logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 12 Juli 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Listrik PLN Menipis

Saya membaca berita bahwa persediaan listrik Jawa - Bali makin menipis. Terbesit alam benak bagaimana jika benar-benar habis. Apakah kita masih seenaknya menyalakan semua lampu di rumah dan bisa tidur nyaman dengan hembusan angin sejuk dari AC?. PLN telah mencanangkan "Pangkas listrik antara pukul 17.04 - 22.00 matikan dua lampu saja cukup membantu".

Saya setuju dengan program tersebut. Bayangkan, dengan mematikan dua lampu berarti sudah menghemat listrik. Coba hitung dalam satu kota/wilayah, warga sadar dengan mematikan dua lampu atau lebih di setiap rumah yang tidak terpakai, berarti bersama menghemat persediaan listrik. Tapi kenyataannya apakah ini mungkin?.

Saya masih melihat para elite yang seenaknya menerangi rumahnya dengan lampu hias yang gemerlap, belum lagi penggunaan teve tidak cukup satu. Mereka sepertinya tidak peduli atas penipisan cadangan listrik. Tidak hanya itu, banyak perkantoran yang menyalakan lampu yang sebenarnya tidak terpakai di siang bolong.

Bagaimana program PLN bisa sukses jika hanya sedikit orang yang sadar. Hal ini menjadi tanggung jawab bersama semua kalangan. Kalau mengkaji lebih jauh, justru pemborosan terjadi pada kalangan elite. Untuk itu PLN harus bertindak tegas jika tidak ingin stok listrik benar-benar habis.

Caranya mengadakan inpeksi di perkantoran dan mengajak mematikan lampu yang tidak perlu pada siang hari atau penggunaan AC ruangan yang tidak terpakai. Saya berharap program PLN dapat berjalan demi kelanjutan anak cucu. Bagi para pencuri listrik segera bertobat, ingat persediaan listrik makin menipis.

Seperti resep Aa Gym yang mengusung tema 3M yaitu mulailah dari hal yang sekecil - kecilnya, mulailah dari sekarang dan mulai dari diri sendiri. Jadi mulailah mematikan dua lampu saja yang tidak terpakai.

Anom Adi Busono AMd

Jl Pahlawan II/10 RT 1/RW 1, Kendal

Ganti Rugi Tol

Pemerintah/Investor dalam membebaskan tanah untuk jalan Tol Kanci-Pejagan dan Pejagan-Pemalang tidak semena-mena dalam menetapkan ganti ruginya. Masyarakat perlu tahu, wilayah Brebes bagian utara mulai Kecamatan Losari sampai Kecamatan Brebes akan terkena jalan tol. Untuk itu mohon pemerintah/investor dalam menentukan ganti ruginya jangan semena-mena.

Hal itu sesuai harapan Menteri PU Djoko Kirmanto, bahwa dalam pembebasan tanah tidak ada satu pun pihak yang dirugikan kendati proyek digunakan untuk kepentingan pembangunan. Tentu hal ini jangan dijadikan dasar alasan bertindak semena-mena terhadap masyarakat sebab sudah berdasar kesepakatan. (Suara Merdeka, Juni 2007).

Wilayah Brebes selatan tepatnya di Kecamatan Tonjong juga sedang dibangun jalan kereta api jalur ganda, pembebasan tanahnya telah dibayar sesuai kesepakatan. Semula ditawarkan Rp 200.000/m2 untuk tanah sawah dan Rp 250.000/m2 tanah pekarangan tapi disepakati Rp 175.000/m2 untuk sawah dan Rp 200.000/m2 tanah pekarangan. (Suara Merdeka, Mei 2007).

Jalan pantura Desa Pejagan Kecamatan Tanjung, tanah dan bangunan di tepi jalan telah dibayar pembebasnya (untuk pelebaran jalan lingkar) dengan harga, halaman rumah di atas Rp 1 juta/m2 dan bangunan di atas Rp 2.000.000/m2. Harapan saya, pembebasan tanah tol Kanci-Pejagan dan Pejagan-Pemalang agar sesuai kesepakatan masyarakat dan harga pasar.

Bukan sesuai harga NJOP untuk ketetapan pajak serta dibedakan pula antara tanah produktif dan tidak produktif atau tanah di tepi jalan dan tanah rawa-rawa seheingga tercipta asas keadilan. Perlu dipertimbangkan tanah yang terkena jalan tol bagi petani berbeda dan tidak semua dibebaskan tapi sesuai keperluan jalan tol sendiri.

Misal petani punya tanah sawah/pekarangan seluas 1.600 m2 sedang untuk jalan tol hanya 300 m2, maka yang dibebaskan seluas 300 m2. Sisanya 1.300 m2 tidak diganti rugi. Bisa jadi tanah sawah/pekarangan tersebut tidak produktif secara ekonomis dan akan menjadi tanah mati karena kesulitan mendapatkan air irigasi tapi tetap milik petani.

HM Rencum

Jl A Yani RT 4/RW 5 Ketanggungan, Brebes

***

Indomilk Bio Kids

Saya pengguna susu bubuk coklat Indomilk Bio Kids 4-6 Tahun, menemukan produk tersebut tak seperti biasa. Saya mengalami 2 kali dalam waktu yang tidak terlalu lama. Pertama saya membeli susu 1 Mei 2007. Setelah beberapa kali saya berikan kepada anak, dia mengatakan rasanya tidak enak (tidak seperti biasanya).

Saya curiga. Dengan perasaan was-was, saya mencium susu tersebut dan ternyata benar, baunya tidak enak atau apek. Kemudian anak saya mencret hingga keesokan harinya tidak sekolah. Setelah saya obati dan hentikan susunya, dia sembuh. Saya lihat pada label tertera kode produksi 04 070106 exp Jan 2008.

Setelah beberapa kali saya klaim ke perusahaan tersebut, tanggal 10 Mei 2007 datang perwakilan PT Indomilk. Mereka meminta sisa susu yang masih saya simpan dan mengganti dengan satu kotak produk serupa kemasan 800 gram. Terima kasih karena secara materi telah diganti dengan produk yang sama.

Tapi bagaimana kepedulian perusahaan atas sakitnya anak saya. Pernah saya hubungi lagi petugasnya yang akan mengganti biaya pengobatan asal ada kuitansinya.

Kedua, akhir Mei 2007 saya membeli produk yang sama di toko berbeda. Anak saya juga mengatakan susunya tidak enak serta baunya apek. Saya lihat lagi, kode produksi tertera 04 070106 exp Jan 2008 sama seperti kejadian pertama.

Saya berpikir susu dengan kode produksi tersebut sebagai produk gagal tapi kenapa perusahaan tidak menarik produk yang gagal tersebut. Esok harinya anak saya juga mencret meski cuma minum setengah gelas saja. Bagaimana tanggung jawab perushaan (sampai sekarang sisa praduk dan kotak susu masih tersimpan).

Agung Nugraha

JI Kenconowungu II/21, Semarang

***

Mohon Bantuan

Tetangga saya, seorang ibu single parents mohon bantuan kepada pembaca untuk mengatasi kesulitan biaya sekolah putrinya. Saat ini dia lulus SMP ingin melanjutkan ke SMK jurusan Tata Busana. Padahal pekerjaan ibunya hanya buruh cuci yang penghasilannya tidak menentu. Yang ingin menolong bisa langsung ke Ibu Sugiatun Jl Peterongan Timur 35 A RT 1/RW 6 Semarang.

Suprayitno (081325736405)

Jl Tlogomukti Tmr I/878, Semarang

***

Budaya Pakai Helm

Betapa pentingnya mengenakan helm standar saat bermotor yang diharapkan dapat mengurangi risiko benturan bila terjadi kecelakaan, meski tidak ada orang yang berharap mendapatkan kecelakaan. Taat pada peraturan berlalu lintas juga merupakan salah satu tujuan dari sosialisasi penggunaan helm.

Kenyataan di lapangan menunjukkan, banyak orang enggan mengenakan helm saat bermotor, terutama saat menempuh jarak dekat. Keengganan tadi cukup banyak hinggap di kalangan pelajar sekolah menengah dan mahasiswa yang seharusnya mampu berpikir secara logis.

Kecelakaan lalu lintas dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, entah dalam perjalanan jarak dekat atau jauh. Ribet dan tidak mau adalah salah satu alasan mengapa tidak mengenakan helm saat bersepeda motor jarak dekat karena yang dilalui umumnya jalan kampung, jalan kecil.

"Tidak ada polisi" juga salah satu bentuk alasan klasik. Apakah mengenakan helm dan taat berlalu lintas hanya saat ada polisi ?. Seyogianya pimpinan kepolisian di setiap jajaran lebih masif menyosialisasikan pentingnya mengenakan helm bagi pengendara motor, baik pengemudi maupun pembonceng.

Aparat penegak hukum, personel TNI dan para pegawai negeri sipil seharusnya menjadi contoh terdepan dalam pengenaan helm. Pimpinan sekolah menengah dan perguruan tinggi pun perlu turut andil dalam usaha mengampanyekan sadar berhelm di lingkungan kampusnya. Para orang tua juga selayaknya menasihati putra-putrinya agar mengenakan helm.

Bila ada anekdot bahwa peraturan dan tata tertib dibuat untuk dilanggar, masih banyak berhembus di masyarakat dan karenanya peraturan dan tata tertib akan sia-sia belaka. Buat apa rancangan peraturan dibahas berlarut-larut tapi ternyata peraturan tidak dilaksanakan.

MT Ardiansyah

Jl H Syatori 31, Brebes

***

Kapsul Kesehatan

Saya mencermati Kapsul Kesehatan di Suara Merdeka 21 Juni 2007 mengenai tugas organ hati. Di situ terdapat kekeliruan penerjemahan bahasa. Pada kalimat terakhir tertulis : It also cleans and detoxifies almost two quarts of blood in just one minute, yang diterjemahkan menjadi: Hati juga membersihkan dan detoksifikasi sebanyak 2/4 darah hanya dalam waktu 1 menit.

Ada 2 kekeliruan penerjemahan kalimat tersebut yaitu kata cleans dan detoxifies yang diterjemahkan menjadi membersihkan dan detoksifikasi. Kata cleans dan detoxifies dalam kamus elektronik Concise Oxford Dictionary edisi ke-10 menyebutkan bahwa kedua kata tersebut adalah kata kerja (verb).

Kata cleans (yang berasal dari kata clean) yang diterjemahkan menjadi membersihkan adalah tepat namun kata detoxifies (yang berasal dari kata detoxifi) tidak tepat jika diterjemahkan menjadi detoksifikasi karena sebagai kata benda. Lbih tepat jika diterjemahkan menjadi menghilangkan racun.

Kemudian frasa almost two quarts of blood yang diterjemahkan menjadi sebanyak 2/4 darah adalah salah. Dalam kamus tersebut tertulis kata quart berarti satuan untuk mengukur kapasitas benda cair yang setara dengan seperempat galon atau dua perdelapan galon. Di Inggris setara 0.568 liter dan di Amerika setara 0.473 liter (untuk ukuran cair) atau 0.551 liter (untuk ukuran kering).

Maka salah jika frasa tersebut diterjemahkan menjadi 2/4 darah. Lebih tepat jika diterjemahkan menjadi setengah galon atau sekitar 1 liter darah. Kemungkinan penerjemah keliru dengan frasa two quarters of blood yang berarti 2/4 darah.

Semoga lebih teliti menerjemahkan bahasa asing sehingga artikel yang menjadi referensi akurat mengingat masalah kesehatan perlu mengutamakan kebenaran demi kebaikan masyarakat.

Emerita I Feryanti SS

Trangkil RT 4/RW 2 Ngesrep, Semarang

-Terima kasih koreksinya- Red

***

Bangsaku Tangguh

Buta Huruf Tetap Ulet

Pak, nyuwun tulung dipun waosaken Saya tidak bisa membaca. Saya dapat surat dari kantor pegadaian. Itulah kalimat yang terlontar dari seorang bakul berumur 60 tahun di pasar Jatingaleh yang sebelumnya meminjam uang dan mendapat surat peringatan karena sudah jatuh tempoh belum melunasi.

Dia bercerita, surat gadainya hilang dan diharus membawa surat keterangan hilang dari polisi. Kemudian dia juga bertanya nanti di kantor polisi juga harus bayar. Saya jawab dengan pasti, tidak. Tapi di dalam hati saya berdoa semoga betul betul tidak bayar. Dialog tersebut terjadi di atas mikrolet Semarang bebeapa waktu lalu.

Setelah ibu tersebut turun saya termenung dan bergumam: "Ah... bangsaku memang hebat. Sudah buta huruf tapi tetap tangguh berusaha untuk mandiri berjualan di pasar. Tapi saya juga gusar kepada para penguasa yang gembar-gembor tentang bebas buta huruf sebab nyatanya masih banyak bangsaku yang tidak bisa membaca.

Di satu sisi rakyat gigih mempertahankan hidupnya secara susah payah tetapi di masa Bapak-bapak malah sibuk dengan tunjangan yang katanya untuk kelancaran tugas. Semoga tulisan ini menarik untuk dibaca para pejabat sehingga mereka memperhatikan nasib bangsanya.

Parmanto SH MHum

Jl.Meranti Raya 301, Semarang

***

Soal ATM Fatmawati

Menunjuk Surat Pembaca 26 Juni 2007 dari Ibu Diyah Lisnawardini mengenai "ATM Mandiri Fatmawati", kami telah berkunjung kepada beliau untuk menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanannya serta menjelaskan mengenai permasalahan kondisi uang yang dikeluarkan oleh ATM tersebut. Ibu Diyah Lisnawardini dapat menerimamya. Kami menghargai masukan beliau sehingga dapat meningkatkan pelayanan sesuai dengan motto:"Melayani dengan hati, menuju yang terbaik" untuk kepuasan nasabah.

Widhayati Darmawan

Customer Care

***

Iklan Membingungkan

Kreativitas insan periklanan kita patut diacungi jempol. Bagaimana tidak. Di tengah larangan menampilkan figur orang merokok, maka bagi pengiklan malah mampu membuat iklan rokok secara gencar dan terbilang bagus. Akhirnya masyarakat tahu bahwa produk yang diiklankan adalah merk rokok, tanpa ada sedikit pun gambar orang mengisap tembakau.

Namun ada lagi iklan yang bikin bingung masyarakat. Artinya orang tidak tahu apa produk yang diiklankan. Contoh, iklan sabun pembersih Lifebuoy versi Shaolin. Di situ tampak beberapa pendeta Shaolin membawa ember kayu untuk mengangkut air dari sungai ke bendungan di atas bukit.

Awalnya mereka tidak kuat tapi setelah beberapa minggu akhirnya malah menjinjing ember sambil meloncati rekan pendeta yang lain. Lucu sekali ketika saya sekeluarga berdebat mengenai iklan tersebut walau akhir pada iklan dicantumkan merk sabun tersebut. Ada yang mengira itu iklan minuman energi atau pisau cukur bahkan saya kira cuplikan film kungfu.

Entah apa yang ada di benak penggagas iklan tersebut menghubungkan pendeta Shaolin, ember dan air yang tumpah dari atas bukit dengan sabun pembersih. Pikiran saya sih tidak "nyambung" sama sekali dengan produk yang diiklankan.

Dunia periklanan menjanjikan keuntungan materi yang berlimpah. Jika iklim kondusif dunia media terus bertahan niscaya praktisi periklanan akan makin berkembang tanpa harus takut dampak pasar bebas di mana production house luar negeri bebas menerobos masuk ke negara ini.

Ibaratnya ketika kita sudah mampu menjadi raja iklan di negeri sendiri, mengapa khawatir dengan produser iklan luar negeri yang mungkin hanya memiliki peringkat "kelas tiga" di negara asalnya. Maju terus periklanan Indonesia.

Aryo Widiyanto A.Md

Jl Sri Agung 234 Cepiring, Kendal

***

Melanggar Lalin

Mobil atau motor melanggar lampu merah, berhenti di traffic light sambil mengangkangi marka atau melebihi marka, belok kiri/kanan tidak menyalakan lampu sein, pindah jalur seenaknya, parkir tepat di bawah rambu larangan berhenti dan l;ainnya sudah sering ditemui di jalan raya. Fenomena ini menunjukkan sedang terjadi dehumanisasi pada para pengguna jalan.

Sudah tidak ada etika, tata karma, tata tertib apalagi disiplin di jalan raya. Hal ini baru dari sisi etika belum dari kemanusiaan. Bila terjadi kecelakaan, hanya sedikit orang yang menolong atau menyelamatkan si korban. Paling banyak justru orang nonton dan tidak melakukan apa-apa. Sungguh ironis dan kejam, pantaslah bila kita disebut sebagai bangsa penonton.

Tetapi syukur, Ditlantas Polda Jateng saat ini menggalakkan tertib lalu lintas. Selain untuk menekan tingkat kecelakaan juga mencegah dehumanisasi lebih jauh. Langkah pertama, mungkin perlu dilakukan edukasi terus-menerus kepada para pengguna jalan raya tanpa kecuali agar terbentuk sikap disiplin yang otomatis.

Contoh, menyuruh mundur kendaraan yang berhenti melebihi marka saat menunggu lampu hijau dan lainnya. Selanjutnya perlu dilakukan law enforcement, tindakan keras kepada pelanggar untuk menimbulkan efek jera. Tetapi langkah ini perlu konsistensi dan konsekuensi dari petugas sendiri, jangan sampai ada kongkalikong lagi di jalan raya. Siap Pak.

Dicky Tutuko A

Plamongan Indah Blok D I/11-12, Demak

***

Tentang TIKI Semarang

Tulisan saya di Surat Pembaca 6 Juli 2007 tentang keluhan terhadap layanannya, ternyata TIKI Semarang/ PT Asuransi Ramayana Tbk. telah menyelesaikan kewajibannya pada tanggal 3 Juli 2007. Untuk itu saya ucapkan terima kasih dan dengan demikian permasalahan saya dengan TIKI Semarang telah selesai.

Drs Abdul Kahfi

Jl Kenanga XVI/305 Katonsari, Demak


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA