logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 11 Juli 2007 PANTURA
Line

KELILING pantura

Pengawasan Raskin Diperketat

PEKALONGAN-Pemkot melalui Bagian Perekonomian Setda Kota Pekalongan akan memperketat pengawasan beras bagi warga miskin (raskin). Menurut Kepala Bagian Perekonomian, Sri Ruminingsih, pihaknya telah menunjuk seseorang yang bertugas memeriksa pasokan raskin dari Bulog.

"Begitu beras dari Bulog datang, petugas itu akan memeriksa kondisinya," kata dia.

Dengan menunjuk seorang petugas, tandasnya, paling tidak akan diketahui apakah raskin yang dikirimkan ke kelurahan kondisinya bagus atau tidak. Misalkan beras tersebut masih bau apek dan banyak menirnya, maka segera dikirimkan kembali ke Bulog. Kemudian, pihak kelurahan diminta mengembalikan dan menukar dengan beras yang lebih baik.

"Pokoknya, kami akan komplain jika beras itu mutunya jelek," tegas dia.

Ruminingsih mengungkapkan, pengawas tersebut telah melakukan tugasnya saat pembagian jatah raskin bulan Juli, dua hari lalu.

Beras yang dijual kepada masyarakat Rp 1.000 per kilogram itu, kini kualitasnya sudah bagus.

Ketika disinggung tentang penukaran bagi warga Panjang Wetan yang mendapatkan jatah raskin bermutu jelek, Kabag Perekonomian itu menjelaskan hingga kini belum mendapatkan informasi. Seandainya belum ada yang menukarkan, maka cadangan sebesar 22 karung atau 440 kilogram beras yang disimpan di kelurahan setempat tetap untuk kepentingan masyarakat. (H4-52)

Pemindahan Pasar Selokarto

BATANG - Pemindahan Pasar Selokarto, Kecamatan Blado, Batang sudah melalui mekanisme dan prosedur. Selain itu, juga tidak ada paksaan untuk membeli kios. "Kemauan untuk pindah itu datang dari pedagang sendiri. Sebelumnya, kami sudah musyawarah dengan mereka menyangkut kepindahan,"ujar Panitia Pembangunan Pasar Djarwo.

Penjelasan itu disampaikan Djarwo untuk mengklarifikasi kedatangan sejumlah orang yang mengadu ke DPRD. Terkait keluhan harga, ia menjelaskan, sudah disepakati bersama.

"Musyawarah kami lakukan dengan Paguyuban Pedagang. Kalau di DPRD kemudian ada pengurus Persatuan Pedagang Pasar Selokarto, itu siapa ?,"tanya dia.

Kesepakatan harga itu terjadi setelah Camat Blado, Sutiyo SSos meminta kepada panitia agar menurunkan harga. Setelah, dipertimbangkan dengan alasan untuk mendukung dan meningkatkan masyarakat akhirnya disepakati harga diturunkan

"Saran Camat kami tindak lanjuti. Semula kios A yang menghadap ke depan dari harga Rp 25 juta menjadi Rp 23,9 juta, yang menghadap ke dalam (B) dari Rp 24 juta, menjadi Rp 22,7 juta termasuk yang di los kami turunkan dari Rp 6 juta menjadi Rp 5,6 juta."

Dia juga membantah, kalau untuk menempati pasar baru harus membayar uang muka. Justru pedagang diberi kesempatan menempati lokasi baru sambil mengangsur. (ar-61)

556 Karyawan PT Gunatex

Terima Upah Terakhir

WIRADESA - Sebanyak 556 karyawan PT Gunatex, hingga Selasa (10/7) menerima upah bulan Juli. Upah ini merupakan kompensasi kesepakatan antara serikat pekerja dengan pihak perusahaan Rabu (29/6) lalu.

Sedangkan pembayaran sudah dilakukan pihak perusahaan sejak Senin (9/7). Ketua Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI) PT Gunatex, Mugiyono, mengatakan, upah yang diterima karyawan, yakni 80 persen dari upah bulanan.

"Besaran yang diterima karyawan berbeda satu sama lain, tergantung bagian dan masa kerjanya," ujar dia. Dia mengatakan, pembayaran upah bulan ini juga merupakan pembayaran upah terakhir. Sebab, PT Gunatex menyatakan tutup sejak 4 Juli lalu.

Pihaknya menyatakan tidak dapat memperjuangkan aspirasi karyawan yang menuntut agar kontrak bulan Agustus dibayarkan perusahaan itu.

Menurut dia, sesuai dalam perjanjian kontrak waktu tertentu (PKWT) yang dibuat dua belah pihak pada tanggal 28 Mei lalu, salah satu pasalnya menyebutkan perusahaan tidak mempunyai kewajiban membayarkan upah karyawan jika perusahaan merugi. (H26-61)

Awak Angkutan Mengeluh

BUMIAYU- Awak angkutan Bumiayu mengeluhkan sepinya penumpang. "Kondisi awak angkutan saat ini bisa dibilang hidup segan mati tak mau," kata Maksud (35), sopir angkutan jurusan Bumiayu-Talok, kemarin.

Menurut dia, salah satu penyebab kondisi tersebut adalah pesatnya kepemilikan sepeda motor dan kenaikan harga BBM.

"Sekarang ini orang dengan mudah bisa memiliki sepeda motor, dengan sendirinya jumlah warga yang memanfaatkan angkutan umum semakin berkurang," kata Maksud (35), sopir angkutan jurusan Bumiayu-Talok

Ia menuturkan, sekali beroperasi mulai pukul 05.00 sampai pukul 16.00 hanya memperoleh penghasilan berkisar Rp 7.500 - Rp 10.000. "Dulu bisa meraih pendapatan di atas Rp 20.000. Sekarang sulit sekali, bisa membayar setoran dan uang makan di warung saja sudah bagus," kata dia. Kondisi ini bukan hanya dialami sendiri. Rata-rata sopir angkudes mengalami penurunan jumlah penumpang.

Ketua Paguyuban Angdes Bumiayu-Talok Rozikin mengungkapkan, selain pesatnya kepemilikan sepeda motor, sepinya penumpang juga dipengaruhi masih adanya kendaraan bak terbuka berpelat hitam yang mengangkut penumpang.

"Padahal, semestinya kendaraan tersebut tidak diperbolehkan mengangkut penumpang," kata dia. (tg-61)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA