logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 09 Juli 2007 SEMARANG
Line

Kemarau Bisa Jadi Barometer Sukses Tidaknya Penghijauan

SEMARANG- Musim kemarau dinilai bisa dijadikan barometer sukses tidaknya penghijauan di Kota Semarang yang dilakukan instansi terkait. Karena saat seperti ini, dalam perawatan taman kota terdapat beberapa kendala, antara lain suhu udara panas dan ketersediaan air kurang. Demikian disampaikan Dr Ir Eddy Prianto CES DEA, Pengamat Arsitektur dan Perkotaan Undip.

Menurutnya, jika penghijauan di Kota Semarang ingin sukses, justru sebaiknya dilakukan pada waktu kemarau bukan ketika musim penghujan.

Dosen Fakultas Teknik Undip itu, menambahkan, pada musim hujan, tugas dari instansi terkait dalam hal ini Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Semarang untuk perawatan taman-taman kota lebih ringan karena terbantu dengan curah hujan.

Pria yang belum lama ini mendapat penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas penelitian terkait rumah hemat energi dengan hasil temuannya, berupa jendela bukaan atas itu menambahkan, selain perawatan, pemilihan pohon yang cocok terhadap cuaca panas juga perlu dipertimbangkan.

Pohon Kering

Dia mencontohkan, kawasan Mataram misalkan, banyak pohon penghijauan di sana yang kering. Padahal, penghijauan di sana belum lama dilakukan. "Hal itu menunjukkan pemilihan pohon di sana kurang tepat," tuturnya.

Dikatakannya, pohon di kawasan Pantai Marina ditanam tidak menggunakan tanah dari sana, tetapi mengambil tanah dari wilayah lain, dan dibuatkan semacam tempat yang disemen untuk menanam pohon itu supaya tidak kena air laut.

"Hal itu justru keliru, karena tanaman itu tidak dapat menyesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitarnya. Akibatnya, bila sewaktu-waktu diterjang rob, pohon itu kemungkinan akan mati," kata dia. (H36-56)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA