logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 09 Juli 2007 SEMARANG
Line

Kepahlawanan Dokter Kariadi (3-Habis)

''Pahlawan Bangsa jang Petjah sebagai Ratna''

TAK lama setelah kabar meninggalnya dokter Kariadi tersiar, berbagai kalangan, baik atas nama institusi maupun pribadi menyampaikan ucapan belasungkawa. Sebutan pahlawan bangsa diberikan untuk penghormatan kepadanya.

Menteri Kesehatan Dr Boentaran Matoatmodjo mengirim kawat duka, yang di antaranya berbunyi: ''Setelah menerima warta tentang wafatnya Dr Kariadi, segenap Kementrian Kesehatan toeroet dan menjatakan sedih serta berdoeka-tjita dan menghargai kepoelangannja sebagai pahlawan bangsa jang petjah sebagai ratna.''

Surat kabar Merdeka, 27 Oktober 1945 menegaskan, pernyataan Boentaran dengan menurunkan tulisan berjudul: ''Goegoer sebagai Pembela Bangsa; Dr. Kariadi Pemimpin Laboratorium Petjah sebagai Ratna''.

Bertahun-tahun kemudian, penyebutan pahlawan bangsa untuk dokter Kariadi telah biasa dilakukan. Hidupnya yang banyak dihabiskan untuk mengabdi kepada masyarakat, serta kematiannya yang tragis saat menjalankan tugas menyelamatkan warga kota dari ancaman peracunan air minum, dalam hal ini menjadi legitimasi kuat. Kendati demikian, sejauh ini belum ada pengesahan dokter Kariadi sebagai Pahlawan Nasional. Sejauh ini, penghargaan pemerintah untuk dia masih berupa Satyalencana Kebaktian Sosial secara anumerta. Penghargaan diberikan oleh Presiden Soeharto pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 1968.

Dalam bentuk lain, penghargaan berupa pemberian tengara dokter Kariadi sebagai nama pengganti Pusat Rumah Sakit Rakyat (Purusara) Semarang, serta pemindahan jenazahnya dari halaman rumah sakit ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal.

Memenuhi Syarat

Dalam ''Kajian tentang Perjuangan Dr Kariadi'', Guru Besar Sejarah Unpad Prof Dr Nina H Lubis MS berpendapat, pemberian gelar pahlawan nasional kepada tokoh itu sepatutnya dilakukan.

Menurut dia, dokter Kariadi memenuhi tujuh butir kriteria pahlawan nasional sebagaimana yang dirumuskan Direktorat Kepahlawanan dan Kejuangan Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI.

Semasa hidup, dia berjuang menyelamatkan masyarakat dari tindakan keji tentara Jepang. Pada lapangan kesehatan, dia menghasilkan karya besar dalam upaya pemberantasan malaria, serta menemukan oleum promicroscopiekar.

Selain itu pengabdian dan perjuangan dokter Kariadi berlangsung sepanjang hidup dan berdampak nasional. Dia konsisten dan memiliki jiwa kebangsaan, punya akhlak-moral keagamaan yang tinggi, tak menyerah pada musuh dalam perjuangan, serta tak pernah melakukan perbuatan tercela yang dapat merusak nilai perjuangannya.

Hal serupa dikatakan Guru Besar Sejarah Undip, Prof Dr AM Djuliati Suroyo. Dia menyebut dokter Kariadi sebagai pahlawan, lebih khusus pahlawan nasional bidang kemanusiaan. Ketika mendengar kabar Reservoir Siranda diracun tentara Jepang, dia sebenarnya punya pilihan untuk tidak melakukan pemeriksaan. Mengingat situasi kota yang genting dan penuh ancaman. Namun jiwa kemanusiaanya yang besar mengalahkan segala-galanya.

Guru Besar Sejarah Unnes, Prof Dr Wasino mengatakan, belum diusulkannya dokter Kariadi sebagai pahlawan nasional merupakan kealpaan. Ketokohannya pantas ditauladani, utamanya oleh dokter yang hidup di masa sekarang. (Rukardi-18)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA