logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 09 Juli 2007 RAGAM
Line

Kecoa, Serangga yang Mengagumkan

JIKA Anda wanita, mungkin akan langsung kabur begitu melihat serangga kecil ini. Ada juga yang tak segan membunuhnya. Serangga ini memiliki bentuk tubuh oval dan pipih (dorso ventral). Tubuhnya tersusun atas tiga bagian: kepala, thoraks, dan abdomen (perut). Ya, serangga tersebut adalah kecoa.

Pada bagian kepala terdapat sepasang antena, sepasang mata majemuk, dan satu mata tunggal. Seperti serangga lain, kecoa memiliki tiga pasang kaki.

Tubuhnya berwarna cokelat mengkilat. Sekilas tak nampak seperti hewan menjijikkan.

Tapi kebanyakan orang cenderung bereaksi dengan perasaan jijik.

Kecoa banyak terdapat di sekitar kita. Biasanya tinggal di rumah atau tempat tersembunyi. Ia memakan hampir segala macam makanan.

Baunya yang tidak sedap, ditambah kotoran dan kuman yang ditinggalkannya, membuat manusia menyebutnya sebagai binatang yang menjijikkan.

Sistem Motorik

Namun siapa sangka, serangga yang kerap disebut hewan pengganggu memiliki keunikan yang membuat banyak ahli biologi berdecak kagum. Salah satu keunikan itu adalah sistem senso-motorik.

Kecoa punya kecepatan bereaksi terhadap gangguan yang mengagumkan. Wajar jika kita kesal manakala kecoa yang hendak dibunuh menghilang entah ke mana.

Kecoa memang jago meloloskan diri. Rahasianya ternyata terletak pada sistem saraf dan sistem gerak motoriknya.

Sistem senso-motorik terdapat di dua tempat. Pertama, bagian kepala dengan dua antena sebagai penala getaran. Kedua, bagian kaki belakang hingga perut dengan rambut-rambut halus yang berfungsi sebagai antena.

Kedua sistem senso-motorik ini bekerja independen, sehingga bisa berfungsi berbarengan maupun sendiri-sendiri.

Bila salah satu sistem terganggu, sistem lain masih bisa berfungsi dengan baik. Kalau kepalanya kita potong, kecoa masih bisa bereaksi seperti semula.

Untuk menanggapi rangsangan luar, kecoa hanya butuh waktu 15-20 milidetik. Ini ukuran yang sangat cepat. Begitu bahaya datang, hanya dalam sekedipan mata pun kecoa sudah menghilang dari pandangan manusia, mencari tempat persembunyian.

60 Minggu

Sebagai serangga, kehidupannya tidak berlangsung lama. Beberapa jenis kecoa mampu bertahan setahun, atau maksimal 60 minggu.

Saat lanjut usia, tubuhnya mengalami penurunan stamina dan menjadi ringkih.

Beberapa organnya juga tidak berfungsi seperti waktu muda.

Begitu juga sistem senso-motoriknya yang akan mengalami penurunan kinerja, seirring pertambahan usia.

Seekor kecoa tua akan kehilangan koordinasi terhadap kedua sistem saraf motoriknya. Kecoa tua lebih mudah ditangkap dan dibunuh, karena butuh waktu lama untuk mengolah rangsangan yang datang.

Kecoa sudah ada di bumi sejak 300 juta tahun silam. Di perkirakan jumlah kecoa yang ada di permukaan bumi saat ini mencapai 5.000 spesies.

Meski belum ada penelitian tentang kecoa sebagai vektor penyakit tertentu, dimung-kinkan sekali ia menularkan penyakit pada manusia. Ini karena kebiasaan dan habitat hidupnya.

Kuman penyakit di tubuh yang dibawa dari tempat-tempat kotor akan menempel di tempat yang dia hinggapi.

Karena alasan inilah, populasi kecoa perlu dikendalikan.

Pengendalian kecoa bisa dilakukan dengan berbagai cara, misalnya melalui penggunaan insektisida.

Pengendalian secara fisik juga dapat dilakukan dengan menyiramkan air panas pada kapsul-kapsul telur kecoa, sehingga kapsul-kapsul tidak menetas.

Pencegahan di rumah bisa dilakukan dengan sanitasi rumah yang baik. Cara ini jauh lebih baik untuk mengatasi kemungkinan penyebaran penyakit yang diperantarai kecoa. (Dela SY, dari berbagai sumber-32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA