logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 17 Juli 2007 SALA
Line

Hari Pertama MOS di Sekolah Plus

Pakai Topi Kertas, Mulut Harus Ngempeng

TAHUN ajaran baru, sudah resmi dimulai, kemarin (16/7). Banyak hal yang menarik dalam Masa Orientasi Sekolah (MOS), mulai dari siswa yang memakai topi terbuat dari kertas hingga mulutnya yang harus ngempeng dot, layaknya anak balita. Tujuannya, agar siswa baru tidak berisik selama pelaksanaan MOS.

Suasana tersebut terpampang jelas di SMPN 26 Surakarta atau sekolah yang ditunjuk Pemkot Surakarta sebagai penyelenggara sekolah plus. Sekolah yang memberikan fasilitas bagi siswa kurang mampu. Namun, meski dinyatakan sebagai sekolah plus, hampir tidak bisa dilihat mana yang tidak mampu dan mampu. Sebab, mereka berbaur menjadi satu lesehan di aula yang dulunya dijadikan pendapa rumah seorang patih Keraton Surakarta tersebut.

Menurut salah seorang anggota OSIS di sekolah tersebut, Sriyanto, para siswa baru yang wajahnya masih kekanak-kanakan tersebut diwajibkan memakai topi terbuat dari kertas dan dihias beraneka warna sebagai warna tersendiri. Bahkan, untuk mengantisipasi para siswa baru tidak berisik, para siswa yang masih mengenakan seragam merah putih tersebut harus ngempeng dot. Dengan harapan, siswa tersebut tidak berisik saat mendengarkan pemaparan dari guru pembimbing.

Sebab, kebiasaan siswa atau anak, kalau sudah berkumpul bukannya mendengarkan penjelasan tetapi berbicara sendiri-sendiri dan mencari kenalan baru.

Kepala SMPN 26 Surakarta, Ratna Purwaningtuti mengatakan, semua siswa baru akan melaksanakan kegiatan MOS selama tiga hari. Kegiatan secara umum diisi dengan pengenalan sekolah dan guru-guru yang nantinya akan mengajar di sekolah.

Dia menegaskan, tidak akan ada kekerasan atau kesulitan bagi siswa selama MOS dilaksnakan. Mengenai pernak-pernik bagi siswa baru hanyalah untuk mewarnai saja, bukan untuk membebani siswa. "Seperti tahun-tahun sebelumnya, semua siswa dikumpulkan di aula untuk mendapatkan penjelasan," ungkapnya.

Bentuk Kasih Sayang

Lain halnya MOS di sekolah dasar. Mereka tidak dikumpulkan selama berjam-jam di ruang kelas seperti anak SMP. Namun mereka hanya dikumpulkan sebentar lalu dipersilakan bermain sepuasnya dengan teman-teman mereka yang baru di halaman.

Di sisi lain, nampak puluhan orang tua berkumpul di depan kelas SDN Dukuhan Kerten, Laweyan. Sesekali mereka melihat anak-anak itu bermain dan ngobrol dengan teman-teman barunya. Usut punya usut mereka adalah para orang tua yang mengantar anaknya sekolah. Mereka khawatir, jika anaknya menangis dan tidak jadi sekolah.

"Mengantar anak saya, karena dia masih takut dan saya sendiri sebagai orang tua tidak tega meninggalkan sendiri," ujar Wati, salah seorang orang tua siswa.

Menurut dia, senakal apa pun anak dan sesibuk-sibuknya orang tua, tetap akan berusaha menunjukkan kasih sayang pada anak. Apalagi, sekolah berada di pinggir jalan raya, sehingga mereka khawatir terjadi sesuatu saat menyeberang.

Nampaknya momen hari pertama tahun ajaran baru 2007/2008 menjadi salah satu ajang bagi para orang tua untuk menunjukkan kasih sayangnya pada sang anak. Mereka rela meninggalkan pekerjaan mereka untuk si buah hati.

"Kapan lagi, kami-kami ini bisa melihat dan menunjukkan kasih sayang kepada anak. (Heru Susilo-42)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA