| Senin, 09 Juli 2007 | EKONOMI |
Perbankan Masuk Segmen KoperasiSEMARANG-Sejumlah bank mulai masuk pasar yang semestinya digarap koperasi khususnya, untuk produk simpan pinjam. Mereka merambah di perkantoran atau perusahaan-perusahaan dengan menawarkan kredit ke karyawan. Bahkan, saat ini pedagang di pasar tradisional banyak yang diberi tawaran kredit, padahal sebelumnya mereka menjadi nasabah atau anggota koperasi. ''Kondisi seperti ini memang tidak bisa dicegah karena mekanisme pasar. Oleh sebab itu, fenomena seperti ini justru menjadi cambuk bagi koperasi untuk meningkatkan kinerjanya,'' kata Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Jateng Herman Soekirno di sela-sela persiapan peringatan Hari Koperasi ke-60 di kantor Dekopin Jl Pamularsih Semarang, kemarin. Menurutnya bank, yang memiliki modal besar akan sangat mudah untuk mengambil pasar yang selama ini digarap koperasi. Namun, pihaknya tidak terlalu mengkhawatirkan soal ini. Sebab, ada persyaratan teknis bank yang harus dipenuhi. ''Misalnya harus ada agunan untuk dijaminkan. Sementara tidak semua karyawan bisa memenuhi ketentuan itu. Nah, saat itulah koperasi masih menjadi alternatif pembiayaan yang dibutuhkan,'' jelasnya. Menurut Herman, perkembangan koperasi di Jateng termasuk cukup pesat. Jika pada 1998 atau saat krisis jumlahnya hanya 8.700, hingga saat ini melonjak menjadi 16.541 unit. Hal ini berbeda dengan usaha berskala besar yang justru banyak yang kolaps. ''Ini menunjukkan ketahanan koperasi lebih kuat menghadapi krisis,'' jelasnya. Kesulitan Pendanaan Menariknya, lanjut Herman, dalam tiga tahun terakhir adalah pertumbuhan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan Unit Simpan Pinjam (USP) yang kini mencapai 7.240 unit dari hanya sekitar 1.000 unit pada 1998. ''Asetnyapun kini untuk yang ada di Jateng totalnya mencapai Rp 5 triliun,'' tandasnya. Ia mengakui ada beberapa koperasi simpan pinjam yang bermasalah, namun jumlahnya hanya sedikit dibanding yang eksis dan berhasil mengangkat perekonomian masyarakat. ''Dari yang bermasalah itu karena pengurusnya yang memang kurang berniat baik,'' ujar dia. Selain itu, lanjut dia, beberapa koperasi lain yang kolaps disebabkan ''terkejut'' akibat penerapan pasar bebas. Misalnya saja yang sebelumnya menjadi distributor tunggal gula, beras atau cengkeh. ''Begitu pasar dibuka, mereka tidak siap maka banyak yang bangkrut,'' kata dia. Begitu juga koperasi yang mengandalkan kucuran dana dari Kredit Usaha Tani (KUT). Mereka hanya bisa hidup ketika ada suntikan modal sementara pengelolaanya tidak profesional. ''Koperasi-koperasi seperti ini biasanya memang tidak bertahan lama.'' Ia mengungkapkan persoalan klasik koperasi adalah rendahnya kemampuan dalam hasil produksinya. Kemudian kesulitan akses pendanaan dan rendahnya penguasaan teknologi. ''Disamping itu, produk yang dihasilkan koperasi masih banyak berkisar di sektor primer dan belum banyak bergerak di sektor industri pengolahan yang memiliki nilai tambah tinggi,'' jelasnya. Sementara itu, terkait dengan peringatan Hari Koperasi ke-60 tingkat Jateng, Ketua Panitia Wachid menjelaskan akan diisi dengan bakti sosial dan pameran di Gedung Lawang Sewu Semarang pada 20-23 Juli 2007. Dalam kegiatan ini akan ada kontak bisnis, seminar, pasar lelang hingga bursa kredit perbankan.(H22-59) |