| Rabu, 11 Juli 2007 | NASIONAL |
MUSIBAH Derita Korban Lumpur Lapindo (1)Aksi Demonya Menyayat Hati
Tanpa terasa perjuangan korban lumpur Lapindo yang berada di Tugu Proklamasi, memasuki hari ke tujuh belas. Selama itu, apa saja yang telah mereka lakukan untuk mengembalikan hak-hak mereka agar dapat hidup layak, yang telah tercerabut? Tulisan ini akan menceritakan kisah mereka selama di Jakarta, dalam dua seri. DENGAN menggunakan kereta api ekonomi dari Surabaya, sekitar 150 korban lumpur dari Perumtas (Perumahan Tanggul Angin Anggun Sejahtera) Porong Sidoarjo, sampai di Jakarta, Senin (25/6). Tidak hanya bapak-bapak, dalam rombongan juga terdapat ibu-ibu dan anak-anak. Mereka langsung menuju tugu proklamasi yang digunakan sebagai posko induk perjuangan. Pada hari kedatangan mereka, tidak banyak kegiatan yang dilakukan, selain duduk-duduk di bawah pepohonan taman Tugu Proklamasi, serta rapat koordinasi mengenai aksi yang akan dilakukan. Baru di hari kedua, Selasa (26/6), dengan menggunakan metromini, mereka mendatangi gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang berjarak lebih dari sepuluh kilometer dari posko. Di sana mereka diterima enam anggota DPR, di antaranya Permadi dan Jacobus Mayong Padang. Di gedung para wakil rakyat tersebut mereka menyampaikan tuntutan, agar PT Lapindo Brantas atau pemerintah segera menyelesaikan ganti rugi sebesar 100 persen. Permadi menyambut dengan berorasi. Dia mengatakan akan mendesak pemerintah melalui usulan interpelasi Lapindo. Selanjutnya, perwakilan para korban, diizinkan melihat rapat paripurna DPR. Pada hari selanjutnya, korban lumpur ini mendatangi Istana Wakil Presiden di Jalan Medan Merdeka Selatan. Aksi demo kali ini, sungguh menyayat hati setiap orang yang melihatnya. Beberapa pendemo berteriak sambil menangis histeris seperti kesurupan, seakan putus asa, bahkan seorang ibu jatuh pingsan. Beberapa ibu-ibu berguling-guling di jalanan. Melihat hal itu anak-anak mereka, ikut-ikutan menangis, air mata mereka seakan tumpah. Sebelumnya bentrokan dengan petugas kepolisian tidak terhindarkan. Akibat bentrokan tersebut salah satu di antara pendemo, Maulana Hanafi diamankan petugas kepolisian, sebelum akhirnya dilepaskan kembali. Maraton Kamis (28/6), mereka kembali berdemo. Kali ini seperti maraton, karena digelar di tiga tempat berbeda. Dimulai dari kediaman Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Aburizal Bakrie (Ical), di Jalan Ki Mangun Sarkoro No 42 Jakarta Pusat. Di tempat ini mereka hanya dapat mendekat sampai jarak sekitar 100 meter dari rumah Ical, karena dilarang oleh petugas kepolisian. Hanya teriakan tuntutan kadang diselingi umpatan yang dapat mereka keluarkan. Kemudian aksi berlanjut di kantor Menko Kesra. Lagi-lagi mereka tidak dapat bertemu dengan Ical karena sedang mendampingi Presiden ke Ambon. Sepuluh perwakilan hanya ditemui Kepala Biro Informasi dan Persidangan Hendra Rusdiawan dan Kepala Biro Umum Ngatiyo Ngayoko. Aksi terakhir pada hari itu, mereka melakukan long march menuju Bundaran Hotel Indonesia sejauh kurang lebih dua kilometer dari kantor Menko Kesra. Sekali lagi mereka melakukan orasi. Dikarenakan kekurangan uang selama di Jakarta, rombongan pertama ini digantikan rombongan kedua yang datang dari Desa Renokenongo Porong Sidoarjo, yang kini mengungsi di Pasar Baru Porong. Aksi dari rombongan kedua ini berlangsung di Wisma Bakrie Jalan Rasuna Said. Seperti pada aksi-aksi sebelumnya, kedatangan mereka disambut petugas kepolisian dalam jumlah yang jauh lebih banyak dari pendemo. Lagi-lagi Ical tidak menemui mereka. Entah kini dengan alasan apalagi. Pendemo tidak tahu karena tidak ada perwakilan yang diterima. Kini mereka tidak lagi melakukan aksi ke jalan, yang disebabkan ketiadaan dana untuk menyewa metromini, serta perasaan kecewa karena tidak pernah membuahkan hasil. Kemarin (10/7), lima orang perwakilan pendemo kembali mendatangi DPR. Memanfaatkan momentum rapat paripurna DPR dengan agenda interpelasi masalah nuklir Iran. ''Sekarang ini kami mengharap pemimpin-pemimpin kita peduli. Kalau anaknya datang untuk menemui mereka, sebagai bapak, seharusnya mereka datang menemui kami di sini (tugu proklamasi-red). Hanya itu yang bisa kami harapkan,'' ujar salah satu koordinator pendemo, Tajo (57).(Wahyu Wijayanto-49) | ||||