| Rabu, 25 Juli 2007 | SEMARANG |
Pelajaran Pluralisme di ''Republik Menthog''LEBIH dari lima ratus tahun silam, Mpu Tantular telah memberikan pelajaran tentang pluralisme. Dalam kitab Sutasoma, pujangga besar yang hidup pada zaman Majapahit itu, menulis sesanti ''Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.'' Persoalannya, lima abad sesudah itu, sudahkah kesadaran tentang kemajemukan tersebut tumbuh subur? Bagi dalang wayang dongeng, Ki Trontong Sadewa, persoalan multikuralisme masih amat kontekstual untuk diperbincangkan. Ancaman separatisme, pertikaian antarsaudara, dan potensi perpecahan di sejumlah daerah, menurut dia, merupakan indikasi masih tipisnya kesadaran pada perbedaan. Dalang yang juga ketua Komite Seni Tradisi Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) itu, punya trik untuk mengingatkan arti penting pluralisme. Minggu (22/7) malam lalu, dia mengemas persoalan itu dalam pertunjukan wayang dongeng yang memikat. Pesan itu dikemasnya dalam lakon Menthog Mbalela, yang dimainkan di gazebo Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unnes, kampus Sekaran, Gunungpati. ''Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa, Bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa,'' lantun Ki Trontong, menyitir bait kelima dari pupuh 139 Sutasoma tersebut. Pupuh itu membabarkan ajaran toleransi antara pemeluk Hindu-Syiwa dan Buddha, pada zaman Majapahit, sekitar abad ke-14 Masehi. Makna ajaran itu masih amat kontekstual untuk masa sekarang, tidak saja antarumat beragama, melainkan juga antarsuku, antargolongan, serta antarkelompok yang berbeda aspirasi dan kepentingan. Tak perlu khawatir, pelajaran tentang pluralisme itu akan menjadi kuliah yang menjemukan. Fabel Seperti biasa, wayang dongeng mengusung dunia fabel. Diceritakan, Menthog, mantan penasihat spiritual Prabu Macan Gembong dari Hutan Brotosejati menyimpan niat makar. Menthog hendak melengserkan Macan Gembong, yang mulai menua. Dia hendak mendirikan Republik Menthog, yang hanya boleh didiami dengan bangsa unggas, seperti dirinya.''Prabu Macan Gembong sudah saatnya lengser, turun dari singgasana kekuasaan. Dan hanya aku, Menthog Almajenun, yang pantas menggantikannya,'' katanya. Lantas, dia memperdaya Wedus Prucul, kambing soliter yang pernah dikecewakan oleh Macan Gembong. Kambing itu dijanjikan kedudukan, dengan syarat bisa menangkap-penjarakan Macan. Tapi, niat itu tak kesampaian, karena raja hutan terburu diselamatkan Kancil. Walhasil, niat Menthog untuk menjadikan Hutan Brotosejati sebagai Republik Menthog, dengan penghuni homogen dari jenis burung-burungan, gagal total. Hutan itu tetap menjadi wilayah dengan kebhinnekaan, seperti tertuang dalam Sutasoma, bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa. (Achiar M Permana-62) |