| Senin, 09 Juli 2007 | EKONOMI |
Rendah, Penyaluran Kredit PertanianSEMARANG- Meski sektor pertanian menjadi penunjang utama pertumbuhan ekonomi di Jateng hingga semester I tahun 2007, namun penyaluran kredit kepada sektor pertanian masih sangat kecil. Dibandingkan dengan industri dan perdagangan yang penyaluran kreditnya relatif tinggi hingga 80%, maka di sektor pertanian baru berkisar 5-10% saja. Menurut Pemimpin Bank Indonesia Semarang, Amril Arief, rendahnya penyaluran kredit ini patut disayangkan mengingat pilar pertanian ini cukup menonjol. Perbankan agak khawatir karena risikonya cukup tinggi. ''Produk pertanian itu gampang dimainkan oleh pihak tertentu, terutama pedagang. Itu yang membuat bank enggan,'' jelasnya, pekan lalu. Menurutnya, ada penguasaan tertentu oleh pedagang sehingga bisa memainkan harga seenaknya, sehingga pertanian menjadi sektor yang tidak menarik untuk dibiayai perbankan. Selain itu ada fenomena dimana lahan yang ada di Jateng semakin hari semakin berkurang untuk pembangunan. Ada pula budaya dimana orang enggan bekerja di sektor pertanian ini dan memilih pindah ke kota, menjadi pedagang atau lainnya. Hambatan lain yang meyebabkan minimnya penyaluran kredit pertanian adalah hambatan di sisi infrastruktur pertanian, seperti irigasi, ketersediaan pupuk dan benih yang kian hari semakin tidak menguntungkan petani. BI sendiri berupaya melakukan kerja sama dengan Pemda tingkat I dan tingkat II, untuk menggalakkan sektor pertanian, baik dari segi pembiayaan maupun kredit. ''Kita terus himbau pemerintah agar petani memperoleh banyak kemudahan dari segi infrastruktur tadi,'' ungkapnya. (J14, H22-59) |