| Selasa, 17 Juli 2007 | INTERNASIONAL |
Dua Bom di Kirkuk, 85 TewasKIRKUK - Dua bom mobil meledak dalam selang waktu 20 menit di Kota Kirkuk, Irak utara, kemarin. Paling tidak 85 orang tewas dan 180 lainnya luka-luka dalam ledakan yang diarahkan ke kantor partai Kurdi dan menghancurkan sebuah pasar, kata polisi. Menurut saksi mata, sebagian besar korban tewas terbakar karena terperangkap dalam sebuah bus. Serangan tersebut terjadi kemarin siang ketika seorang pelaku bom bunuh diri meledakkan truk yang membawa bahan peledak di dekat tembok beton kantor Uni Patriotik Kurdistan (PUK), partai pimpinan Presiden Irak Jalal Talabani. '' Puluhan rumah dan toko hancur akibat kuatnya ledakan itu,'' kata Jenderal Torhan Abdul Rahman, wakil inspektur polisi kota itu. Sejumlah mobil terbakar dan para penumpang terperangkap dalam sebuah bus dan tewas terbakar, kata kamerawan Reuters di tempat kejadian. Menurut polisi, 25 korban terluka dalam kondisi kritis dan banyak mayat mungkin masih terkubur dalam reruntukan. Tidak lama kemudian, pelaku bom kedua menyerang pasar Haseer, menghancurkan sejumlah kios dan mobil, kata polisi Kirkuk, Brigjen Sarhat Qadir. Pasar Haseer sering dikunjungi orang Kurdi di Kirkuk. Di kota itu ketegangan meningkat antara suku Kurdi dan populasi Arab. Paling Mematikan Serangan tersebut diyakini sebagai bom bunuh diri paling mematikan di Kirkuk, tempat kerusuhan sering dikaitkan dengan perseteruan antara kelompok Kurdi dan Arab. Serangan kemarin itu terjadi sepekan setelah salah satu bom bunuh diri paling mematikan dalam konflik Irak menghantam sebuah desa sekitar 75 km di selatan Kirkuk. Serangan tersebut menewaskan lebih dari 160 orang. Bom tersebut meningkatkan ketegangan di Kirkuk, yang dihuni kelompok Kurdi, Turkmenistan, syiah, dan suni Arab. Kota itu berencana mengadakan referendum tentang masa depannya. Di selatan Bagdad, ribuan tentara AS melancarkan operasi terhadap satu lokasi yang diduga tempat persembunyian Al-Qaedah di Irak. Lokasi itu digunakan untuk membantu milisi yang berperang di ibukota Irak, kata militer. Pasukan AS dan Irak melancarkan serangkaian operasi keamanan besar sejak 28.000 tentara tambahan AS tiba sebulan lalu. Operasi itu untuk menghentikan aksi kekerasan antara mayoritas syiah dan minoritas suni yang mendorong negara itu ke perang saudara berskala penuh, sementara PM Nuri al-Maliki diberi waktu untuk menyampaikan undang-undang penting tentang pembagian kekuasaan. Banyak warga Amerika menginginkan tentara mereka segera pulang dan para anggota senior Partai Republik, partainya Presiden George W Bush, menyerukan perubahan strategi perang. Namun Bush menyatakan tidak akan mengubah strateginya sebelum dilakukan tinjauan oleh Jenderal David Petraeus dan Dubes Ryan Crocker, dua personel pentingnya di Irak, pada September mendatang. Operasi di selatan Bagdad itu, Marne Avalanche, bertujuan meredam arus senjata dan milisi. Di daerah itu, pasukan AS dan Irak sudah berjuang keras untuk menghalau mereka.(ap-rtr-niek-26) |