| Rabu, 11 Juli 2007 | NASIONAL |
Bertahan dengan Bambu RuncingSIDOARJO- Bak para pejuang yang ingin mempertahankan kemerdekaan, warga Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo yang jadi korban lumpur PT Lapindo Brantas, juga mempersenjatai diri dengan bambu runcing untuk tetap bertahan di lokasi pengungsian di Pasar Baru Porong. Warga yang tergabung dalam Pagar Rekontrak (Paguyuban Warga Renokenongo Menolak Kontrak) itu membuat puluhan bambu runcing untuk berjaga-jaga. Senjata ini dipakai untuk mempertahankan keberadaan mereka di lokasi pengungsian. ''Ini hanya untuk berjaga-jaga, bukan untuk berperang," ujar H Sunarto, Ketua Pagar Rekontrak kepada wartawan, Selasa (10/7). Langkah mempersenjatai diri itu dilakukan warga karena mereka diminta untuk meninggalkan lokasi pengungsian tersebut. Pasar itu selanjutnya akan difungsikan sebagaimana mestinya, sebagai pusat perdagangan dan perekonomian warga Porong dan sekitarnya. H Sunarto mengatakan sangat menyesalkan sikap dan kebijakan Bupati Sidoarjo Wien Hendrarso yang terkesan membenturkan kepentingan warga yang mengungi dengan Himpunan Pedagang Pasar (HPP) Porong. Sebelumnya Bupati meminta warga mengosongkan pasar karena akan ditempati HPP. Permintaan ini sesuai arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berkunjung ke Sidoarjo. Targetnya Agustus tahun ini lokasi pengungsian pasar itu harus kosong dari pengungsi. "Dulu yang menyuruh mengungsi di tempat ini Bupati Wien, sekarang kok malah kami diadu dengan pedagang pasar," tegas Sunarto. Konflik Horisontal Warga Renokenongo bersikukuh tak bersedia pindah dari pasar itu, sebelum tuntutan uang muka 50% plus tanah 30 ha dan sisanya dicicil 2 kali dipenuhi PT Lapindo Brantas. Namun, jika warga tetap bertahan di pasar itu dikhawatirkan akan menimbulkan konflik horisontal. Sebab, pedagang yang tergabung dalam HPP Porong tak sabar lagi menempati lokasi pasar baru itu. H Abdul Fanan, Ketua HPP mengatakan sejak terjadinya semburan lumpur panas kondisi pedagang di Pasar Porong Lama memprihatinkan. "Yang jelas penghasilan pedagang menurun drastis," tegasnya. Sementara itu, proses transaksi jual-beli antara PT Minarak Lapindo Jaya dan pemilik lahan dan bangunan yang terkena dampak lumpur panas terus berjalan. Setelah Senin (9/7) dilakukan transaksi 44 bidang tanah dan bangunan, Selasa kemarin (10/7), berlangsung transaksi dengan pemilik 30 bidang tanah dan bangunan milik warga Perumtas I di Desa Kedungbendo dan warga Desa Renokenongo. "Begitu terima hasil verifikasi langsung kami transaksikan. Ini kami lakukan agar kita dapat mencapai target sesuai waktu yang diberikan pemerintah," tegas Direktur Operasional PT MinarakLapindo Jaya, Bambang Prasetyo Widodo. Dia mengatakan 30 bidang tanah dan bangunan itu milik 12 warga Desa Kedungbendo Perumtas I dan 18 warga Desa Renokenongo. Nilai total transaksinya sebesar Rp 4,74 miliar, sehingga total uang muka 20% yang dibayarkan Rp 948,1 juta. "Total lahan yang ditransaksikan adalah pekarangan seluas 2.948 m2 dan bangunan1.195 m2," jelasnya. (G14-77) |