| Senin, 09 Juli 2007 | KEDU & DIY |
Menyedihkan, Gedung Megah di Tengah Gubuk ReyotGUNUNGKIDUL - Globalisasi yang mengalir cukup dahsyat makin membuat perkembangan budaya asing yang masuk ke negeri ini makin sulit dibendung, hampir semua budaya asing masuk begitu saja. Akibatnya, mengubah perilaku masyarakat kita yang selama ini menjunjung budaya timur yang penuh sopan santun. Bupati Gunungkidul Suharto mengatakan hal itu pada bakti sosial khitanan massal yang dilaksanakan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Perhimpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (Harpi) Melati di Pendapa Kabupaten Gunungkidul, kemarin. Khitanan massal yang diikuti 125 anak dari keluarga tidak mampu ini, diselenggarakan DPD Harpi Melati DIY bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) DIY. Dalam kesempatan itu, peserta khitanan mendapat sarung, baju, peci, peralatan sekolah, dan sejumlah uang saku dari DPD Harpi Melati. Akibatnya, lanjut Bupati, bisa kita lihat pada kesenjangan antara kaum kaya dan miskin yang ada di perkotaan khususnya di Jakarta dan kota-kota besar lain di mana gedung-gedung bertingkat dan apartemen mewah telah berdiri kokoh di samping gubuk-gubuk reyot di atas bantaran sungai. ''Sungguh merupakan pemandangan yang menyentuh nurani,'' katanya. ''Untuk itu kami bangga, karena ibu-ibu perias pengantin tetap tidak lupa dengan budaya Timur yang selalu menekankan pada hidup rukun dan gotong-royong,'' tambah Suharto. 125 Anak Lebih lanjut dia mengatakan, sebenarnya sangat ironis namun demikianlah kenyataan yang kita hadapi. Bila tidak peka, maka sedikit demi sedikit budaya gotong-royong dan kebersamaan yang luhur akan terkikis oleh gaya hidup individualis dan kapitalis sebagian masyarakat Indonesia. Meski demikian, tutur dia, kita tentunya pantas berbangga hati bahwa warga Gunungkidul walaupun telah mampu meraih sukses, tapi masih mau menjunjung tinggi budaya tersebut. ''Satu hal yang harus kita garis bawahi dalam hal ini adalah bagaimana budaya ini akan tetap bertahan pada era selanjutnya,'' ucapnya. Sementara itu, Ketua DPD Harpi Melati DIY Hj Tienuk Riefky dalam kesempatan itu mengemukakan, kegiatan khitanan bersama ini merupakan realisasi program yang telah dilaksanakan oleh DPD Harpi Melati secara periodik yang diselenggarakan setiap tahun. Khitanan massal tahun ini, paparnya, sengaja diselenggarakan di Gunungkidul yang diikuti 125 anak. Kalau dilihat dari jumlah peserta memang melebihi target yang direncanakan. Hal ini menunjukkan bukti adanya respons yang sangat positif dan membanggakan dari warga Gunungkidul. "Untuk itu, kita patut bangga dengan pengurus DPC Harpi Melati Gunungkidul yang telah berjuang dan bekerja keras hingga bisa terlaksananya kegiatan ini." (sgt-70) |