logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 17 Juli 2007 BUDAYA
Line

Saat Wong Prancis Main Kelenengan

DARI hari ke hari kian banyak orang bule belajar dan bermain gamelan Jawa. Malah minat mereka belajar kelenengan lebih besar ketimbang wong Jawa. Ironis memang. Namun, itulah faktanya.

Sabtu (14/7) malam lalu, misalnya, 30-an wong Prancis unjuk kebolehan bermain kelenengan di Sanggar Pangruwatan, Hargosari RT 1 RW 2 Sraten, Kecamatan Gatak, Sukoharjo. Dengan luwes mereka memainkan repertoar gending Jawa, termasuk beberapa karya Ki Narto Sabdo.

Kelompok pementasan terbagi menjadi tiga grup. Satu grup beranggota 15 orang, dengan beberapa personel orang Jawa. Musik pengiring tari Kelana Topeng yang disajikan penari Wahyu Santoso Prabowo, mereka mainkan tanpa cacat. Mereka juga jadi pengrawit dalam pementasan wayang kulit Semar Mbangun Kayangan dengan dalang Ki Joko Raharjo dan Nyi Nia Dwi Raharjo.

Mereka memperoleh kemahiran memainkan kendang, bonang, saron, slenthem, gender, gong, demung, dan rebab setelah mengikuti workshop sepekan sejak 8 Juli di sanggar milik Sri Joko Raharjo tersebut. Ya, Sri Joko memang mengajari orang-orang bule itu bermain gamelan.

Pementasan malam itu untuk memperlihatkan hasil pembelajaran selama sepekan. Namun, kemahiran orang-orang dari negeri seberang itu tampak seperti hasil latihan bertahun-tahun.

"Tak semua orang Prancis itu berlatar belakang seni. Ada pula yang petani," ujar Sri Joko. "Pementasan ini juga untuk memotivasi masyarakat sekitar agar tertarik belajar gamelan."

Dia pernah mengajar gamelan di beberapa kampus di Amerika Serikat dan Belanda. Orang-orang Perancis itu, ujar dia, di negara mereka tergabung dalam Citee de la Musique, sebuah pusat kebudayaan. Fokus yayasan itu mempelajari berbagai musik tradisi di dunia, termasuk Indonesia, khususnya gamelan.

Yang menarik dari pementasan itu, setiap kali usai memainkan sebuah repertoar, wong Prancis berpindah alat musik. Jika sebelumnya memainkan kendang, beralih memainkan demung. Pemain bonang, pindah memegang ke saron. Begitu seterusnya.

"Ya, mereka memang tak cuma mempelajari satu alat musik. Semua mereka pelajari," tutur Sri Joko. (Irfan Salafudin-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA