| Rabu, 25 Juli 2007 | KEDU & DIY |
Tenaga Medis di UGD Masih TerbatasKULONPROGO - Jumlah dan kemampuan tenaga profesional penanganan pasien yang masuk dalam unit gawat darurat (UGD) masih sangat terbatas. Kondisi ini diperparah dengan minimnya sarana dan peralatan kerja yang masih jauh dari standar pelayanan kesehatan. Dalam upaya meningkatkan pelayanan terhadap pasien di UGD, belum lama ini (21-22/7), digelar pelatihan Ambulans Gawat Darurat 118, di Wisma Waduk Sermo, Kecamatan Kokap. Direktur RSUD Wates dokter Bambang Haryatno Mkes mengungkapkan hal itu di sela-sela kegiatan pelatihan. "Pelatihan seperti ini sangat penting. Kegiatan ini baru pertama kali digelar di Yogyakarta," tuturnya. Lebih lanjut dijelaskan, melalui kegiatan tersebut para peserta setidaknya dapat menangani korban dan pasien sesuai dengan standar pelayanan medis yang berlaku. Pelatihan yang dilaksanakan oleh Perhimpunan Rumah Sakit Cabang Yogyakarta, dalam hal ini Badan Kerja Sama Penanganan Gawat Darurat Medik tergolong menarik minat sejumlah tenaga medis. Hal itu dibuktikan dengan jumlah peserta yang berasal dari 23 rumah sakit di DIY. Masing-masing rumah sakit mengirimkan empat orang yang terdiri atas dokter UGD, penanggung jawab sarana, perawat, dan sopir ambulans. Kegiatan ini juga diikuti 24 mahasiswa kedokteran asing. Aplikatif Diungkapkan Bambang, materi pelatihan yang diberikan sangat beragam. Mulai dari standar fisik kendaraan dan sarana prasarana ambulans gawat darurat, protap sebelum, selama, dan sesudah menerima panggilan. Terhadap penanganan pasien, mulai dari mengangkat pasien, manajemen sirkulasi, resusitasi jantung, paru, stabilisasi dan transportasi, sampai dengan koordinasi antarkru gawat darurat. Bupati Kulonprogo Toyo S Dipo yang membuka pelatihan tersebut mengatakan, pertolongan kepada pasien gawat darurat banyak bergantung pada penanganan pertama saat korban ditemukan. Menurut dia, prinsip time saving is live seharusnya tidak sekadar menjadi wacana, tapi harus aplikatif dalam pelayanan kesehatan sehari-hari. Dia menuturkan, pelayanan pertama di unit gawat darurat sering menjadi penilaian citra rumah sakit. Tak heran jika beberapa rumah sakit yang sudah maju, pasien yang masuk UGD langsung ditangani dengan cepat dan tepat. "Bagi Kulonprogo, pelatihan seperti ini sangat dibutuhkan, karena sering terjadi bencana tanah longsor dan banjir," tandasnya. (H43-70) |