'', yaitu gerakan yang dilaksanakan oleh masyarakat bekerja sama dengan pemerintah untuk peningkatan perbaikan kualitas hidup perempuan melalui berbagai kegiatan yang mempunyai dampak terhadap upaya penurunan angka kematian ibu dan kematian bayi.

Pendekatan programnya melalui program Suami Siap, Antar, Jaga (Suami Siaga), dengan memperhatikan prinsip kemitraan gender yang harmonis dan pemberdayaan perempuan, ibu hamil dan keluarga.

Tujuannya adalah meningkatkan perhatian para suami dan keluarga untuk memahami dan mengambil peran yang lebih aktif dalam memberikan perhatian dan kasih sayang pada istrinya, terutama saat sebelum kehamilan, selama kehamilan, saat persalinan dan sesudah persalinan.

Ini penting dilakukan mengingat beberapa penyebab tidak langsung kematian ibu adalah terlambat mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan, terlambat mencapai fasilitas kesehatan dan terlambat mendapatkan pertolongan di fasilitas kesehatan. (60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA