| Rabu, 11 Juli 2007 | WACANA |
Surat PembacaIrit PupukKebijakan impor beras sebesar 500.000 ton sampai tahun 2009 diyakini menyakiti petani. Di sisi lain, kenaikan harga beras mencapai 45% dari Agustus 2005 dibandingkan Agusus 2006. Bahkan harga beras mencapai harga tertinggi sepanjang sejarah menjadi Rp 6.500/Kg medio Februari 2007, tidak mampu menolong petani. Hal ini karena petani tidak hanya sebagai produsen tetapi juga konsumen. Panen raya di beberapa daerah juga tidak mengubah nasibnya karena harga gabah dan beras terus anjlok. Biaya produksi tinggi, sementara harga panen terus merosot. Benar-benar memilukan nasib petani. Selain fragmentasi lahan, produktivitas menjadi persoalan utama yang masih terabaikan. Tetapi isu kenaikan produktivitas pertanian berkesan belum membangkitkan perhatian para penentu kebijakan pertanian. Keberpihakan kepada petani masih kelabu, sementara UU pertanian secara komprehensif dan berkeadilan belum lahir. Menjelang musim tanam kedua tahun 2007, sektor pertanian yang menjadi gantungan hidup 60% penduduk masih berkutat dengan beragam persoalan. Di antaranya keterbatasan pasokan pupuk, tarik ulur kenaikan harga pupuk, kemerosotan harga beras dan kebijakan impor beras yang berkelanjutan. Mari semua pihak belajar manajemen dan membangun sistem yang benar untuk menyikapi permasalan tersebut. Kekurangan pasokan pupuk menjelang musim tanam selalu terjadi yang berakibat terjadi kelangkaan dan permainan sehingga harga melambung. Di samping itu, persoalan klasik yang masih mengemuka yaitu fanastisme petani terhadap pupuk kimia. Menyikapi situasi yang kurang menguntungkan tersebut, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Green Harvest Semarang telah melakukan uji coba pemupukan di Batang, Kendal, Demak, Purwodadi, Sragen, Boyolali dan sentra padi di Jateng. Lembaga ini peduli membantu petani yang membutuhkan pupuk majemuk tabur dan pupuk pelengkap cair. Pupuk tersebut terbuat dari bahan sisa tambang yang di negara Sakura terkenal dengan sebutan guano karena berasal dari batu-batuan tambang. Pupuk tersebut teruji selama 10 tahun, berstandar SNI, irit dan harga terjangkau. Pupuk yang mengandung unsur hara makro clan mikro tersebut cocok untuk segala tanaman, ditambah unsur aktivator 10%. Pupuk majemuk ini cocok untuk tanaman hias, pisang, ubi-ubian, bawang, kacang-kacangan, semangka, melon, cabai, tomat, sayuran, buah, jagung, padi, sampai tanaman keras seperti kelapa sawit. Lahan padi seluas 1 ha butuh pupuk 25 kg ditambah 200 kg urea, total biaya pemupukan Rp 490 ribu. Demo lokasi pada lahan percontohan seluas 6 ha di Desa Pilang Wetan, Kecamatan Kebonagung Demak telah terjadi peningkatan hasil 1,3 ton/hektare atau naik 18,57%. Keunggulan pupuk ini selain irit, juga struktur tanah jadi gembur, padi dan batang lebih kuat, produksi tinggi sementara biaya pemupukan berkurang 40%-50%. Agus Sugiyanto (081326599572) Jl Bukit Kelapa Sawit II/Al 16, Semarang Menahan STTB Anak saya sekolah SMA swasta dan telah mengikuti ujian akhir. Sebelum pengumuman saya mendapat surat perihal sumbangan untuk memberi alat-alat sekolah milik yayasan yang gedungnya besar, megah dan menebarkan sayapnya ke mana-mana. Pertanyaan saya, apakah siswa yang tidak mampu juga ada yang sekolah di sana. Padahal tiap tahun orang tua membayar uang alat dua kali setara uang sekolah yang kalau tiga tahun jumlahnya sudah berapa ?. Kalau dihitung uang itu kan bisa dipakai untuk membeli alat-alat seperti 2 buah LCD, 3 OHP dan sound system kelas seperti yang tertera dalam surat sumbangan tersebut. Saya orang tua yang menyekolahkan anak di sana menyayangkan tindakan sekolah yang menunda pemberian STTB karena siswa tidak memberikan sumbangan sebesar Rp 200 ribu. Padahal saya sudah melunasi kewajiban membayar uang alat, SPP, uang ujian dan lainnya sehingga kewajiban sekolah memberikan hasil belajar siswa. Buat orang tua yang perlu dilakukan dengan kondisi ekonomi seperti ini adalah, sekolahkan anak di sekolah yang biayanya lebih ringan. Saya merasa semua sekolah sama karena gurunya juga S1 Pendidikan; ada lab; menggunakan kurikulum sama serta ada pengawasan dari Dinas Pendidikan. Jangan terpengaruh dengan slogan besar atau modern dari sekolah yang gedungnya mewah tapi praktiknya kurang banyak. Hindari sekolah yang biayanya tinggi namun hasilnya biasa saja. Ke depan saya berharap semua anak bangsa ini dapat menyelesaikan pendidikan minimal SMA atau sederajat. Andreas S Budijono SPd Perum Dempel Baru Kav.-35, Semarang *** Jawaban Bank Mandiri Sehubungan pengaduan saya di Surat Pembaca 13 Juni 2007 tentang "Bank Mandiri" yang berkaitan dengan Asuransi Wana Artha Life Cabang Purwokerto, saya sampaikan bahwa permasalahan tersebut sudah diselesaikan dengan baik oleh yang lembaga tersebut pada tanggal 19 Juni 2007. Sehingga saya tanggal 3 Juli 2007 sudah dapat mengambil agunan kreditnya. Saya berterima kasih kepada Bank Mandiri dan Asuransi Wana Artha Life yang telah merespon baik dan menyelesaikan permasalahan tersebut dengan kekeluargaan. Deborah Lianawati (0281 639290) Jl KH Agus Salim 40, Purwokerto *** Dari LBH Semarang Pada 2 Juli 2007 datang seorang yang mengaku korban tenggelamnya KM Senopati Nusantara untuk klarifikasi terkait adanya informasi dari oknum yang mengatasnamakan organisasi/perorangan. Oknum tersebut menerangkan, LBH Semarang telah mengurus dan memenangkan secara pidana kasus KM Senopati. Dikatakan oknum tersebut, dalam amar putusan kasus pidana tersebut akan digunakan sebagai alat bukti untuk menuntut ganti rugi sebesar Rp 100 juta bagi yang meninggal dan Rp 50 juta untuk yang hidup. LBH Semarang menyatakan kepada masyarakat khususnya korban KM Senopati Nusantara atau ahli warisnya bahwa informasi tersebut tidak benar. Sampai saat ini LBH Semarang tidak pernah menangani kasus pidana terkait dengan tenggelamnya KM Senopati Nusantara. Mohon korban maupun ahli waris tidak memercayai dan terjebak informasi tersebut. Tandiono Bawor Purbaya SH Direktur LBH Semarang *** Karya Rejeki Motor Saya kredit motor Honda Supra 125 di Karya Rejeki Motor Jl MT Haryono 82 Semarang pada tanggal 11 Juni 2007 dengan uang muka Rp 6 juta saat acara pameran di Ciputra. Sales menjanjikan saya akan mendapat hadiah ponsel tetapi tidak jadi dengan alasan hanya untuk pembeli jenis Revo.. Namun untuk hadiah cabutan bisa langsung minta. Saya kemudian minta TV 21 dan sales menyanggupi. Ternyata saya kecewa 3 kali. Pertama motor baru tetapi tebeng depan lampu kocak (bengkel Honda cuma mengganjal). Kedua, rumah baut tebeng ada 1 yang aus ( pihak bengkel mengedratkan). Ketiga, tanggal 30 Juni 2007 waktu pengambilan hadiah cabutan TV 21, pihak dealer menolak dan tetap harus ambil undian. Saya pulang dengan perasaan dongkol dan saat saya telepon salesnya, baru bicara sebentar ponsel langsung dimatikan. Erliawan S Budianto Jl Argo Mukti 826, Semarang *** ATM BCA Kudus Pada 4 Juni 2007 pukul 14.10 WIB saya mengambil uang di ATM BCA Jl A Yani Kudus, tetapi karena terburu-buru kartu masih tertinggal di mesin dalam kondisi masih aktif. Akibatnya ada orang yang melanjutkan transaksi dan mengambil uang saya sebanyak Rp 1.250.000. Saya adukan hal tersebut ke BCA yang melayani dengan baik. Kemudian pada 6 Juni 2007 pukul 09.00 WIB, saya ditunjukkan rekaman gambar CCTV yang nampak jelas pengambilnya. Di gambar dia semula mengambil kartunya sendiri dari dompet. Tetapi niat tersebut diurungkan dan kartunya dimasukkan kembali karena melihat ada kartu saya yang tertinggal dalam keadaan aktif. Dia lalu melanjutkan transaksi menggunakan kartu saya. Uangnya masukkan ke dalam tas hitam yang dicangklongkan di lengan