| Rabu, 25 Juli 2007 | NASIONAL |
Anak Ke-7 Meninggal dalam RahimSANI (3) hanya bisa menangis. Tak henti-hentinya anak Asmuni (40) warga Beran, Desa Kanigoro, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang memanggil nama ibunya. Bapaknya kehilangan cara untuk merayu anak ragilnya dari enam saudara itu. Sepertinya dia belum siap ditinggal istri tercintanya, Aslamiyah (35), yang tewas Senin (23/7) karena penyakit misterius. Delapan warga lainnya juga mengalami nasib serupa, sedangkan 23 lainnya masih dirawat intensif. Aslamiyah meninggal bersama calon anak ketujuhnya yang berusia tujuh bulan. Musibah telah mengubah segala, keinginan untuk menimang sang bayi bagi Asmuni tinggal impian. Kesedihan itu semakin menyelimutinya karena istri tercinta sebagai pengasuh keenam anaknya sebagian masih butuh sentuhan kasih sayang bunda. "Saya sebenarnya sudah mengikhlaskannya. Ketika anak saya menangis memanggil ibunya, hati ini terasa tersayat ingat pada sang istri,"katanya. Anak pertamanya Nurjanah (20), kedua Khoirun (15) dan ketiga Saroh (12), menurutnya sudah tergolong besar. Diharapkan bisa menggantikan posisi ibunya dan merawat adik-adiknya yang masih kecil, Sani (3) Azizah (6) dan Baiyah (9). "Saudara-saudara saya juga ikut membantu merawat anak-anak. Kehadiran mereka selau menjadikan beban ini terasa ringan,"katanya. Pesan Terakhir Sebelum musibah itu, dua hari sebelum kejadian, istrinya minta agar merawat anak-anaknya dengan kasih sayang, jangan sampai membentak atau memarahinya. Dia bingung dengan pesan yang tak biasanya dari istrinya itu. "Mungkin itu sebagai tanda dan ungkapan terakhir sebelum meninggalkan keluarga selama-selamanya,"katanya. Dia pun menceritakan detik-detik saat istrinya kejang-kejang. Pagi itu istrinya mengaku kepalanya pusing, saat menuju ke dapur untuk memasak air. Belum sempat menyelesaikan pekerjaan itu, tiba-tiba terjatuh di dapur. Anaknya yang membuntutinya menagis dan menjerit-jerit. Melihat kondisi seperti itu dia bermaksud memanggil bidan untuk memeriksa kesehatan istrinya. Belum jauh dia meninggalkan rumahnya, di rumah tetangganya juga terdengar jeritan. Beberapa warga lainnya juga terlihat lari tergopoh-gopoh. "Saya hanya bisa berdiri lemas di jalan ketika mendengar jeritan yang berasal dari beberapa rumah dan melihat orang-orang berlarian entah ke mana tujuannya,"katanya. Usaha untuk menyelamatkan istrinya berakhir dengan duka. Di ruang ICU RS Muntilan, istrinya menghembuskan nafas terakhirnya. Dia mengaku belum menyiapkan nama untuk anak ketujuhnya, tapi sudah memesan nama yang baik kepada orang lebih pandai di desanya. "Biarlah anak saya yang belum punya nama itu dikubur bersama ibunya," katanya sambil meneteskan air mata. Surami (37) korban meninggal lainnya, saat dirawat di Puskesmas Grabag Senin (23/7) sore kondisinya membaik. Tapi tak lama kemudian dia kejang-kejang dan matanya terpejam. Tim medis berusaha memberikan selang oksigen, tapi kondisinya semakin kritis dan akhirnya koma. Saat itu juga dia dibawa ke RSU Muntilan. Namun dini hari kemarin dia menghembuskan nafas terakhir. Surame (34) salah seorang keluarga korban, mengaku tak menyangka saudaranya mengalami kejadian seperti itu. Sebelumnya kondisinya juga membaik saat dirawat di Puskesmas. "Sebelum koma dia hanya terdiam dan matanya terpejam. Namun mengucapkan kata terakhir agar memperhatikan sekolah Ridwan anaknya yang paling bontot,"katanya. Saat jenazah Surami sampai ke makam, kuburannya belum selesai digali. Terpaksa menunggu sekitar 20 menit dan jenazah baru dimasukkan liang lahat. Keterlambatan penggalian kuburan diakibatkan kurangnya tenaga penggali kubur. Puluhan warga dari dusun lain bahu-membahu ikut membantu agar penggalian cepat selesai.(Sholahuddin al-Ahmed-77) |