| Rabu, 18 Juli 2007 | WACANA |
Kritik yang Tak Terucap
AKHIR-AKHIR ini kasus bunuh diri kembali marak terjadi dan cenderung mengalami peningkatan. Modusnya bervariasi, seperti meloncat dari gedung tinggi, minum racun, menggantung leher dengan tambang, sampai yang paling mengerikan membakar dirinya sendiri hingga gosong. Dilihat dari tingkat usia, bunuh diri dilakukan oleh anak-anak, remaja, hingga lansia. Status pelakunya dari kalangan orang kaya, miskin, rakyat jelata, sampai kalangan terpelajar. Hingga saat ini bunuh diri masih menjadi misteri yang belum terpecahkan. Belum ada satu pun teori yang dapat menjelaskannya secara tuntas. Penjelasannya selalu kasuistik berkait dengan kondisi dan budaya tertentu. Misalnya, dalam tradisi dan ajaran agama, tindakan mengakhiri hidup sangat dilarang. Orang yang bunuh diri berarti lari dari rahmat Tuhan. Tetapi dalam beberapa tradisi kuno, seperti di Jepang, ada ajaran harakiri yang dianjurkan dengan tujuan untuk menjaga kehormatan komunitasnya. Faktor Kemiskinan Di negara-negara maju yang tergolong welfare state, bunuh diri kebanyakan dilakukan karena depresi akibat dinamika sosial yang cepat. Sementara itu di Indonesia, kasus bunuh diri lebih banyak dikarenakan oleh faktor kemiskinan. Impitan ekonomi yang akut membuat orang miskin tidak sanggup melakukan upaya-upaya untuk mempertahankan hak hidupnnya. Kemiskinan juga semakin menjauhkan mereka dari akses dan hak-hak ekonomi yang seharusnya diperoleh. Lebih dari itu, kebijakan pemerintah sering tidak memihak kepada rakyat, dan bahkan malah menambah penderitaan kaum miskin. Dalam waktu bersamaan, tekanan kepada rakyat miskin juga datang dari kultur yang sedang mendominasi kehidupan saat ini. Kultur kehidupan kita ditandai oleh semakin pudarnya nilai-nilai kemanusiaan akibat pengaruh sistem produksi kapitalisme global (Marcuse, One Dimensional Man, 1986). Tekanan terjadi akibat orientasi hidup berlebihan pada materialisme dan budaya konsumtif yang kuat mencengkram serta meminggirkan kepekaan terhadap kesengsaraan kaum miskin. Ketika rakyat miskin sebagai kelompok yang tersubordinasi tidak sanggup mengikuti orientasi hidup kelompok dominan, dan secara ekonomi terus tertindas, maka lahirlah hasrat untuk meninggalkan realitas kehidupan.Masyarakat yang di dalamnya terjadi tekanan, memunculkan masalah sosial-ekonomi yang kompleks, sekaligus menjadi lahan subur bagi tindakan patologis. Kematian Nurani Dalam konteks itu, sebenarnya tindakan bunuh diri merupakan kritik yang tidak sempat terucap terhadap kondisi masyarakat yang timpang. Cara itulah, yang dicontohkan Mahatma Gandhi. Ketika berbagai upaya dilakukan untuk mencegah konflik antara Hindu dan muslim gagal, Gandhi mogok makan sampai mati, meski akhirnya jiwanya tertolong. Bunuh diri juga pertanda bahwa masyarakat sedang sakit parah. Masyarakat membiarkan, atau melestarikan kesenjangan sehingga sebagian anggotanya tidak mendapat kesempatan untuk menuntut hak-haknya. Tindakan orang-orang miskin mengakhiri hidupnya adalah bentuk protes keras terhadap tatanan yang dinilai tidak bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi. Bunuh diri menjadi jalan satu-satunya untuk menyelesaikan beban hidup yang paling sempurna. Bila ternyata persoalan yang dihadapi tidak bisa lagi diselesaikan dengan perangkat dan nalar kehidupan, harus dituntaskan dengan kematian.Meningkatnya kasus bunuh diri karena faktor impitan ekonomi, mestinya menjadi cambuk bagi kita untuk lebih serius memerangi kemiskinan. Pemerintah harus merevisi kebijakan yang nyata-nyata membuat rakyat miskin semakin sengsara.Lembaga dan tokoh agama segera mengakhiri teologi yang mandul, dan menggantikannya dengan teologi praksis-filantropis. Namun sayangnya, pemerintah seperti tidak berdaya dan lepas tangan terhadap masalah itu. Selebihnya, kebanyakan di antara kita malah mengatakan, pelaku bunuh diri itu kehilangan akal sehat, tidak ada semangat untuk bertahan hidup.Para agamawan seolah ikut mengutuk: "Mereka itu orang-orang putus asa, dan menentang takdir Tuhan sehingga di akhirat nanti masuk neraka." Sikap-sikap sinis itu menandakan absurditas kehidupan masyarakat kita. Sadar atau tidak, bunuh diri yang makin "diminati" itu sesungguhnya cermin kematian nurani kita yang secara fisik masih hidup segar bugar. Jangan-jangan nurani kita ikut terkubur dalam-dalam bersama jasad anak-anak yang mati karena malu tidak sanggup membayar uang sekolah. Begitu juga, martabat kemanusiaan kita ikut jatuh dan luluh lantak ketika si miskin terjun bebas dari ketinggian gedung bertingkat.Bunuh diri sejatinya sebuah ironi dalam kehidupan, namun sinyal itu tidak tertangkap oleh nurani kita yang dikenal sangat peka dan religius ini.(68) - Mutohharun Jinan, kandidat doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, peneliti Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS Solo. |