| Rabu, 25 Juli 2007 | NASIONAL |
Pertemuan PDI-P dan GolkarPramono: Tidak Ubah Posisi Apa punPALEMBANG- Bertemunya pimpinan dan kader PDI Perjuangan dengan Partai Golkar, baik di Medan maupun di Palembang, lantaran negara ini mengalami erosi nasionalisme. Mereka juga merapatkan barisan untuk otokritik. "Erosi kebangsaan. Erosi nasionalisme. Ini masalah besar. Ini ma-salah prinsip. Ini menjadi masalah besar dua partai politik ini," kata Ketua Dewan Pembina DPP Partai Golkar Surya Paloh saat memberikan pidato politik di hadapan 8.000 kader PDI-P dan Partai Golkar di Gedung Olahraga (GOR), Palembang, Selasa (24/07). Acara itu dihadiri pula Ketua De-wan Pertim-bangan Pusat DPP PDI-P Taufik Kie-mas, serta Ketua DPP kedua partai. Jika parpol lain menilai hal itu bukan masalah besar, lanjutnya, tidak apa-apa. "Tapi tidak bagi PDI-P dan Golkar. Ini masalah besar," katanya yang mendapat giliran pertama dalam memberi-kan orasi politik. Akibatnya, posisi bangsa Indonesia saat ini tidak lagi duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan bangsa lain. Selain itu, karakter bangsa ini juga sudah berubah. Tidak lagi ramah tamah, gotong-royong, jujur. Karakter bangsa ini menjadi sangat individualistik. Alasan dari pertemuan PDI-P dan Golkar lantaran kondisi parpol di Indonesia sudah ''lampu kuning'' atau kritis. "Ka-rena apa? Karena harapan dan keinginan masyarakat belum mampu dipenuhi partai politik. Ini berbahaya." Berlanjut di Jabar Pertemuan silaturahmi kebangsaan dua partai besar itu akan berlanjut di Jawa Barat. "Sekaligus temu wicara dengan kelompok petani," katanya. Sekjen DPP PDI-P Pramono Anung juga mengharapkan ada pertemuan lanjutan temu wicara di Jawa Barat dan di Jawa Timur. Ia juga menyatakan, silaturahmi ini tidak akan mengubah posisi apapun dari PDI-P dan Partai Gol-kar. Bagaimanapun Golkar sebagai partai pendukung pemerintah tetap akan memberikan dukungan kepada pemerintah sampai akhir masa pemerintahan. "Demikian juga dengan PDI-P sebagai partai oposisi, kami akan konsisten untuk menjadi oposisi sampai dengan akhir pemerintahan," katanya. (dtc,ant-60) |