logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 25 Juli 2007 NASIONAL
Line

Pernah Dibayar Sabun Mandi

LINGGAR Arga Kristian tak peduli, ketika ratusan orang mendatangi rumahnya di Taman Borobudur Utara IX/8 RT 7 RW 10 Kelurahan Kembangarum, Kecamatan Semarang Barat. Bocah berusia tiga tahun yang akrab dipanggil Arga itu, berlarian riang gembira bersama te-man-temannya mengitari ru-mah semipermanen berukuran 10x10 meter itu.

Dia tak memahami, keda-tangan orang-orang itu untuk menghadiri pemakaman ayahnya, Totok Dwi Yuli Pra-tomo (42), korban pembunuhan pada Senin (23/7), di perbatasan Desa Cranggang dan Desa Kuwukan, Keca-matan Dawe, Kudus.

Keceriaan Arga sangat kontras bila dibandingkan dengan Ibunya, Wahyu-ning-sih (41), serta kedua kakaknya, Anggie Wahyudianto (21) dan Selvi Mega Theresia (16).

Kedukaan mendalam terlihat dari raut muka dan isak tangis mereka dari kerumunan pelayat.

Bagaimana tidak, pria ke-lahiran Semarang, 22 Juli 1966, yang menjadi tulang punggung keluarga itu kini telah pergi dan tak akan kembali.

''Saya tidak tahu mau bagaimana menghadapi hidup tanpa Mas Totok. Apalagi, Selvi (anak kedua-Red) baru saja masuk SMA St Louis Semarang. Bagaimana saya akan mampu membiayai sekolahnya?'' kata Wahyu-ningsih, sembari mengusap air matanya.

Dijelaskan, Totok mulai bekerja sebagai sopir di taksi Satria Semarang pada 26 Juni 2007.

Sebelumnya, korban bekerja sebagai sopir angkota jurusan Johar-Kalipancur.

''Karena penghasilan sebagai sopir angkota sedikit, Mas Totok melamar menjadi sopir taksi. Besarnya biaya sekolah yang dibutuhkan Selvi mendorong Mas Totok untuk mencari penghasilan lebih,'' ungkap wanita yang sehari-harinya bekerja sebagai juru masak pocokan.

Rumah separuh tembok dan separuh berdinding kayu tempat tinggal korban terbagi dan dihuni tiga keluarga. Dua lainnya yaitu mertua korban, Sutimah, dan kakak iparnya, Sumardi. Ruangannya yang digunakan keluarga Totok hanya berukuran 3X10 meter, terdiri atas satu kamar dan ruang tamu. Untuk tidur, ke-dua anaknya secara bergantian menumpang di ruang Sutimah dan Sumardi.

Di kampungnya, Totok dikenal sebagai orang yang baik dan suka membantu te-tangganya.

''Dua minggu lalu, Mas Totok malah pernah dibayar sabun mandi oleh penumpangnya. Katanya, penum-pang itu kehabisan uang dan yang dibawa hanya sabun. Anehnya, dia tidak marah atau mengeluh,'' kata Wahyu-ningsih.

Istri korban juga menyimpan sejumlah KTP dan SIM yang dijadikan jaminan pe-numpang taksi karena tidak mampu membayar ongkos.

Firasat Buruk

Pada Senin (23/7) sekitar pukul 13.00, Anggie menceritakan mimpi buruk kepada ibunya. ''Siang itu, saya bermimpi diajari bapak menyetir mobil. Di tengah perjalanan, kami dicegat dua orang yang hendak merampok. Karena melawan, bapak ditusuk oleh kedua orang itu. Lalu saya terbangun dan menceritakan mimpi itu kepada Ibu dan nenek,'' kata Anggie.

Bukannya mendengarkan cerita tersebut, Wahyuningsih malahan memarahi anaknya. ''Lha wong mimpi kok di siang hari, mana ada orang percaya? Tapi sekarang saya tahu, kalau mimpi Anggie benar-benar menjadi kenyataan,'' kata Wahyu-ningsih.

Keluarga korban menerima berita duka kali pertama dari pihak armada taksi Satria Semarang, pada Senin (23/7) pukul 20.00. Totok dima-kamkan kemarin, pukul 13.00, di Tempat Pemakaman Manyaran, Semarang.

Sebelumnya, ratusan je-maat Gereja Alfa Omega melakukan sembayangan di rumah korban. (Adi Prianggoro-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA