logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 12 Juli 2007 OLAHRAGA
Line

Komdis PSSI Putuskan 13 Pemain PS Leo Sah

  • Bidang Keabsahan Teledor

SEMARANG- Komisi Disiplin (Komdis) Pengcab PSSI Kota Semarang memutuskan 13 pemain PS Leo yang diprotes PS POP, sah dalam Kompetisi Antarklub Pengcab PSSI Kota Semarang. Kasus tersebut muncul tidak lepas dari keteledoran Bagian Keabsahan dan Alih Status, M Daeny.

Menurut Ketua Komdis, Munasir, seharusnya sebelum mengesahkan pemain, Daeny membaca dan memeriksa kembali surat-surat tersebut, apakah ada stampel dari pengda, pengcab, atau klub. Setelah semua persyaratan lengkap, dia baru mengeluarkan kartu pemain sebagai tanda pengesahan.

Namun, saat pertandingan antara PS POP lawan PS Untag, Daeny yang saat itu juga menjadi pengurus PS Untag, menganggap tiga pemain POP tidak sah. Surat pindah Anis Hermawanto, Hendri Kristanto, dan Subiyanto dipermasalahkan lantaran belum ada stampel dari pengcab.

Padahal, di laga perdana Kompetisi Antarklub, hal yang sama dialami PS Leo. Saat lawan PS POP, surat pindah 13 pemain PS Leo belum ada stampel dari pengcab. Dikatakan, Bidang Keabsahan dan Alih Status Pemain Pengcab sangat teledor. Seharusnya, kalau kartu pemain sudah dikeluarkan panitia, berarti sudah sah. Kartu tersebut merupakan tahap akhir dari proses administrasi pengesahan pemain.

''Saat ini, semua pemain yang berlaga di kompetisi sudah punya kartu tersebut. Jadi, 13 pemain PS Leo yang dipermasalahkan itu tetap sah. Begitu juga dengan tiga pemain PS POP yang waktu lawan PS Untag tidak diperbolehkan main,'' kata mantan anggota DPRD Kota Semarang itu.

Sudah Ditegur

Munasir mengemukakan, Pengcab sudah menegur M Daeny. Dan, pengurus PS Untag tersebut juga mengakui kesalahannya. Bahkan, agar tidak menimbulkan persepsi yang kurang baik, Daeny pun bersedia melepaskan jabatannya di kepengurusan persatuan sepak bola itu.

Menanggapi permasalahan tersebut, Ketua Umum Pengcab PSSI Kota, Ir Anggoro Mardihusodo, menyatakan hal itu bagian dari dinamika kompetisi antarklub dan Pengcab. Kasus tersebut untuk pembelajaran dan bahan evaluasi bagi pengurus yang baru. Dengan harapan, tahun depan tidak lagi terjadi kasus seperti itu.

''Masalah tersebut bisa dijadikan bahan menyempurnakan format kompetisi yang lebih ideal pada tahun depan,'' kata pria yang akrab disapa Yoyok Mardijo itu. (H13-18)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA