logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 11 Juli 2007 EKONOMI
Line

Pemerintah Menangkan Lelang Obligasi Rp 1,5 T

JAKARTA-Departemen Keuangan melakukan lelang pembelian kembali obligasi negara (debt switch) Selasa (10/7). Jumlah yang ditawarkan peserta lelang sebesar Rp 2,3 triliun, namun nilai nominal yang dimenangkan pemerintah sebesar Rp 1,5 triliun.

Debt switch yang menggunakan fasilitas Ministry of Finance Dealing System (MOFiDS) itu, menawarkan 17 seri obligasi negara dari 20 seri yang jatuh tempo mulai 1 Januari 2008 sampai 31 Desember 2012.

Dirjen Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Walujanto mengatakan, sejauh ini target penjualan SUN sebesar Rp 25 triliun sampai Rp 30 triliun masih cukup aman. Sampai pertengahan tahun, transaksi perdagangan obligasi negara di pasar sekunder naik tajam.

''Tetapi bulan Juli, baik volume maupun frekuensi rata-rata harian jauh lebih rendah daripada bulan Mei dan Juni. Ini menunjukkan pasar obligasi masih mengalami situasi tidak kondusif,'' jelasnya.

Ia menambahkan, hal itu terjadi karena sentimen pasar masih negatif terhadap pasar obligasi negara. Rahmat menyatakan, posisi kepemilikan SUN masih didominasi perbankan sebesar Rp 260,01 triliun. Namun persentasenya mengalami penurunan dari 68,03 persen pada Juni 2006 menjadi 57,15 persen pada Juni 2007 dengan rincian kepemilikan oleh bank BUMN dan bank swasta. Meski begitu, kepemilikan SUN oleh BPD justru naik.

Selain itu, posisi kepemilikan juga dipegang institusi pemerintah, yaitu Bank Indonesia yang naik dari 1,8 persen menjadi 3,07 persen dengan besaran Rp 13,96 triliun. Rahmat menambahkan, kepemilikan oleh non-bank didominasi reksadana yang mengalami pertumbuhan paling positif. Berbeda dengan asuransi dan dana pensiun yang agak berkurang. ''Mereka lebih memilih obligasi korporasi ketimbang obligasi negara. Tapi mereka tetap harus membeli SUN, karena jangkanya lebih panjang daripada obligasi korporasi,'' tambahnya.

Pasar Sepi

Perdagangan SUN pada awal bulan Juli, dikatakan, cenderung sepi dengan besaran transaksi 169 senilai Rp 3,72 triliun. Angka tersebut masih di bawah rata-rata transaksi harian tahun 2007 yaitu 233 transaski senilai Rp 5,97 triliun. Seri yang paling aktif adalah FR0043 dengan volume perdagangan rata-rata per hari Rp 650,45 miliar dengan 24 transaksi.

Menurut Rahmat seri ini banyak diminati, karena jatuh temponya jangka panjang. Penyebab sepinya pasar, karena ekspektasi kenaikan inflasi di AS dan kenaikan tingkat bunga global akibat pertumbuhan ekonomi global. Di samping itu, sektor equity yang mengalami peningkatan indeks cukup tajam juga berpengaruh pada kondisi pasar.

Untuk debt swicth, pemerintah tidak akan menarget, seperti halnya SUN dan Surat Perbendaharaan Negara (SPN). Dengan hasil Rp 1,89 triliun, pemerintah tidak mempermasalahkan, karena dinamika pasar yang membentuknya. Sedangkan untuk debt swap ke Jerman sudah dilakukan sebanyak empat tahap senilai EUR 20 juta. Direktur Evaluasi Akuntansi dan Setelmen Departemen Keuangan Widjanarko mengatakan, angka tersebut masih kecil karena belum ada titik temu antara lender dan pihak pemerintah.

''Angka yang akan ditetapkan selanjutnya bergantung pada hasil audit,'' katanya. (J10-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA