| Rabu, 18 Juli 2007 | WACANA |
TAJUK RENCANAPencekalan Pesawat RI Makin SeriusKetika Uni Eropa melarang maskapai penerbangan Indonesia melintas di wilayahnya kita merasa terpukul kendati tak berdampak langsung. Hal itu mengingat tidak ada lagi pesawat kita yang memiliki rute penerbangan ke sana. Dampak tidak langsung tetap ada yakni selain menurunkan citra juga dapat mengurangi jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia. Maklumlah untuk transportasi udara domestik masih harus menggunakan maskapai penerbangan kita. Tetapi sekarang ancaman semakin serius ketika Arab Saudi juga mengikuti Uni Eropa. Dampaknya akan langsung dan sangat berat dirasakan. Yang paling terpukul adalah Garuda Indonesia, maskapai penerbangan yang terbaik di negeri ini. Bukankah rute ke Arab Saudi termasuk gemuk dan basah. Berapa ribu orang per ta-hun yang diangkut ke sana baik sebagai TKI ataupun jemaah umrah dan haji. Garuda terbang delapan kali seminggu ke Jeddah dan Riyadh. Jemaah haji yang diangkut Garuda saja mencapai 103 ribu orang pada setiap musim haji. Garuda harus berbagi dengan maskapai penerbangan negara lain khususnya Saudi Arabian Airlines untuk mengangkut 200 ribu orang yang pergi haji. Apa jadinya kalau kebijakan itu diberlakukan? Tak terbayangkan akibatnya. Tampaknya Arab Saudi hanya mengikuti Uni Eropa. Tetapi sungguh disayangkan kalau tidak dibicarakan terlebih dahulu dengan pihak Indonesia mengingat hubungan baik kedua negara. Keputusan itu bukan hanya memukul melainkan juga memojokkan kita. Wajar bila orang kemudian berprasangka buruk yakni jangan-jangan ada motif lain di belakangnya yakni persaingan bisnis. Karena pasar yang dimiliki Garuda Indonesia demikian besar dan bernilai jutaan dolar AS. Kalau harus dialihkan maka hal itu tentu akan menjadi peluang bisnis yang tidak kecil bagi maskapai penerbangan asing khususnya Saudi Arabian Airlines. Atau seperti dikatakan pengamat transportasi Universitas Trisakti Martono, bukan tidak mungkin ada persaingan bisnis yang lebih besar dan yang dituju adalah pesawat Boeing yang banyak dipergunakan maskapai penerbagan kita. Seperti diketahui di dunia, persaingan antara Airbus dan Boeing semakin tajam. Terlepas dari apapun latar belakang dan penyebabnya yang jelas kebijakan itu harus dilawan dalam arti segera diklarifikasi agar dicabut. Apalagi apa yang dilakukan Uni Eropa sangat sepihak dan bisa jadi hanya didasarkan atas data sekunder. Bukan dari penelitian secara langsung. Terlebih lagi Arab Saudi yang hanya ikut-ikutan. Pemerintah perlu segera membentuk tim lobi untuk memberi klarifikasi dan melakukan pembelaaan baik kepada Uni Eropa maupun Arab Saudi. Terhadap Arab Saudi kita lebih optimistik akan berhasil mengingat ada kaitan dan kepentingan erat dengan Indonesia. Tetapi jelas hal itu tidak begitu saja bisa diandalkan tanpa ada lobi yang intensif. Seharusnya mereka lebih fair dan terbuka. Apalagi Garuda Indonesia memiliki track record nya yang baik selama. Jangan hanya mengacu pada ketentuan yang diputuskan Uni Eropa. Sebelum ada semua itu bukankah relatif tak ada masalah atau komplain. Maka janganlah keputusannya sepihak. Sementara itu kita perlu mempercepat pembenahan maskapai penerbangan untuk lebih dapat memberikan jaminan keselamatan. Tidak ada kata yang lebih penting selain safety. Dan itu ada ketentuan yang harus diikuti berdasarkan standarisasi yang berlaku secara internasional. Bisa jadi kita agak teledor baik menyangkut regulasi maupun regulator serta pengawasannya. Bukan tidak mungkin persaingan antarmaskapai penerbangan domestik yang makin tidak sehat selama ini telah mengorbankan faktor-faktor yang menyangkut keselamatan. Dan itu terbukti dengan meningkatnya angka kecelakaan pesawat terbang di Indonesia. |