logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 11 Juli 2007 KEDU & DIY
Line

Menikmati Bakpia Tradisional di Tengah Kampung

  • Oleh Agung PW

BERLIBUR ke Yogyakarta tidaklah lengkap sebelum menikmati makanan khas ini, bakpia. Ada banyak pembuat bakpia dengan rasa dan aroma khas masing-masing namun yang sangat berbeda yakni bikinan Ny Wahyu, Plompong, Florentina, dan beberapa orang lagi yang masih bersaudara.

Memang belum lama mereka menggeluti dunia perbakpiaan tapi begitu membuat langsung laris manis. Mereka tidak menggunakan resep neko-neko, hanya memakai bahan-bahan asli tanpa campuran pewarna, penambah rasa atau pengawet. Jadi rasanya benar-benar asli apalagi dimasak dengan cara tradisional sehingga membuat masakan itu terasa khas.

''Kualitas benar-benar dijaga agar tidak mengecewakan pembeli baru dan pelanggan. Makanya kami tidak mencampur dengan bahan yang aneh-aneh, cukup bahan asli,'' tutur Ny Wahyu Suginem yang menamai produksinya Bakpia Pathok 694.

Mengapa 694? Angka tersebut dipakai karena alamat rumah mereka di Patuk NG I/694 Yogyakarta. Tepatnya di sebelah barat Pasar Patuk, masuk gang kecil menyusuri rumah-rumah sederhana dan pas di tengah-tengah Pasar Senen, tempat jual-beli di perkampungan itu.

Di sebuah rumah sederhana, di situlah dia memproduksi sekaligus memajang dagangannya. Beberapa orang tampak sibuk membuat adonan, memasak kumbu untuk isi bakpia, sebagian lain memanggang di atas kompor. Proses memasak tak lama, bakpia matang setelah 10 menit di atas panggangan.

''Kalau yang model kering agak lama sedikit di panggangan agar terasa kering renyah,'' ujarnya.

Butuh Modal

Bersama sang suami, Sumardiyo, ditemani anak-anak dan kerabat, mereka setiap hari bangun pukul 03.00 untuk memulai aktivitas membuat bakpia. Bahan-bahannya selalu baru, disiapkan mulai dari membuat adonan sampai memasak dan memasukkan ke dalam kardus.

''Yang pasti selalu ada rasa kacang ijo biasa, kumbu hitam, dan keju. Kalau pas musim durian dibuat juga rasa buah itu dan larisnya minta ampun. Rasa cokelat juga ada tergantung pesanan,'' imbuh Plompong, panggilan akrab Sumardiyo.

Usaha tersebut baru dimulai awal tahun 2006 lalu. Baru berjalan beberapa bulan bencana gempa mengguncang Yogyakarta. Namun bukan berarti proses produksi berhenti, dia malah sibuk membuat bakpia untuk korban gempa di wilayah Bantul. Tanpa pamrih apa pun, sekeluarga mengirimkan bantuan makanan khas hasil olahannya ke daerah bencana.

''Setelah itu usaha berkembang cukup pesat. Dalam sehari habis 8-10 kg bahan dasar tapi kalau pas hari libur bisa naik dua kali lipat, kadang 20-25 kg,'' imbuh dia yang meninggalkan pekerjaan menyopir dan banting setir ke usaha tersebut karena hasilnya lebih menjanjikan.

Pendapatan kotor dari berjualan bakpia yang hanya Rp 8.000-Rp12.000/dus pada hari biasa minimal Rp 300.000 dan bisa mencapai Rp 1 juta/hari ketika musim liburan. Setelah dikurangi dengan berbagai biaya dan pembagian dengan saudara-sudaranya, hasilnya cukup untuk menghidupi keluarga.

Meskipun sudah terkenal bahkan sampai ke mancanegara, dia merasa kekurangan modal untuk mengembangkan usaha. Akibatnya, untuk memenuhi pesanan yang kadang berlebihan mereka harus bekerja ekstrakeras. Kalau saja ada cukup modal, Plompong berharap, bisa mengembangkan tempat usaha sekaligus menambah tenaga kerja. (70)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA