logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 11 Juli 2007 WACANA
Line

Menyikapi Kendala Agrobisnis Persusuan

  • Oleh Agus Wariyanto

BELAKANGAN ini, melambungnya harga susu bubuk dan susu kental manis di dalam negeri cukup memberatkan masyarakat. Meski susu bukan kebutuhan prioritas seperti beras dan minyak goreng, pemerintah terus mencari solusi terbaik untuk mengendalikan lonjakan harganya (SM, 30/6/2007).

Kenaikan harga susu tersebut dipicu oleh kenaikan harga susu dunia, dari semula 2.000-2.500 dolar AS per ton menjadi 4.000-4.500 dolar AS per ton. Kenaikan bahan baku untuk membuat susu bubuk di dalam negeri naik dari Rp 26.000-Rp 27.000/kg menjadi Rp 51.000/kg.

Dampak meningkatnya harga bahan baku susu itu sangat dirasakan oleh para pengusaha industri pengolahan susu (IPS) seperti Indomilk, Bendera, Nestle, dan Danone. Harga susu impor skim milk powder (SMP) sudah melonjak tinggi sejak tahun sebelumnya, sehingga mereka harus antre dan merebut peluang masuknya susu dari dalam negeri yang terkenal murah pada saat ini.

Menyimak kondisi tersebut, pemerintah perlu mengambil langkah ikut membantu peternak sapi dengan memberikan insentif untuk menggenjot produksi susu dalam negeri. Mengingat, Indonesia saat ini sangat bergantung kepada impor susu sapi dari Australia, Selandia Baru, dan sedikit dari Kanada.

Di samping itu, perlu meningkatkan investasi yang mengedepankan kualitas dengan ditunjang aplikasi teknologi yang tepat guna dan sistem operasional yang profesional, baik dari teknis, ekonomi, maupun manajemen.

Kondisi peternakan sapi perah di dalam negeri sangat memprihatinkan, sehingga perlu mendapat penanganan serius. Oleh karena itu, jika tidak ada crash program untuk mengatasi masalah tersebut, Indonesia akan terperangkap dalam food trap dalam jebakan impor pangan. Di sisi lain, guna mencerdaskan bangsa perlu pemenuhan kebutuhan protein hewani yang paling utama, antara lain dari susu.

Kendala

Berbagai kendala terus-menerus dihadapi dalam sistem agrobisnis persusuan atau sapi perah, mulai dari subsistem praproduksi, produksi, sampai pascaproduksi (pengolahan dan pemasaran). Di antaranya, tingginya harga bibit yang bermutu, penyediaan pakan yang memadai, dan penguasaan teknologi budi daya sapi perah.

Sementara itu, kondisi tersebut diperparah dengan masalah agrobisnis di bagian hilir. Khususnya di bidang pemasaran susu, posisi tawar peternak sapi perah kita masih lemah.

Persoalan agrobisnis persusuan di Tanah Air dewasa ini cukup kompleks. Pertama, produktivitas sapi perah rakyat umumnya masih rendah, 8-10 liter/ekor/hari. Sementara itu biaya produksi seekor sapi perah setara dengan delapan liter susu per hari.

Kedua, keterampilan SDM masih rendah, terutama dalam penerapan mutu dan teknologi. Ketiga, kepemilikan ternak sapi perah relatif rendah, rata-rata 2-3 ekor/peternak. Idealnya 10-15 ekor/peternak, atau rata-rata tujuh ekor ternak sapi perah yang sedang laktasi dengan tingkat produksi susu 15 liter/ekor/hari.

Dirjen Peternakan, Ir Mathur Riady MSi mengatakan, populasi ideal untuk mencukupi kebutuhan permintaan susu segar dan susu olahan di Tanah Air sebanyak satu juta ekor, sehingga terjadi kekurangan populasi 626.000 ekor atau 147,7%.

Kebutuhan investasi menuju kecukupan susu nasional setiap tahunnya mencapai Rp 2,6 triliun. Secara faktual, kemampuan pendanaan pemerintah sangat terbatas, sehingga terjadi financial gap antara kebutuhan dan penyediaan pembiayaan.

Kini tercatat paling tidak ada 81.000 peternak sapi perah di Indonesia. Tujuan pasar utama susu (96%) dari para peternak tersebut adalah IPS yang ada di Jakarta, Jabar, Yogyakarta, dan Jatim. Sampai sekarang produksi susu dalam negeri baru mampu memasok 25-30% kebutuhan IPS.

Di sisi lain, terbuka lebar beberapa peluang agrobisnis persusuan Indonesia. Pertama, perkembangan agrobisnis berbasis komoditas susu sapi perah rakyat menunjukkan perkembangan yang makin signifikan, terutama dengan kian berkembangnya IPS sebagai mitra kerja para peternak sapi perah dan koperasi susu.

Kedua, meningkatnya permintaan susu sapi perah, terutama dalam upaya pencapaian gizi masyarakat. Konsumsi susu masyarakat kita masih rendah sekitar 7,05 kg/kapita/tahun atau sekitar 19-20 tetes sehari. Angka itu jauh di bawah Malaysia (20 kg), Filipina (20 kg), Thailand (20-25 kg), maupun Singapura (32 kg).

Menjanjikan

Agribisnis persusuan mempunyai prospek menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pasalnya, kebutuhan protein hewani terus meningkat, serta ketersediaan sumber daya alam dan SDM masih cukup memadai.

Berbeda dari pangan yang lain, produk peternakan termasuk susu bukan digerakkan oleh supply driven, tapi consumen driven. Hal itu disebabkan karena produk susu masih tetap akan dibutuhkan seiring dengan peningkatan dan kesejahteraan masyarakat untuk meningkatkan gizi.

Ada empat aktivitas yang perlu ditempuh untuk mendukung kecukupan susu nasional, yakni di samping mengoptimalkan sinergitas jejaring pemasaran, juga peningkatan produktivitas sapi perah melalui aplikasi teknologi inseminasi buatan (IB), fasilitasi investasi sapi perah, dan review terhadap struktur industri sapi perah.

Pada gilirannya, berbagai kendala agrobisnis persusuan nasional harus disikapi dengan memerankan seluruh stakeholder melalui pendekatan profesionalisme. Implikasinya, tetap mengutamakan keberpihakan kepada petani peternak dalam mewujudkan agrobisnis yang mandiri dan berkelanjutan.(68)

- Agus Wariyanto, Ketua Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) Cabang Jateng I, Kepala Bidang Agrobisnis pada Bagian Bimbingan Massal Ketahanan Pangan (BBMKP) Provinsi Jateng.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA