logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 09 Juli 2007 SALA
Line

''Saya Suka ke Solo, Makanannya Lezat dan Murah''

PADA musim liburan sekolah seperti yang terjadi sekarang ini, pedagang makanan di Kota Solo memperoleh hasil lumayan. Tengoklah, setiap malam, pusat makanan tradisional di Keprabon dekat Pura Mangkunegaran, tukang parkir sibuk mengatur mobil plat nomor B, L, W, H, bahkan nomor-nomor luar Jawa.

Wisatawan datang ke kota ini tak menyia-nyiakan kesempatan menikmati nasi liwet, gudeg, nasi goreng, dan ceker ayam. Juga wedang dongo (ronde), martabak, kue terang bulan, siomay, atau serabi. Di antara kerumunan para wisatawan domestik ini, seringkali wisatawan mancananegara berada di tengah -tengah mereka.

''Saya suka berlibur ke Kota Solo ini. Makanannya lezat-lezat dan harganya murah,'' ujar Mike bule asal Belanda yang mengaku beberapa kali ke Kota Bengawan sambil menikmati kue terang bulan yang masih baru diangkat dari cetakannya.

Suka Sate

Apa saja makanan di Solo yang disukai? ''Di sini (di Solo-red), saya suka sate dan nasi goreng. Di Belanda, juga ada yang menjual masakan Indonesia, tetapi di Solo harganya lebih murah,'' katanya.

Yuli, sang anak yang duduk di sebelahnya menambahkan: ''Harga nasi di Solo benar-benar murah''.

Makan nasi liwet di Keprabon ini, seorang menghabiskan Rp 7.500, sudah termasuk es teh dan krupuk. Kue terang bulan yang dimakan Yuli, harganya Rp 7.000, ukurannya cukup besar. Cukup untuk berempat. ''Di Belanda kue seperti ini tidak ada. Ini benar-benar nikmat, saya suka,'' katanya.

Anak dan ibu ini berada di Solo selama dua hari, lalu melanjutkan perjalanannya ke Bali. Di Kota Bengawan, mereka tidur di home stay yang banyak tersebar di sekitar Nonongan. Dengan tarif rata-rata Rp 50.000/malam, para turis mancanegara berkantung tipis menikmati liburannya dengan puas.

Makin banyaknya turis asing yang menginap di home stay, di Jl Yos Sudarso, Nonongan sebelah timur ini bermunculan warung-warung makan model kafe dengan lampu remang-remang. Aneka masakan Barat pun tersedia di sana.

Hingga larut malam, warung-warung itu masih melayani tamu-tamu asing. (Subakti A Sidik-50)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA