logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 12 Juli 2007 MURIA
Line

Kidungan bersama Masyarakat Adat di Sukolilo (1)

Dayak Indramayu Enggan Disebut Penghayat Kepercayaan

SUASANA di komunitas adat Sedulur Sikep Dukuh Bombong, Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Selasa (10/7) terlihat berbeda dari hari biasanya. Ya, mereka kedatangan tamu masyarakat adat dari berbagai daerah.

Ratusan orang berkumpul di Gazebo sebelah rumah seorang tokoh masyarakat Sedulur Sikep Gunritno dalam perayaan kelahiran anak keempatnya. Mereka yang hadir tidak hanya Sedulur Sikep asal Pati, namun juga dari Kudus dan Blora. Dalam kesempatan itu terlihat pula perwakilan komunitas Dayak Bumi Segandu Dermayu asal Indramayu, Jawa Barat.

Kehadiran mereka mengundang perhatian para pengunjung. Bukan hanya masyarakat umum yang hadir melainkan juga Sedulur Sikep mengaku heran dengan penampilan keempatnya.

Kedatangan orang dayak itu memang atas undangan tuan rumah. Sekaligus untuk memperkenalkan komunitasnya kepada Sedulur Sikep melalui kidungan bersama semalam suntuk.

Sedulur Sikep dan orang dayak bergantian melantunkan kidung daerah masing-masing. Sikep yang kerap disebut masyarakat Samin menyuguhkan dandanggula. Sementara itu, orang dayak secara kor berkidung ala Indramayu.

Penampilan keempat orang dayak tersebut, yaitu Langgeng Samudro, Sar Winten, Mang Ogut, dan Mas Tarkajayaningrat memang terlihat aneh bagi masyarakat biasa. Mereka telanjang dada dengan leher dipenuhi kalung dan tangan dibalut gelang lebar.

Aksesori Identitas

Semua aksesori berbahan kayu itu bukan untuk modal bergaya melainkan menunjukkan identitas. Sebab menurut salah seorang dari mereka, Langgeng, filosofi kehidupan mereka adalah kembali ke alam.

"Kami ingin belajar menyatu dengan alam karena manusia saat ini sudah banyak yang melupakan alam. Akibatnya, bencana silih berganti datang akibat ulah manusia yang merusak alam," ungkap Langgeng dengan bahasa Indonesia bercampur Sunda.

Saat beramah tamah sebelum kidungan bersama, komunitas vegetarian itu memiliki prinsip yang sama dengan Sedulur Sikep soal agama. Bagi mereka, gama adalah hak setiap manusia dan ketika ada yang tidak menganut satu di antara lima agama yang ada bukan merupakan larangan.

"Kami hanya percaya pada Gusti Alam tetapi bukan penghayat kepercayaan. Karena itu, kami terus belajar berbuat baik kepada alam. Meski penampilan dan tata hidup kami sering menjadi cemoohan orang lain," tandasnya. (M Noor Efendi-69)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA