logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 12 Juli 2007 OLAHRAGA
Line

Ini Dia

Bosan Menjadi Juara di Jawa Tengah

  • Oleh Paulus Noor Mulia

ORANG bijak mengatakan "esa hilang dua terbilang". Artinya berusaha terus dengan keras agar maksud hati tercapai. Pepatah tersebut tampaknya berlaku juga pada lifter muda Jateng, Eko "Bagong" Santosa (23).

Atlet asal Ryu Gym Semarang ini terbilang rajanya angkat besi di Jateng. Coba tilik prestasinya, dia pernah merebut medali emas di Porda 2000 dan 2004. Demikian pula di event Kejurda dari tahun 1999 hingga kini, kalungan medali emas masih melekat di lehernya. Di Kejurnas yunior 2002 dan 2003, bahkan ia memborong tiga medali emas. Luar biasa!

Hanya saja ambisinya menjadi juara nasional senior masih belum menjadi kenyataan. Di Kejurnas 2007 yang juga sebagai Pra-PON yang berlangsung di Jakarta, Eko hanya mampu meraih perak di nomor clean and jerk dengan angkatan 147 kg. Sedangkan medali emas diraih lifter Kaltim, Triyatno (165 kg).

Dia juga merebut medali perunggu di angkatan total 257 kg (medali emas baik total dan snatch diborong Triyatno). Kendati baru mengantongi perak, menurut lifter kelahiran Pati, 19 Desember 1983 tersebut, ini prestasi yang cukup membanggakan.

Obsesi berikut? "Saya ingin meraih medali emas di Kejurnas maupun PON, soalnya saya sudah bosan dengan prestasi juara Porda/Kejurda dari tahun ke tahun. Siapa pun kalau ditanya, ya pasti ingin meningkatkan kariernya ke jenjang yang lebih tinggi," ujar atlet PJP (Pelatda Jangka Panjang) Jateng yang bercita-cita menjadi juara Asia.

Rangsangan TV

Dia dengan jujur mengatakan, sebenarnya ingin menjadi petinju, setelah sering menyaksikan Mike Tyson di layar TV. Ternyata tontonan angkat besi di televisi lebih merangsangnya. Maka di usia 16 tahun (1999) dia berlatih di PABBSI Pati di bawah bimbingan pelatih Purtriatno. Sejak Desember 2003, ia resmi bergabung di Ryu diajak Agus S Winarto, pemilik Gym itu.

Lifter bertinggi badan 160 cm dan berat 62 kg yang biasa bertanding di kelas 60 kg ini, pertama kali mengikuti pertandingan di Kejurda 1999 di Semarang. Dasar bakatnya cukup besar, dia langsung memborong tiga emas di kelas 56 kg. Angkatan snatch-nya kala itu baru 70 kg, clean and jerk 100 kg dan total 170 kg.

Sejak itu Eko tak pernah absen mengikuti berbagai kejuaraan yang digelar di Tanah Air. Bahkan event internasional, kejuaraan ASEAN yunior, pernah dua kali diikutinya, tahun 2001 di Thailand dan 2003 di Bali.

Postur tubuh Eko terbilang kecil, namun konfigurasi otot yang menghiasi betis, paha dan bahunya yang kekar, membuktikan dirinya seorang lifter yang sangat terlatih. Jadwal latihannya padat, seminggu 5 kali, pagi mulai 09.00 hingga 11.30 WIB dan sore dari jam 16.00 hingga selesai, benar-benar menguras tenaga, waktu dan pikirannya. (18)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA