logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 09 Juli 2007 KEDU & DIY
Line

Pembangunan Identik dengan Perusakan

YOGYAKARTA - Fakta menarik tentang pembangunan di Indonesia adalah selain menghasilkan ketimpangan, juga identik dengan perusakan bumi. Pembangunan yang ditunjukkan oleh keberadaan infrastruktur fisik sampai dengan eksploitasi sumber alam tidak jauh dari perusakan bumi untuk kepentingan ekonomi yang menguntungkan para pemilik modal dan mengorbankan wong cilik.

''Eksploitasi kekayaan alam secara besar-besaran itu tidak memberi dampak yang lebih besar pada kemakmuran wong cilik, bahkan mereka menjadi korban akibat eksploitasi tersebut," kata Kepala Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) UGM Dr Susetiawan pada seminar bulanan PSPK di kantor pusat studi itu di kompleks kampus Bulaksumur, Yogyakarta, belum lama ini.

Dicontohkan kasus Lapindo, persoalan kesalahan eksplorasi itu mengakibatkan semburan lumpur panas yang hingga kini belum bisa dihentikan dan luapan lumpur telah menutup berhektare-hektare tanah penduduk. Hingga kini solusinya belum menunjukkan hasil bagi penduduk sebab nasib mereka ke depan dalam ketidakpastian.

Selain itu, tambah dia, eksploitasi usaha pertambangan juga lebih banyak mengundang perusakan bumi daripada memetik keuntungan bagi perbaikan hidup rakyat Indonesia pada umumnya, terutama mereka yang berada di daerah sekitar pertambangan.

Lahan Marjinal

Sementara itu, pembicara lainnya pada seminar yang sama, Ketua LP2NU DIY Dr Ir H Dja'far Shiddieq menambahkan, masyarakat di sekitar pantai selatan pasti tahu lahan pasir pantai itu adalah lahan marjinal.

Lahan tersebut mempunyai kendala yang cukup besar kalau akan dikembangkan sebagai lahan pertanian karena adanya angin dengan kecepatan tinggi yang mengandung partikel-partikel garam, gumuk pasir yang bergelombang, suhu tanah dan udara serta evaporasi yang sangat tinggi, tanah pasir dengan permiabilitas sangat cepat, tanah tidak subur dan lain-lain.

Namun setelah petani sekitar pantai mengetahui karakter lahan tersebut dan bekerja sama dengan berbagai perguruan tinggi yang ada di DIY akhirnya ditemukan teknologi spesifik lokasi ramah lingkungan (TSLRL) yang dapat mengatasi berbagai kendala di lahan pasir tersebut. (P12-70)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA