| Rabu, 11 Juli 2007 | EKONOMI |
Jumlah Investor Cenderung TurunSOLO-Perkembangan investasi di Jateng selama dua tahun terakhir cenderung mengalami penurunan. Tahun 2005, investasi PMDN tercatat 20 perusahaan. Pada 2006 turun menjadi 15. Sedangkan PMA, pada 2005 tercatat 51 perusahaan, 2006 turun menjadi 16. Namun kendati jumlah investor turun, nilai investasinya justru terus me-ningkat. Pada 2005 nilai investasi PMDN sebesar Rp 1,9 triliun. Tahun 2006 naik menjadi Rp 3,8 triliun. Kenaikan itu terjadi, karena adanya pembangunan pa-brik tekstil besar di provinsi ini. Kepala Badan Pena-naman Modal Jateng Drs Agus Suryono MM mengatakan hal itu di sela-sela acara Pengembangan Fasilitasi Pembiayaan Perbankan untuk PMA dan PMDN di Jateng, yang diselenggarakan di Hotel Sahid Ra-ya, Senin lalu. Ia mengkhawatirkan tahun 2007, karena hingga akhir semester pertama, ba-ru dua investor yang menanamkan modalnya di pro-vinsi ini. Sehubungan de-ngan hal itu, pihaknya mendorong dilakukan upaya peningkatan investasi. Sa-lah satunya dengan melakukan reformasi birokrasi. Dalam bidang perizinan, misalnya dari 35 ko-ta/daerah se- Jateng, seba-gian besar atau 33 di anta-ranya telah melaksanakan one stop service (OSS). Dua kabupaten yang be-lum, yakni Klaten dan Blo-ra. Tahun 2009 semua kabu-paten/kota diharapkan sudah melaksanakan OSS. Dengan OSS, lanjutnya, perizinan dilakukan melalui satu pintu dan waktunya lebih singkat. Yang juga penting untuk dilaksa-nakan, mengurangi transaction cost dengan cara membentuk forum kerja sama, seperti forum pela-buhan, dan forum bandara. Selain itu, membentuk task force (satgas) untuk membantu investor yang bermasalah. Sedangkan untuk menggenjot PMDN, pihaknya berusaha me-ningkatkan pembiayaan perusahaan melalui dana perbankan. Pihak perbankan sen-diri, kata dia, sudah komitmen untuk membantu, tetapi penyerapan dana masih sedikit. Ia mengakui perkembangan ekonomi ma-kro memang tumbuh baik, tetapi itu belum diikuti berkembangnya sektor riil. Kondisi ini menurut dia, perlu memperoleh perhatian semua pihak. Sebab jika sektor riil stagnan, masalah pengangguran dan kemiskinan semakin ber-tambah berat. (bt-33) |