| Senin, 09 Juli 2007 | SEMARANG |
Masyarakat Dilibatkan dalam Rehabilitasi HutanSALATIGA- Berbagai elemen masyarakat mulai dari tokoh masyarakat, agama, swasta, guru, dan perangkat RT/RW, mengikuti Sosialisasi dan Sarasehan Rehabilitasi Hutan dan Lahan di SMKN 2, Sabtu (7/7) pagi. Kegiatan yang diprakarasi Dinas Pengelolaan dan Lingkungan Hidup (DPLH) itu, bertujuan menumbuhkan kesadaran masyarakat melakukan gerakan rehabilitasi hutan dan lahan (Gerhan) 2007. Kabid Lingkungan Hidup Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup Ir Mustain mengatakan, kegiatan yang merupakan program nasional itu, merupakan bagian dari upaya pelestarian lahan dan hutan di Kota Salatiga. Terlebih lagi, berdasarkan data DPLH sejumlah hutan sebagai tempat resapan air dan debit sejumlah mata air di Salatiga semakin berkurang. ''Sosialisasi ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan sebelum mengadakan aksi penghijauan di Kota Salatiga. Sosialisasi yang sama juga dilakukan di beberapa tempat,'' kata Mustain. Berkurang Sebagaimana diketahui, telah terjadi berkurangnya tempat resapan air yang memperburuk kondisi lingkungan hidup. Salah satu penyebabnya adalah dibukanya lahan-lahan baru untuk perumahan dan industri, yang sebelumnya merupakan tempat resapan air. Adapun upaya yang dilakukan adalah menghindari berkurangnya tempat resapan air dengan mempertahankan sejumlah daerah resapan di perbukitan, seperti di Kelurahan Blotongan, Kelurahan Sidorejo Lor, Kelurahan Bugel, Kelurahan Kumpulrejo, dan Kelurahan Kauman Kidul. Akibat berkurangnya pohon, sejumlah titik mata air di Kota Salatiga mulai menghilang, seiring dengan bertambahnya lahan terbuka. Menghilangnya titik mata air itu diawali dengan semakin berkurangnya debit air dan kemampuan daya tampung air. Debit air menurun dari 30-40% setiap tahun. Dikhawatirkan jika hal itu berlangsung terus, mata air bakal terus hilang. Sekarang ini di Salatiga masih terdapat sekitar 75 titik sumber mata air dan menjadi tumpuan warga untuk keperluan air bersih. Pembicara dalam sosialisasi itu, Soenarto Notosoedamo (Fakultas Biologi UKSW), Drs Mulyono (Yayasan Indonesia Sejahtera), Pujiono (DPLH), dan Sumarjo (praktisi pertanian). (H2-37) |