logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 11 Juli 2007 NASIONAL
Line

Pasukan Komando Gempur Masjid Lal

  • Diduga 400 Orang Tewas

ISLAMABAD - Pasukan Pakistan menggempur kaum militan di kompleks Masjid Lal atau Masjid Merah Selasa kemarin. Pertempuran berlangsung sengit dari satu ruangan ke ruangan lain. Militer menyatakan sedikitnya 60 orang tewas, termasuk delapan tentara.

Namun, Direktur lembaga bantuan Yayasan Edhi, Abdul Sattar Edhi, mengatakan militer telah memesan 400 kain kafan. Jumlah korban tewas diyakini lebih banyak dari versi militer. Sebab, sebelum gempuran itu dilaporkan sekitar 50 santri perempuan dan 26 anak-anak dibebaskan oleh militan. Padahal, di kompleks masjid dan pesantren itu masih ada 800 santri.

Ulama Abdul Rashid Ghazi tewas dalam gempuran itu. ''Ghazi dikelilingi para santri di lantai dasar madrasah Jamia Hafsa. Dia tewas dalam baku tembak,'' kata juru bicara Kementerian Dalam Negeri Javed Iqbal Cheema.

Serbuan dengan nama sandi ''Operasi Sunyi'' itu dimulai pukul 04.00 waktu setempat (pukul 06.00 WIB) dan berlangsung selama 15 jam.

Juru bicara militer Mayor Jenderal Waheed Arshad mengatakan 29 tentara Pakistan terluka, dan sekitar 50 militan tewas. Lebih dari 50 militan tertangkap.

Penyerbuan itu bertujuan mengakhiri pengepungan terhadap Masjid Lal yang telah berlangsung selama sepekan. Aparat mengatakan, kaum militan membalas serangan dengan menembakkan senjata otomatis dan granat bertenaga roket.

''Terjadi baku tembak sengit. Militan menyerang hampir dari setiap ruangan di kompleks itu. Mereka bertempur dari ruangan ke ruangan. Mereka ada di lantai dasar dan lantai atas,'' kata Arshad.

Dia menjelaskan kompleks masjid dan madrasah itu memilih lebih dari 70 ruangan. Kaum militan sangat menguasai medan tempur tersebut. Namun, tentara Pakistan sampai kemarin mengklaim telah menguasai dua pertiga kompleks itu.

Masalah Serius

Sekitar 30 anak dan 24 perempuan telah dikeluarkan. Namun belum jelas berapa banyak santri anak dan wanita yang masih berada di kompleks masjid. ''Setelah dikeluarkan, enam santri anak menceritakan bahwa selama sepekan terakhir mereka dikumpulkan di lantai dasar masjid. Mereka kemudian kabur ketika para militan menghilang setelah pasukan komando menyerbu,'' ujar Arshad.

Sampai kemarin sore, sejumlah ledakan keras masih terdengar dari dalam kompleks. Kaum militan juga menyerang dari menara-menara Masjid Lal.

Pasukan komando juga diserang dari atap madrasah. Mereka terpaksa mencari jalan melalui sisi gedung.

Semula ada kekhawatiran kelompok militan akan meledakkan bom-bom bunuh diri. Sebab, pada Senin lalu para militan telah membagikan jaket penuh berisi bahan peledak.

Jatuhnya korban tewas anak-anak dan perempuan bakal menjadi masalah serius bagi Presiden Pervez Musharraf.

Masjid Lal selama bertahun-tahun ini menjadi pusat militan yang mendukung Talib Afghanistan dan menentang dukungan Musharraf kepada Amerika Serikat.

Beberapa ratus meter dari pagar kawat dan barikade militer, pulihan orang tua dan kerabat para santri menunggu dengan cemas.

Sebagian besar tak bisa berkata-kata karena sedemikian tegang. sebagian lagi geram terhadap tindakan pemerintah.

Lali Gul, ayah seorang santri dari Kota Charsadda, mengatakan, ''Para santri bersedia keluar namun takut kalau-kalau pasukan akan menembaki mereka.''(rtr-ben-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA