logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 25 Juli 2007 SEMARANG
Line

Batik Semarang di Tropenmuseum Amsterdam

PERNAHKAH Anda mengenal motif batik Tugu Muda Kekiteran Sulur, Lawang Sewu, Asem Arang atau Blekok Srondol? Itu adalah sebagian nama motif batik khas Semarang hasil ikhtiar sanggar Batik Semarang 16. Motif batik yang menggunakan ikon-ikon khas kota lumpia tersebut menjadi tengara keberadaan batik Semarang.

Setidaknya itulah yang muncul dalam Seminar dan Launching Pengembangan dan Pelestarian Batik Semarang yang diadakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota, di Hotel Pandanaran, kemarin. Seminar itu menghadirkan dosen Fakultas Sastra Undip Dr Dewi Yuliati MA, dosen Jurusan Sejarah dan Arkeologi Universitas Negeri Semarang (Unnes) Dr Ufi Saraswati MHum, dan wartawan budaya Suara Merdeka Saroni Asikin.

Saroni berpendapat, menyepakati istilah batik Semarangan justru lebih penting, ketimbang membincangkan isu mengenai ''yang manakah batik Semarang''. Menurutnya, meski keberadaan motif Semarang diragukan, jejak-jejak aktivitas perbatikan di kota ini telah ada sejak dulu. Salah satunya disebutkan, ketika seorang peneliti tekstil di Asia Tenggara Robyn Maxwell menjumpai sarung di Tropenmuseum Amsterdam yang dibuat di Semarang.

''Faktor loka (tempat) perbatikan bisa diikuti pelabelan. Seperti halnya, batik yang dibuat di Lasem bisa disebut Batik Lasem, maka batik yang diproduksi di Semarang juga bisa disebut Batik Semarang,'' ujar dia.

Dewi Yuliati menuturkan, ciri-ciri motif batik Semarang sebenarnya tak seberapa jauh dari motif batik di kota-kota pesisir utara Pulau Jawa. Disebutkan karakter khas itu biasanya diidentifikasi sebagai motif yang bebas alias tak terikat aturan tertentu, memiliki ragam hias flora dan fauna, ragam hias besar dan tidak rinci, serta warna cerah dan tidak mencolok.

Dia menyebutkan, warna dasar batik misalnya, Batik Semarangan cenderung memilih dasar oranye kemerahan, Demak berwarna cokelat muda, dan Kudus menonjol dengan dasar biru. Motif batik, imbuh dia, umumnya juga menampilkan fauna yang lebih menonjol.

Di sisi lain, Ufi menilai, karakter warna batik Semarang cenderung berbeda dengan umumnya batik dari kota lain. Warna kain yang diproduksi di kota ini cenderung terang.

YMT Kepala Disperindag Kota, Bambang Purnomo, mengatakan keberadaan sejumlah perajin saat ini mendukung pengembangan batik Semarangan di masa depan. Setidaknya sudah terdapat 5 perajin yang aktif memproduksi batik, yaitu Umi S di daerah Meteseh, Iin Windi (Kp Batik Gendong), Suci Yuliati (Jl Borobudur, Manyaran), Siti Kholifah (Banyumanik), dan Ratri Septina (Jl Solo). Sementara, pelatihan-pelatihan membatik juga kian bertambah di beberapa tempat.

Dukungan Pemkot dalam pengembangan awal batik khas Semarang ini mengacu pada proses produksi dulu. Batik khas Semarang didasarkan pada tempat pembuatannya atau penggunaan ikon kota lumpia. Ke depan, pengembangan akan lebih diarahkan pada penerapan motif baku batik Semarangan. Untuk mewujudkannya masih memerlukan penelitian lebih mendalam. (Renjani PS, Moh Anhar-62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA