| Senin, 09 Juli 2007 | SEMARANG |
Hama Tikus Merebak, Petani GropyokanKENDAL- Merebaknya hama tikus yang menyerang tanaman padi berusia muda membuat para petani di Kelurahan Kebondalem, Kendal, melakukan gropyokan. Dalam kegiatan yang diikuti sejumlah petani itu kemarin, berhasil ditangkap puluhan hama pengerat. "Jika tikus-tikus ini tidak diberantas, hampir dipastikan tanaman padi kami rusak. Tanaman padi yang rata-rata berusia satu bulan ini patah pada bagian pangkalnya karena dikerat tikus," papar Trubus (50), petani warga RT 2 RW 3 Kelurahan Kebondalem, kemarin. Gropyokan dilakukan menggunakan peralatan pertanian sederhana, seperti cangkul dan garpu besar. Petani mencari tikus di lubang-lubang yang menjadi sarang tikus. Misalnya, di tepi saluran irigasi dan tanggul sawah. Ketika mereka mengetahui tikus ke luar dari sarangnya, beberapa petani lain telah siap dengan alat pemukul berupa tongkat bambu. Belasan tikus yang lolos dari tangkapan, lari ke areal persawahan. Sedikitnnya 30 ekor tikus yang ditangkap kemudian dikumpulkan dan dibakar. "Supaya tidak menimbulkan penyakit, bangkai tikus dikubur dalam tanah," kata Asnawi (55). Tikus-tikus tersebut tidak memakan tanaman padi, melainkan hanya mematahkan bagian pangkal tanaman. "Dalam setiap petak sawah, tanaman padi yang dirusak umumnya pada bagian tengah saja. Akibatnya, petani terpaksa mengganti tanaman padi baru." Layu dan Mati Untuk menanam bibit padi baru, petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membayar buruh tanam. "Paling tidak ada dua buruh yang harus dipekerjakan. Setiap orang dibayar Rp 20.000. Serangan tikus mulai merebak sejak dua hingga tiga pekan ini. Kami berharap ada solusi dari dinas terkait untuk memberantas hama pengerat itu." Sapari (50), menuturkan, sejak merebaknya serangan tikus, para petani yang tergabung dalam kelompok tani telah sepakat melaksanakan gropyokan rutin sekali dalam seminggu. "Jika pemilik sawah tidak bisa ikut kegiatan itu, yang bersangkutan harus membantu dana atau mengirim tenaga," katanya. Selain munculnya serangan tikus, petani di wilayah Kelurahan Kebondalem juga mengeluhkan keberadaan penyakit tanaman padi yang disebut abangan. Padi yang terkena penyakit tersebut, daunnya berubah warna menjadi kemerah-merahan, layu, dan mati. "Petani sudah berupaya keras mengobati tanaman padi yang terserang penyakit abangan dengan mencoba beragam obat-obatan. Namun, sampai saat ini kami belum dapat mencegah dan mengobati penyakit tanaman itu." (G15-37) |