| Senin, 09 Juli 2007 | SEMARANG |
Panhac, Menjauhkan Hacker dari CybercrimePARA hacker Semarang bersatu menyerbu sebuah server target. Mereka beramai-ramai menembus dan melakukan pembobolan. Aksi terang-terangan para hacker tersebut memacu reaksi masyarakat umum untuk mencari tahu apa yang terjadi. Mereka yang merupakan kumpulan orang-orang yang mengakrabi bidang teknologi informasi, khususnya sistem keamanan dalam sebuah sistem komputer atau software, tersebut tak lagi menyembunyikan diri. Bahkan tak nampak sedikit pun wajah ketakutan mereka. Yang ada hanyalah pemandangan seragam: mata mereka memelototi layar notebook dengan kening berkerut-kerut. Ya, aksi hacker itu hanya terlihat pada kompetisi Pazia Acer National Hacking Competition (Panhac) 2007 di atrium Plasa Simpanglima, Sabtu (7/7). Adu kecanggihan berpikir yang dilakukan 73 peserta kompetisi menembus server target itu menjadi tontonan mengasyikkan bagi pengunjung pusat perbelanjaan itu. Selama ini aksi hacker sering diidentikkan dengan cybercrime atau kejahatan di bidang komputer. Apalagi jenis kejahatan ini bukan sesuatu yang asing di Semarang. Terbukti, sejumlah kasus cybercrime telah diajukan ke meja hijau, termasuk yang terkait aksi terorisme baru-baru ini. Michael Sunggiardi, Ketua Panitia Panhac 2007 mengatakan, peserta diharuskan mengambil 4 file potongan gambar logo Panhac dari 5 file yang disediakan. Untuk mendapatkan file itu mereka harus mengerahkan kemampuan teknik hacking-nya dengan waktu selama 1 jam. Di antara dari mereka, nampak membawa alat exploit dan tools hacking untuk mempermudah menemukan sinyal server. Bisa Positif Kompetisi itu akhirnya mencatatkan pemenang atas nama Prabowo Bayuaji dan Franky Yustanto, pengelola Internet Service Provider (ISP) Orbicom. Keduanya berhak membawa pulang hadiah 1 unit notebook Acer Aspire 5052 serta maju mewakili Semarang ke kompetisi tingkat grand final di Jakarta, 1 Agustus mendatang. Tim tersebut mampu menyentuh server target menjelang detik-detik terakhir kompetisi, meski belum berhasil menembus. Sementara kemampuan peserta lainnya ada yang bisa log in ke File Transfer Protocol (FTP), namun tanpa melakukan exploit. ''Tujuan kompetisi ini adalah mengubah citra hacker yang kerap diidentikkan dengan cybercrime. Kami ingin menunjukkan dunia hacker itu bisa positif dalam pengembangan teknologi informasi, khususnya teknologi sekuriti komputer,'' katanya. Salah satu juri yang terlibat adalah Dani Firman Syah, nama yang tidak asing dalam fenomena cybercrime Indonesia. Dia pernah tersandung dalam kasus pembobolan situs KPU saat Pemilu Legislatif 2004. (Moh Anhar-18) |