logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 17 Juli 2007 INTERNASIONAL
Line

LINTAS JAGAT

Olmert Bertemu Abbas

JERUSALEM - Perdana Menteri Israel Ehud Olmert bertemu Presiden Palestina Mahmud Abbas, kemarin. Olmert berjanji mempercepat pembebasan 250 tahanan Fatah dalam upaya menyokong pemerintahan Abbas di Tepi Barat melawan Hamas.

Juru bicara Olmert, Miri Eisin, mengatakan kedua pemimpin itu membahas ''solusi dua negara'' atas konflik Israel-Palestina.

Namun sumber-sumber di kantor PM Israel itu menyatakan mereka tidak membahas isu-isu status akhir seperti nasib Jerusalem, perbatasan, dan pengungsi Palestina. Mereka bertemu selama dua jam di kediaman Olmert di Jerusalem.

Pejabat Hamas, Sami Abu Zuhri, mengatakan Abbas telah melakukan tindakan ''memalukan'' dengan bertemu Olmert sementara menolak melanjutkan perundingan dengan Hamas. Hamas mengambil alih Gaza bulan lalu.

Israel menggambarkan keputusannya untuk membebaskan 250 tahanan Palestina, sebagian besar dari faksi Fatah pimpinan Abbas, dan menghentian misi bunuh atau tangkap terhadap 180 anggota Fatah sebagai pertanda baik yang bisa mengantarkan ke perundingan damai dengan Abbas.

Menurut Eisin, Olmert akan menyerahkan daftar tahanan yang diebbaskan kepada komite tingkat menteri Selasa ini. Israel akan mulai membebaskan tawanan paling cepat Jumat mendatang.(rtr-niek-26)

TEHERAN - Televisi pemerintah Iran menayangkan gambar dua orang Amerika kelahiran Iran yang ditahan negara itu, kemarin. Iran berjanji menayangkan gambar lain dalam beberapa hari mendatang.

Tayangan itu memperlihatkan Haleh Esfandiari dan Kian Tajbakhsh secara terpisah. Keduanya tampaknya berada di dalam rumah penduduk, dan mengenakan pakaian sipil.

Gambar itu tidak disertai tanggal pengambilan, namun televisi itu menyiarkan iklan di bagian bawah layar bahwa tayangan itu akan dilanjutkan dengan penyiaran penuh pada Rabu sore.

Tayangan televisi itu dilakukan menyusul pengumuman Iran awal bulan ini bahwa bukti baru mendorong pengadilan melakukan investigasi baru terhadap kasus Esfandiari dan Tajbakhsh. Keduanya ditahan atas tuduhan membahayakan keamanan nasional.(ap-niek-26)

Usir Diplomat Rusia

LONDON - Hubungan Inggris dan Rusia makin tegang. Inggris, kemarin, mengusir empat diplomat Rusia setelah Moskwa menolak mengekstradisi tersangka utama pembunuhan Alexander Litvinenko.

''Pemerintah sebenarnya tidak menginginkan situasi seperti ini. Namun kami tidak punya pilihan lain,'' kata Menlu Inggris David Miliband dalam pidatonya di depan parlemen.

''Kami memilih mengusir empat diplomat Rusia dalam upaya mengirim pesan jelas kepada pemerintah Rusia tentang keseriusan kami dalam kasus ini.''

Litvinenko, mantan staf Dinas Keamanan Federal Rusia, melarikan diri ke Inggris dan menjadi pengritik keras Presiden Vladimir Putin. Dia tewas di London setelah disuntik isotope polonium 210 yang mengandung radioaktif.

Sejak kematian Litvinenko itu, hubungan London dan Moskwa memburuk. Moskwa menolak mengekstradisi Andrei Lugovoy, mantan agen keamanan. Tim penuntut Inggris ingin mengadilinya atas tuduhan membunuh Litvinenko.(rtr-niek-26)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA