logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 09 Juli 2007 SALA
Line

Tawangmangu, Masih Jadi Magnet Wisatawan

GROJOGAN Sewu dan kolam renang Balekambang di kawasan wisata alam Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar masih menjadi magnet bagi wisatawan, terutama lokal. Setiap hari objek tersebut dikunjungi sedikitnya 1.000 orang.

''Namun pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional, pengunjungnya bisa mencapai 6.000 orang. Pada Sabtu dan Minggu selama liburan sekolah tahun ini, jumlah pengunjungnya lebih dari 6.000 orang/hari. Bahkan, objek ini sudah mulai ramai dikunjungi wisatawan lokal sejak bulan Mei, atau satu bulan sebelum liburan,'' jelas Widodo, staf PT Duta Indonesia Jaya, pengelola kawasan wisata seluas 64,5 hektare itu.

Dia menambahkan, pada areal seluas itu, yang dimanfaatkan sebagai taman wisata alam adalah 20 hektare. Biasanya, tujuan utama para wisatawan adalah Grojogan Sewu, yakni air terjun setinggi sekitar 82 meter dan kolam renang untuk anak-anak dan dewasa. ''Seperti musim liburan tahun sebelumnya, banyak rombongan anak-anak sekolah yang berkunjung ke sini. Mereka menggunakan lima sampai tujuh bus besar. Namun, banyak juga keluarga yang sengaja datang ke sini untuk berwisata. Saya kira, Tawangmangu dengan segala daya tariknya masih menjadi salah satu objek wisata andalan di Karanganyar, atau bahkan di Jawa Tengah.''

Rudi (50) dan istrinya Wiwik (45), wisatawan asal Tulungagung, Jawa Timur menyatakan, bahwa mereka sudah lama berkeinginan mengunjungi objek itu. ''Kini cita-cita saya kesampaian juga. Selain harga karcisnya terjangkau, yaitu hanya Rp 6.000/orang, jajanan di dalam maupun di luar kompleks Grojogan Sewu juga murah,'' katanya.

Hal yang sama juga diungkapkan Ali (39) dan Evi (34). ''Dari Semarang, perjalanan memang cukup melelahkan. Namun, ketika sampai di sini, hasilnya impas. Apalagi di sini juga ada persewaan kuda, yang tarifnya terjangkau. Hanya Rp 15.000 - Rp 25.000, sudah muter-muter sak kemenge,'' kata Ali yang mengajak serta dua putra mereka, Oik dan Alvin.

Di kawasan itu ada 150 pedagang dengan berbagai jenis dagangan. Mereka tergabung dalam Persatuan Pedagang Bina Wisata Tawangmangu (Perdabita) yang diketuai Sukiman. ''Berdagang di sini gratis. Kami hanya diminta ikut menjaga kebersihan, ketertiban, dan keamanan,'' kata Sukiman yang juga fotografer amatir itu.

Bagi mereka yang mengais rezeki di kawasan itu, tentu setiap libur sekolah adalah berkah. ''Meski sudah ada kamera digital maupun ponsel berkamera, namun jasa saya tetap dibutuhkan,'' kata Heru, fotografer amatir lainnya.

Sukiman dan Heru masih menggunakan kamera dengan film. Namun film itu mereka potong hanya untuk enam kali jepretan. Para pengguna jasa mereka cukup membayar Rp 20.000 untuk enam kali jepretan itu. ''Filmnya saya serahkan mereka untuk dibawa pulang dan dicetak sendiri di rumah.'' (Ali Arifin Muhlish-50)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA