| Rabu, 25 Juli 2007 | SEMARANG |
Delapan Kecamatan Endemis Antraks Divaksin
UNGARAN - Ternak besar di delapan kecamatan di Kabupaten Semarang yang masuk dalam kategori endemis antraks mulai Senin (23/ 7) divaksin petugas Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan). Sebanyak 11.500 dosis antraks disiapkan. Jumlah tersebut berasal dari APBD II 10.000 dosis dan APBN 1.500 dosis. Delapan kecamatan yang masuk endemis antraks adalah Tengaran, Kaliwungu, Susukan, Suruh, Pabelan, Getasan, Bancak, dan Bringin. Kasus penyakit ternak mematikan di kabupaten ini berawal 1990 di PT Nandi Amerta Agung (NAA) Tengaran. Belasan sapi mati terserang virus ganas tersebut. ''Ribuan sapi dibakar secara massal di dekat kandang PT NAA. Virus antraks tetap diwaspadai hingga 40 tahun. Pelaksanaan vaksin tahun ini mulai 23 Juli hingga 30 Agustus,'' kata Kepala Disnakan Ir Soehardjo DS MM melalui Kabid Keswan dokter hewan Bambang Sutrisno MM, Selasa (24/ 7). Mengawali pemberian vaksin ini pihak Disnakan mengambil lokasi dari Kecamatan Tengaran. Di kecamatan ini ada empat desa yakni Patemon, Butuh, Karangduren, dan Tengaran yang mendapat vaksin. Selanjutnya di Kecamatan Kaliwungu mulai 30 Juli di Desa Jetis dan Pager. Di Susukan mulai 6 Agustus dan Suruh 8 Agustus. Adapun empat kecamatan lainnya, Pabelan, Getasan, Bancak, dan Bringin mendapat jatah sejak 20 hingga 30 Agustus. ''Kami berharap untuk memudahkan pemberian vaksin, warga di delapan kecamatan melalui pamong desanya bersiap-siap. Sapi yang akan divaksin sudah disiapkan di pos tertentu,'' pinta Bambang Sutrisno. Lebih Kreatif Ia mengatakan, jumlah dosis vaksin antraks di daerah ini dengan populasi sapi, dinilai sangat kurang memenuhi. Perbandingannya, 11.500 dosis vaksin untuk mencukupi sapi di delapan kecamatan yang berjumlah 30.000 ekor. ''Memang sangat kurang, tapi yang terpenting daerah di sekitar endemis atau munculnya antraks yaitu di sekitar PT NAA Tengaran dapat dijangkau,'' kata Bambang Sutrisno. Ia meminta agar di kemarau ini diupayakan kandang terjaga bersih dan jika ada angin besar, kandang harus ditutup untuk melindungi ternak besar dari segala kemungkinan penyakit hewan. Sementara itu dalam menghadapi kemarau peternak sapi pedaging dan sapi perah harus lebih kreatif mendapatkan air dan rumput. Melalui media massa pihaknya mengetahui ada sebagian peternak di Ungaran Timur yang mulai cemas kekurangan air dan ternaknya terancam kurus. ''Tapi sampai sekarang belum ada laporan masuk. Kami berharap peternak tetap menjaga pemberian konsentrat untuk menjaga kondisi sapi,'' ucap Bambang. Menurut dia, sapi pedaging bisa diupayakan dengan jerami tapi sapi perah harus tersedia rumput basah. ''Peternak sapi perah Getasan biasanya mencari rumput di Rawapening dan Banyubiru,'' terangnya. (H14-16) |