| Senin, 09 Juli 2007 | SEMARANG |
Tukang Becak Sekolahkan Anak di SMA FavoritSIAPA bilang anak seorang tukang becak tidak bisa bersekolah di sekolah favorit. Dua anak Slamet (48), tukang becak yang tinggal di RT 10 RW 5 Kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo, bisa masuk di SMAN 1, meski dengan biaya pas-pasan. Ya, meski seorang tukang becak, Slamet memiliki keinginan besar agar anaknya dapat mengenyam pendidikan seperti yang mereka harapkan. Apa pun akan dilakukan Slamet dan istrinya yang berprofesi sebagai buruh pencuci pakaian itu, termasuk mencari tambahan dan ngutang sana sini untuk membiayai anaknya. "Saya dan istri berusaha membiayai sekolah, karena anak saya memiliki kecerdasan dan bisa bersaing dengan siswa lainnya," kata Slamet. Belum Lunas Anak keduanya, Murniati (17), saat ini naik kelas 12 SMAN 1, sedangkan anak ketiga, Joko Kriyanto (14), diterima di sekolah yang sama tahun ini. Slamet mengakui, hingga kini sumbangan pengembangan institusi (SPI) kedua anaknya itu belum lunas. Bahkan, SPI yang harus dibayarkan setelah Joko diterima, hingga kini belum diberikan sepeser pun kepada sekolah. "Saya berterima kasih kepada SMAN 1, karena memberikan keringanan kepada anak saya, meski SPI merupakan tanggung jawab saya sebagai orang tua," kata Slamet. Kewajiban membayar SPI Murniati sebesar Rp 1 juta pada 2005 lalu, baru terbayar Rp 600.000. Sedangkan SPI Joko belum terbayarkan. Tetapi, mereka telah membayar uang seragam, SPP, dan masa orientasi studi (MOS) dengan total lebih dari Rp 500.000. "Uang itu kebanyakan juga dari ngutang." Baik Murniati maupun Joko masuk sekolah tersebut dengan cara murni, karena kemampuan akademik mereka. Keduanya memiliki nilai rata-rata cukup tinggi. Saat masuk SMAN 1 dulu, Murniati memiliki nilai rata-rata ujian nasional (UN) di atas 9. Begitu pula Joko, nilai matematikanya sempurna atau 10. Kedua anak Slamet itu mengakui pekerjaan orang tua tidak membuat mereka risih. Justru hal itu menjadi pemacu semangat belajar. (Surya Yuli P-37) |