kirinya. Tindakan tersebut tidak terpuji yakni mengambil uang dengan memanfaatkan kealpaan saya. Pernah seorang ibu dengan tulus ikhlasnya mengembalikan kartu ATM saya yang beberapa waktu lalu juga ketinggalan di mesin. Saya imbau BCA Kudus memberi sekat untuk ATM di Jl Jend Ahmad Yani sehingga privasi pelanggan lebih terjaga dan keamanannya juga terjamin. Yusron SSos Jl Kyai Telingsing 1, Kudus *** RMS Muncul Lagi Kata Bung Karno (Presiden pertama RI) bahwa paham, idiologi, keyakinan, tidak akan mati. Kalau ketiga hal tersebut mengarah kepada persatuan, kerukunan dan kesejahteraan maka harus dilestarikan. Tetapi kalau sebaliknya harus diberantas dari Bumi Pertiwi tercintai ini. Karenanya sangat aneh kemunculan unsur RMS lagi di saat Harganas yang dihadiri presiden di Ambon. Mengapa para pelaku unsur RMS belum mau memahami bahwa NKRI sudah merdeka sejak 1945? Sangat mungkin ada unsur baik dari dalam maupun dari luar negeri yang sengaja dan terencana mengintervensi. Saya yakin kalau para pelakunya pasti dibayar cukup tinggi, seperti para pelaku demo sekarang ini. Pada Clash ke-2 sekitar tahun 1947, penjajah menyerang lagi ke berbagai kota besar di Indonesia. Sebagai batalyon penyerang (stottroep), penjajah menggunakan pasukan berkulit coklat hitam, baret hijau, leher berwarna merah yang bersikap kejam kepada siapapun yang dijumpai. Ternyata mereka adalah bangsa kita sendiri yaitu dari Pulau Seram. Pada saat penyerahan kedaulatan kepada Indonesia bulan Desember 1949, tentara penjajah pulang dan pasukan stottroep sebagian besar ikut ke negeri Belanda dan sebagian menjadi pasukan RMS. Pada waktu saya studi ke Belanda, bangsa kita yang ikut pulang bersama penjajah ke negeri Belanda tersebut ternyata ditempatkan terpisah (didiskriminasi) dengan bangsa Belanda asli. Mereka dibuatkan kampung di sebelah utara lapangan udara Veyenoort Amsterdam. Sampai sekarang mereka masih ada, yaitu anak cucu pasukan stottroep penjajah kita. Awas dan waspada. Tidak hanya RMS yang muncul lagi, tetapi ada fenomena DI/TII juga akan muncul dan mengganti Pancasila dengan pahamnya. Mengapa mereka tidak mau memahami kalau ideologi bangsa, dasar negara, cita-cita bangsa, Pancasila ini berasal dan digali dari Bumi Pertiwi. Sedang paham mereka berasal dari negara asing alias impor. Pelestarian Pancasila harus dicontohkan oleh para tokoh anak bangsa yang kebetulan kini menjadi stakeholder, pemangku kepentingan dan jabatan serta para tokoh masyarakat utamanya di dunia pendidikan, pengaman dan pengadilan. Sikap Pancasila adalah sopan santun, tidak suka bermusuhan, tidak suka pasang bom, tidak suka cekcok, peduli sesama, tidak membedakan suku, bangsa, agama, kepercayaan serta suka menolong sesama, suka beramal. Pokoknya sikap yang serba baik. Pancasila harga mati. Matinya Pancasila bersamaan dengan datangnya dunia kiamat. Mari selalu siap siaga mempertahankan Pancasila dan mari menjadi bangsa Pancasila sejati. Moeljono HP Jl Banteng Utara VII/1, Semarang *** Perpisahan SMP Perpisahan biasa diadakan pada akhir tugas belajar/lulus dari jenjang pendidikan. Memang sering diadakan dengan acara yang mengesankan bagi siswa maupun para guru. Demikian pula di SMP Domenico Savio Semarang, 22 Juni 2007 mengadakan perpisahan di gedung di kawasan Jl. Pemuda. Lebih dari Rp 250 juta dihabiskan untuk malam perpisahan yang "mengesankan". Eman-eman biaya begitu besar dan keprihatinan ini pernah saya utarakan 2 kali yaitu tahun 2005 dan tahun 2007 saat sosialisasi. Saya prihatin, saat anak akan meninggalkan bangku SMP justru dibekali semangat hedonisme dan konsumerisme serta jauh dari kesederhanaan. Manfaat apa yang diperoleh bagi para siswa dan ini yang perlu dipelajari oleh pihak sekolah. Padahal untuk membayar sumbangan wajib saja cukup berat. Orang tua juga mengeluarkan biaya tidak sedikit untuk melanjutkan sekolah anaknya. Juga tidak adanya sikap toleransi terhadap sesama, merasa mampu dalam hal materi, mau menang sendiri, tidak adanya keterbukaan, tidak bisa menerima pendapat orang lain. Kenapa tidak menggunakan fasilitas sekolah di lapangan terbuka dengan api unggun. Para siswa secara perorangan atau kelompok membuat janji terhadap almamaternya, Kota Semarang, negara Indonesia, tanpa baju baru, tanpa sepatu baru dan tentunya biayanya tidak ratusan juta. Hal ini yang sepatutnya ditanamkan oleh lembaga pendidikan pada anak didiknya sehingga semangat habitus baru tidak hanya jadi bahan sarasehan atau slogan tapi orang tua, lingkungan (sekolah) juga ikut menanamkan pada anak didik. Tahun depan bagaimana, sebaiknya pihak sekolah membuat kuisener pada orang tua dan dianalisa secara terbuka. Selamat Dominico Savio lulus 100%. Agus Suminto Jl Pusponjolo Tengah 100, Semarang *** Selektif Ikuti Lomba Dalam suatu lomba, kalah menang hal biasa. Tapi pengalaman mengantar anak kali ini, membuat saya berpikir dan mengimbau agar lebih berhati-hati mengikuti lomba yang diadakan oleh bimbingan belajar tertentu. Maksud awal menambah wawasan anak tapi justru membuat si anak jadi trauma. Pada tanggal 17 Juni 2007, anak saya ikut lomba mata pelajaran (sains) di Sri Ratu Peterongan Semarang yang diadakan oleh bimbingan belajar "Smile Kids". Menurut panitia, pengumuman dilakukan 2 jam setelah lomba tapi ternyata hanya dalam 15 menit sudah diumumkan juaranya. Karena kebetulan soalnya dibagikan kepada peserta, jadi saya mencoba mencocokan jawaban anak saya. Kemudian menanyakan ke panitia urutan pemenang tapi dijawab tidak tahu dan baru 2 hari berikutnya bisa dilihat di tempat bimbingan belajar. Saya heran karena pemenang sudah ada namun kok urutan ranking belum ada. Ketika saya ke tempat bimbingan belajar tersebut dan melihat hasilnya ternyata ada kesalahan. Saya periksa pekerjaan anak saya, ternyata jawaban yang benar malah disalahkan. Akhirnya memang panitia diakui poin anak saya tertinggi. Namun menurut mereka hal itu terjadi karena ada kesalahan kunci jawaban serta tetap tidak merubah kedudukan pemenang. Pertanyaan, dari sekian anak yang mengerjakan apakah dengan kesalahan sama atau pemenangnya sudah dipastikan. Semua merupakan tanda tanya yang tak terjawab, Saya mengimbau masyarakat selektif mengikutkan anak dalam lomba apalagi yang diadakan bimbel. Bisa dibayangkan bimbingan seperti apa yang diberikan kepada anak-anak. Dwi Susanti Jl Bukit Megah 36, Semarang *** PT Askes Yogyakarta Istri saya melahirkan caesar di RS swasta Semarang yang punya jalinan kerja sama dengan PT Askes, jumlah total biaya Rp 6.685.847. Dia dapat ganti dari PT Askes Rp 750.000 jadi saya harus bayar Rp 5.935.847. Teman sekerjanya juga melahirkan caesar di RS swasta yang sama dengan total biaya Rp 5.598.667, dapat ganti Askes Rp 5.132.814 hingga cuma bayar Rp 465.853. Yang mengecewakan, PT Askes membedakan dan menangguhkan hak setiap peserta dengan kelas dan fasilitas sama. Setelah konfirmasi ke kantor, istri saya klaim ke PT Askes Yogyakarta pada 12 Maret 2007 tapi baru dijawab 26 Juni 2006. Isinya, hal itu sudah "paket" kerja sama serta klaim yang keluar sebelumnya merupakan kesalahan manajemen. Masa berlaku kartu peserta Askes mulai 1 September 2006 s.d 30 Agustus 2007. Kesimpulan, klaim pemegang kartu Askes sifatnya untung-untungan. Sekarang tinggal menunggu 1 bulan ke depan untuk menyelesaikan kontrak kerja sama dengan ketidaktransparan dalam kontrak. Padahal untuk melunasi biaya RS saya harus pontang-panting mencari pinjaman. Saya berharap bantuan dan kerja sama pihak berkompeten untuk menyelesaikan masalah ini dan PT Askes selalu meningkatkan kinerja serta profesional dalam melayani/menyelesaikan setiap masalah. Gunawan Lisanto Jl Ngasem III/15 Pudakpayung, Semarang
|