logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 17 Juli 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Hadiah Kartu Kredit

Bulan Mei 2007 saya ditawari kartu kredit Bank Niaga dengan iming-iming hadiah Nokia CDMA 2255/1255. Di brosur disebutkan hadiah berlaku bagi aplikasi Kartu Utama Gold Bank Niaga yang disetujui selama periode penawaran dan telah melakukan transaksi Rp.2 juta/bulan selama 3 bulan berturut-turut atau Rp 6 juta berlaku kumulatif.

Sedang hadiah Nokia CDMA 1255 berlaku bagi aplikasi Kartu Utama Classic dan Mini Bank Niaga yang disetujui selama periode penawaran dan telah melakukan transaksi Rp 1 juta/bulan selama 3 bulan berturut-turut atau Rp.3 juta berlaku kumulatif setelah kartu kredit diaktifkan. Aplikasi mini card saya dan gold card istri telah disetujui.

Bulan Mei saya transaksi Rp 3.100.000 dan istri Rp 6.276.799. Kemudian bulan Juni, saya telepon ke Niaga Access 14041 untuk menanyakan hadiahnya tetapi dijawab saya tidak berhak mendapat hadiah karena sudah ada 1.000 konsumen pertama yang memperoleh hadiah. Saya terkejut karena di brosur tidak mencantumkan ketentuan tersebut. Di brosur cuma dicantumkan, hadiah ponsel disesuaikan dengan persediaan sebanyak 1.000 ponsel dan Bank Niaga berhak mengganti dengan hadiah lain yang nilainya relatif sama bila tidak tersedia lagi.

Keterangan tersebut diartikan, hadiah ponsel hanya disediakan 1.000 unit dan bila sudah habis maka bank akan mengganti dengan hadiah lain yang nilainya relatif sama. Sama sekali tidak ada keterangan, hadiah hanya untuk 1.000 konsumen pertama.

Saya merasa "tertipu" dengan keterangan customer service yang bilang hal itu sebagai ''bahasa iklan". Daya imbau Bank Niaga lebih memperhatikan dan memperjelas "bahasa iklan"-nya dan untuk konsumen lebih berhati-hati dalam menanggapi penawaran hadiah dari kartu kredit.

Iwan Setiadi

Pekunden Tng 1082, Semarang

Gerakan Setia Pancasila

Masyarakat sepatutnya bersyukur dikarunia tanah yang subur makmur. Juga bersyukur pada pejuang yang telah gugur serta proklamator Bung Karno yang mengejawantahkan Pancasila sebagai asas bangsa guna mempersatukan wilayah dalam kesatuan bangsa yang utuh yaitu NKRI tanpa membedakan unsur adat, suku, agama, warna kulit, budaya, sosial, dan ekonomi.

Semua kemajemukan dirangkul jadi satu dalam perjuangan guna menegakkan bangsa tercinta ini. Namun disayangkan bila generasi penerus seakan melupakan asas bangsa. Bahkan banyak perorangan secara umum tiada mengerti kapan Pancasila terlahir.

Sayang, nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila seakan tergeser dengan perilaku kapitalis liberal baik dalam sektor sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, bahkan cenderung ke hal radikal. Mari kembali pada jati diri bangsa yang mengenal adab budi luhur, sopan santun, ramah, gotong royong dan terlebih damai.

Waspadalah dengan berbagai cara yang ingin menggeser asas ideologi bangsa kita. Perkuat dan perkokoh diri dengan rasa memiliki, seperjuangan, sepenanggungan dalam mengisi pembangunan menuju bangsa yang berketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan berkeadilan.

Dengan rasa kesatuan NKRI kita wajib mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Hindari segala bentuk penyelewengan yang merugikan masyarakat dengan rasa iman yang sudah tercantum pada sila pertama yaitu sebagai tolok ukur beriman, takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Betapa indah bila sejujurnya telah mengamalkan Pancasila sebagai dasar negara yang patut diperjuangkan dalam bentuk ideologi. Dengan rasa kebersamaan laksanakan Pancasila secara konsekuen dan benar. Mari wujudkan bangsa ini menjadi makmur, sejahtera, damai dan sentosa. Kita kembali pada kemajemukan bangsa yang besar tanpa membedakan bentuk adat, suku, agama, budaya, sosial.

Bukankah perbedaan itu hal yang indah. Kita tidak harus membedakan yang sudah sama dan tak harus menyamakan yang beda dalam satu kesamaan.Mari wujudkan dan lestarikan Pancasila sebagai dasar negara yang utuh. Renungkan dengan kebesaran bangsa yang majemuk dan berkaca diri apakah semua telah berperan melaksanakan pengamalan Pancasila secara utuh?.

Hal ini guna menjadikan kehidupan bangsa Indonesia yang adil dan beradab sesuai amanat UUD 1945 dan kembali pada jati diri bangsa yang berbudi luhur, santun, ramah, bergotong royong, dan damai. Sewajarnya budayakan kesetiaan pada Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia tercinta.

R Puji Prapto Ujiatmo

Lambur RT 1/RW I Mrebet, Purbalingga

***

Iklan BOS

Saya tertarik dengan iklan BOS yang akhir-akhir ini banyak ditayangkan di teve, Diceritakan tentang seorang anak kecil penjual kue yang tidak mampu sekolah tetapi punya semangat tinggi untuk belajar. Di akhir tayangan dikatakan oleh narator bahwa pendidikan juga tanggung jawab masyarakat. Saya sependapat dengan iklan tersebut.

Masukan untuk Depdiknas dan Depag sebagai pembuat iklan tersebut agar membuka rekening bagi masyarakat yang ingin menyumbangkan dananya demi kemajuan pendidikan. Kalau memang rekening sudah ada, alangkah baiknya dipubllikasikan.

Sari Kusfiadani

JI Setiabudi 174, Semarang

***

Historia Panta Rei

Buku The Invisible Government karya wartawan Ross Wise, memaparkan tentang rencana operasi rahasia CIA untuk menggulingkan para pemimpin dunia yang ogah tunduk pada Amerika. Yang menjadi target sasarannya antara lain Mohammad Mosaddeq PM Iran (1953), Patrice Lumumba tokoh Kongo (1961), Fidel Castro dari Cuba (1962) namun selamat.

John Kennedy, Presiden Amerika sendiri tewas ditembak (1963). Ada teori konspirasi yang mencurigai CIA, para jenderal di Pentagon dan kalangan industriwan senjata berada di balik kasus tersebut dan teori itu baru akan dipastikan pada 2038, ketika dokumen rahasia CIA dibuka untuk publik.

Presiden Soekarno lewat gerakan G30S/PKI 1965 hingga 11 Maret 1966 saat lahirnya Supersemar yang dikenal sebagai kudeta "merangkak" juga jadi sasaran. Termasuk Salvador Allende Presiden Cile (1973), pemimpin Libya Muammar Qadhafi (1986) tapi lolos dari maut dan terahkir Saddam Hussein dari Irak ditangkap 2003 meski baru dihukum mati 2006.

Maka berita disiarkannya dokurnen CIA setebal 493 halaman yang mengisahkan operasi "mengganyang" Lumumba, Castro dan Rafael Trojillo diktator Dominika 1967 (Suara Merdeka, 28/6/2007) sesuatu yang sudah diduga sebelumnya, tapi kini baru diungkap. Kisah ini pun pernah ditulis James Bamford wartawan investigasi dari TV ABC (Australian Broadcasting Commision) dalam buku Body of Secreet (2001).

Isinya rincian Operation Northwood yang di antaranya mengisahkan "pendongkelan" pemerintahan Castro pada 1961, tapi rencana itu ditolak mentah-mentah oleh Presiden Kennedy.

Belajar dari kasus-kasus ini harap maklum kalau beberapa kalangan lalu berspekulasi dan berprasangka bahwa teror bom yang bertubi-tubi menggoncang Indonesia, tak lain dan bukan adalah rekayasa Amerika lewat tangan piawai CIA.

Fenomena ini sebagai bagian dari "perang" peradaban pascabangkrutnya komunisme Uni Sovyet, maka giliran Islam dijadikan seteru Amerika berikutnya seperti yang tertulis dalam buku Clash Civilization karya Samuel Huntington. Dalam kaitan ini kita layak merenungkan kata-kata kaum cerdik pandai bahwa: tak ada sejarah yang berdiri sendiri.

Sebuah catatan sejarah harus ditarik ke belakang untuk dirangkaikan kepada jejak-jejak masa lalu, sebelum dituturkan kembali pada masa sekarang, maupun masa depan. Kalau toh ada yang berubah paling hanya pada sosok, format dan modelnya. Namun substansi, hakikat dan esensinya tetap sama.

Dalam kamus Amerika ada fatwa politik yang berbunyi: "Demi mempertahankan hegemoni dan supremasi di bidang ideologi, politik, militer, ekonomi dan budaya; haruslah menghalalkan segala cara". Ini setali tiga uang dengan doktrinnya Niccolo Machiavelli, filsuf politik asal ltalia.

Siapa tahu kelak, 25 tahun-30 tahun lagi akan dipublikasikan pula dokumen rahasia Amerika yang menguraikan pengakuan CIA sebagai aktor intelektual di balik Bom Bali I, Bom JW Marriot, Bom Kedutaan Australia, Bom Bali II dan lainnya. Seperti kata orang Yunani: Historia Panta Rei, sejarah akan berulang.

S Joko Wiyono

Sudagaran RT 5/RW I, Sukorejo

***

Starter Pack Kartu As

Saya penjual voucher isi ulang ponsel dan starter pack (kartu perdana). Tanggal 4 Juli 2007 saya mengaktifkan starter pack Kartu As MSISDN 0852 900 99713 dan coba registrasi ke 4444 tetapi gagal. Setelah saya cek pulsa *888# ternyata masa aktif dan masa tenggang sudah lewat sejak 30 Juni 2007.

Padahal dalam kemasannya tertera masa berlaku kartu s.d 31 Agustus 2007. Sebagai penjual saya merasa bertanggung jawab pada konsumen hingga terpaksa mengganti dengan MSISDN 0852 900 99718. Dari pengaktifan yang baru, saya mendapatkan kejadian serupa pula. Masa aktif dan masa tenggang sudah lewat tanggal 30 Juni 2007.

Dengan kejadian tersebut saya tidak bisa mencegah pelanggan yang akhirnya memilih ke operator lain yang notabene kompetitor Telkomsel. Hari berikutnya saya coba datang ke Grhapari Jl Pandanaran Semarang, ditemui customer service yang dengan ramah menyarankan untuk mengembalikan starter pack tersebut ke dealer.

Saya bingung kenapa hal seperti ini harus melalui dealer. Kalau tidak salah, dealer hanya mengurusi penjualan bukan pada teknologi. Terlebih lagi saya membeli dari pihak kedua. Jadi tidak tahu dealer mana yang mendistribusi kartu perdana tersebut. Terus terang saya dikecewakan Telkomsel.

Untuk menghindari komplain yang lain, saya putuskan menarik semua starter pack Kartu As dari etalase saya. Tulisan ini saya buat semata-mata karena kekecewaan, bukan untuk menjatuhkan citra perusahaan. Lebih baik lagi bila Telkomsel melihatnya sebagai kritik membangun untuk meningkatkan pelayanan.

PC Denny Agung Sadoyo

Jl Setiabudi 31, Semarang

***

Soal Mentari-ku Sayang

Sehubungan tulisan saya di Surat Pembaca 25 Juni 2007 mengenai "Mentari Pulsa Lokal Rp 50" yang tidak sesuai, pihak Indosat langsung memberi tanggapan dan mengklarifikasi ke rumah. Penjelasannya, program tersebut merupakan program khusus untuk nomor-nomor yang sudah terdaftar ke dalam "Mentari Hebat ber-Lima".

Penggunaan program ini hanya berlaku pada hari weekend yaitu Jumat, Sabtu dan minggu saja tidak berlaku pada hari-hari biasa. Komplain yang saya tulis karena kekurangpaham saya atas program tersebut karena saat itu saya melakukan transaksi di luar hari weekend. Terima kasih dan salut atas respon Indosat yang begitu cepat menanggapi keluhan pelanggan.

Siti Mushlikatun

Jl Baru 4, Salatiga

***

PT Taspen Semarang

Sebagai anak pensiunan janda, saya mengharap layanan terbaik dalam mengurus surat yang berbubungan dengan dana pensiunan bapak. Tetapi kenyataannya, saya selalu mendapat layanan kurang memuaskan. Tanggal 21 Juni 2007 saya mengantar ibu mengurus Karip (Kartu Identitas Pensiun) yang wajib dimiliki para pensiunan.

Ibu memang mendapatkan Karip tersebut tetapi layanannya mengecewakan. Ketika Ibu bertanya prosedur pengurusan Karip, petugas berkata: "Ibu minta Karip kan, ya sudah itu karipnya" dengan nada kurang senang dan wajah tidak ramah.

Kemudian tanggal 3 Juli 2007 berdasar info di harian ini tentang gaji ke-13, ibu sudah melengkapi persyaratan administrasinya. Sekali lagi ibu mendapatkan layanan yang kurang menyenangkan. Ketika ibu mendatangi seorang petugas, disarankan tanya ke petugas lain. Saat datang ke petugas kedua, dia nampak sibuk ber-SMS.

Ibu harus menunggu beberapa lama dan saat melayani pun wajahnya kurang ramah. Apakah layanan seperti ini memang seharusnya diterima oleh ibu sebagai pensiunan janda?. Secara kebetulan saat mengurus kedua hal tersebut petugas yang melayani sama.

Sayang PT Taspen Semarang memiliki petugas yang kurang kurang menyadari bahwa harus melayani pensiunan. Saran, ke depan agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik. Taspen Semarang, di mana senyum ramah petugasmu?

Desti Setiorini

Srondol Asri A-6, Semarang

***

Penerimaan Akpol

Saya tertarik membaca berita "Penerimaan Taruna Akpol Tak Penuhi Kuota", di mana hasil seleksi Akpol Jateng dari 663 lulusan S1 dan S2 yang mendaftar, hanya lolos 29 orang. Padahal kuota untuk Jateng 48 orang terdiri dari 41 taruna putra dan 8 putri. Kapolda Dody Sumantyawan menyatakan pihaknya menunggu petunjuk Mabes mengenai kekurangan kuota ini, apakah diambil dari pendaftaran baru atau disaring lagi dari pendaftaran yang sudah ada.

Yang saya sayangkan, kebijakan double standard oleh Polda Jateng. Saat penerimaan tahun sebelumnya, siswa dari SLTA diperbolehkan mendaftarkan sebagai calon taruna Akpol tanpa menunjukan ijazah asli terlebih dulu. Hal ini karena pendaftaran dimulai sebelum ujian akhir diadakan. Jadi pihak yang bersangkutan hanya menunjukan surat keterangan dari sekolah.

Sedang saya yang berumur 25 tahun pada tanggal 31 Juli 2007, memiliki SK Magister Ilmu Hukum (S2) serta transkrip nilai sementara dengan IPK 3,48 (wisuda 26 Juli 2007) yang ditandatangani pejabat akademik universitas serta cap resmi. Tapi saat mendaftar 24 Mei 2007, ternyata ditolak panitia dengan alasan harus menunjukan/menggunakan Ijazah asli .

Dia menyarankan saya mendaftar tahun depan mengingat umur masih 25 tahun dan menurut ketentuan pendaftaran maksimal 27 tahun untuk S2. Yang saya tanyakan, apakah cara penolakan tersebut sebagai kebijakan double standard oleh Polda Jateng, mengingat saya juga dalam posisi yang dirugikan .

Untuk Bapak Kapolda, apakah panitia yang ditempatkan dalam pendaftaran Akpol 2007 sudah bertindak profesional dalam menerima calon, mohon penjelasan. Saran saya, pendaftaran diperpanjang atau dibuka kembali, mengingat kuota untuk Jateng belum terpenuhi, Semoga Polri menjadi lembaga yang profesional di dalam masyarakat.

Mario Nur Wenda SH

Jl Bukit Duta 1, Semarang

***

Dosa Apa Anakku ?

Tulisan ini sebagai ungkapan kekecewaan orang tua memperjuangkan hak dan keadilan atas anaknya yang sudah 7 tahun sekolah di Sekolah Permata Bangsa (SPB) Semarang. Kekecewaan bermula ketika anak saya mogok sekolah karena mengaku selalu di-bully-ing oleh sebagian temannya.

Akibatnya saya terpaksa mencabutnya keluar dari SPB terhitung 20 April 2007 Untuk memindahkan ke sekolah lain, saya perlu data tanda kelulusan (ijazah) SD dan rapor selama di Kelas 6 dan Kelas 7 SMP. Anehnya pihak sekolah mengatakan, anak saya tidak lulus SD, jadi tidak berhak mendapatkan ijazahnya.

Pertanyaan, mengapa dikatakan tidak lulus padahaldia kini duduk di Kelas 7, dapat dibuktikan dengan buku rapor Kelas 7 serta sertifikat kelulusan dari SPB untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Mengenai buku rapor menurut salah seorang pejabat instansi pendidikan Kota Semarang, merupakan dokumen negara.

Sampai kini dia tidak dapat mendaftar ke SMP mana pun karena tidak punya ijazah. Apakah dosa dan salah anak saya dan tiada senyum di tahun ajaran baru baginya. Sampai di mana hati nurani dan tanggung jawab pihak SPB dan mengapa bersikukuh anak saya tidak lulus ujian SD-nya ?.

Apakah ini tidak berarti merugikan anak bangsa yang berhak mendapatkan pendidikan sesuai UUD'45 Bab XIII Pasal 31 ayat (1), pencanangan Pemerintah dalam rangka Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun ?.

Berapa kerugian waktu dan materi yang sudah saya keluarkan selama anak bersekolah di SPB dengan uang sekolah sebesar Rp1, 5 juta/bulan selama 7 tahun ?

Namun ijazah yang dibanggakan sama sekali tidak dimiliki. Tulisan ini tidak bermaksud menuduh/mencemarkan nama baik pihak lain. Saya hanya menyampaikan "uneg-uneg" dan kekecewaan.

Mohon para pembaca dan lembaga yang peduli pada pendidikan memberi jalan keluar menanggapi anak bangsa yang terhambat pendidikannya.

Hartono

Jl Larasati 1-a/7-8 Pondok Indraprasta, Semarang.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA