| Selasa, 17 Juli 2007 | INTERNASIONAL |
Pakistan Berunding dengan Milisi Pro-TalibISLAMABAD - Pakistan menggelar perundingan dengan para pemimpin suku untuk menyelamatkan perjanjian damai dengan milisi pro-Talib. Sementara itu, korban tewas serangan-serangan bom bunuh diri menjadi lebih dari 70 orang. Ribuan orang mengungsi dari kawasan Waziristan Utara, sehari setelah milisi membatalkan perjanjian perdamaian yang disepakati tahun lalu dengan pemerintahan Presiden Pervez Musharraf. Tiga serangan terpisah di Pakistan utara menewaskan paling tidak 71 orang, termasuk para pelaku pengeboman. Para gerilyawan di daerah perbatasan Waziristan Utara Minggu lalu membatalkan perjanjian perdamaian kontroversial itu. Berdasarkan perjanjian itu, kelompok-kelompok suku berjanji akan memburu para milisi asing dengan imbalan jaminan keamanan. Dewan Syuro Talib menuduh pemerintah melanggar perjanjian itu. Mereka juga akan menolak semua dialog dan kerja sama dengan pihak berwenang. Menteri Dalam Negeri Aftab Sherpao menyatakan, para gerilyawan tidak menjunjung tinggi tujuan perjanjian mereka. Dia mengatakan, pemerintah kini bisa dibenarkan jika melakukan operasi militer di daerah pegunungan yang diduga tempat persembunyian para pejuang Al-Qaedah. Seorang perwakilan pemerintah bertemu para pemimpin suku di Miranshah, kota utama di Waziristan Utara. ''Utusan kami bertujuan memastikan status perjanjian itu setelah para milisi pro-Talib dikabarkan membatalkannya,'' kata seorang pejabat pemerintah. Lebih Keras Washington memberikan dukungan penuh pada Musharraf. Menurut Washington, perjanjian perdamaian tidak berjalan dalam menghadapi para gerilyawan. ''Presiden Musharraf memahami ini. Presiden Musharraf akan mengerahkan kembali pasukan ke daerah itu. Ini kemungkinan yang kami tempuh setelah menerima laporan dari Talib,'' kata penasihat keamanan nasional Gedung Putih Stephen Badley di Washington. ''Situasi ini mencemaskan. Ada penumpukan gerilyawan Talib di sana,'' kata Badley. Dia menegaskan, Musharraf harus berbuat lebih banyak. ''Kami mendesak dia untuk bertindak lebih keras dan kami memberikan dukungan penuh terhadap apa pun rencana dia.''(afp-ant-25) |