| Senin, 09 Juli 2007 | PANTURA |
Perayaan Sejit Kong Co Ceng Gwan Cin KunPuluhan Dewa-dewi Diarak Keliling KotaTEGAL - Puluhan dewa-dewi dari berbagai kelenteng di Pulau Jawa, diarak keliling Kota Tegal dalam perayaan Sejit Kong Co Ceng Gwan Cin Kun tahun 2558, Minggu (8/7). Ribuan warga keturunan Thionghwa ikut meramaikan acara yang diselenggarakan Kelenteng Tek Hay Kiong Kota Tegal tersebut. Mereka mengiringi dewa-dewi pujaannya yang diarak keliling kota. Pawai juga diramaikan sedikitnya sebelas liong, sembilan barongsai, dan 35 toa peckong. Sepanjang perjalanan puluhan liong dan barongsai itu melakukan berbagai atraksi. Bahkan, salah satu peserta mempertunjukkan aksi tusuk jarum di mulut. Arak-arakan yang mengular hingga satu kilometer itu mendapat perhatian warga Kota Tegal. Mereka berbodong-bondong memadati sejumlah ruas jalan untuk menyaksikan pawai tersebut. Iring-iringan puluhan dewa-dewi warga Thionghwa itu dimulai dari Kelenteng Tek Hay Kiong. Kemudian melintasi sejumlah jalan protokol. Di antaranya Jalan Veteran, Jalan Setia Budi, Jalan P Diponegoro, dan Jalan Sudirman. Akibatnya, beberapa ruas jalan dalam kota tersendat. Untuk memperlancar arus, petugas mengalihkan lalu lintas kendaraan ke jalan lain. Ritual Sebelum pawai dilaksanakan, ribuan warga Thionghwa yang telah datang di Kota Tegal sejak dua hari lalu itu, melaksanakan berbagai ritual keagamaan di Kelenteng Tek Hay Kiong . Di antaranya sembahyang bersama, sembahyang kelompok, dan doa memohon keberkahan. Untuk kegiatan tersebut, disediakan panggung besar atau tan. Menurut Toosu Kelenteng Tek Hay Kiong, Chen Li Wei, perayaan sejit merupakan ritual menjalankan sembahyang tong wae untuk memohon keberkahan. Puncak perayaan jatuh tanggal 7 bulan 7 atau 23 Go Gwee, yang dipercaya menjadi hari paling baik dan mulia. Berbagai hasil bumi dan masakan disajikan dalam perayaan tersebut . ''Ini merupakan perayaan kedua yang kami laksanakan. Dewa yang diarak keliling kota ini sengaja didatangtan dari 35 kelenteng di Pulau Jawa, dan jumlahnya sebanyak 29 dewa,'' terangnya. Dia mengatakan, perayaan sejit juga sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap Dewa Ceng Gwan Cin Kun (Dewa Kaum Tao), yang selalu menyelamatkan warganya dari bencana pada zaman Dinasti Ming. Selain warga Thionghwa, kegiatan juga diikuti rohaniawan dari agama budha dan agama khong hu cu. (H38-15) |