logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 03 Juli 2007 NASIONAL
Line

Sehat dan Bahagia ala LBC ( 1 )

Sopir pun Bisa Tak Tahu Fungsi Rem

Hampir semua orang memburu sehat, sukses dan bahagia, tetapi tidak semua tahu cara meraihnya. Untuk mengungkap problem itu, wartawan Suara Merdeka Budi Surono yang mengikuti pelatihan Personal Power Management - Load Balancing Concept (LBC) di Jakarta baru-baru ini, menuangkan dalam tulisan berseri mulai hari ini.

KETIKA beban hidup menumpuk, tuntutan kerja terus membuncah, dan stress kian berkuasa, maka harga sebuah kegagalan makin membayang. Nyaris tidak ada cara yang tepat untuk berkelit, kecuali keputusasaan.

Bahkan tidak jarang seseorang harus kalah bersaing dengan masalah, dan masuk wilayah hidup yang abu-abu. Tidak lagi tergambar jalan keluar, yang ada hanya warna hitam, takut gagal dan akhirnya benar-benar jatuh.

Anehnya banyak orang punya masalah, tidak sedikit pula organisasi mengalami kesulitan bukan karena tidak bisa memecahkannya, tetapi justru mereka tidak tahu masalah sebenarnya.

Tak heran, kemana pun mereka akan mencari penyelesaian masalah. Padahal sebenarnya kunci pemecahannya ada pada diri sendiri. Contohnya, ketika stress seringkali orang akan mondar-mandir mencari solusi dengan berkonsultasi, curhat dan meminta nasihat pada orang yang dianggap mampu membantunya. Hasilnya tetap saja kembali ke diri sendiri. Semua nasihat akan tetap berupa saran, pelaksananya tetap harus diri sendiri. Pertanyaannya, apakah kita mau melaksanakan atau tidak. Prinsipnya, tak seorang pun dapat diubah, kecuali diri sendiri yang mau mengubahnya. Menurut Ir Budi Sumadiyo, MBA, penggagas dan instruktur Load Balancing Concept (LBC), dalam sebuah acara bertanya kepada 120 pengemudi.

"Apa yang paling menentukan keselamatan di perjalanan?" Hampir sebagian besar bilang, "Rem".

Sedangkan saat ditanyakan rem gunanya untuk apa? Juga hampir senada mereka menjawab: "Untuk menghentikan kendaraan."

Itu pula sebabnya, mengapa ketika musim hujan tiba, angka kecelakaan di jalan raya meningkat tajam. Karena banyak dari pengemudi kendaraan justru salah memahami manfaat dari salah satu komponen penting kendaraannya.

Padahal fungsi sebenarnya dari rem itu, hanya untuk menghentikan roda kendaraan, bukan kendaraan. Artinya, ketika rem diinjak yang berhenti adalah roda dan ketika jalanan licin, meskipun roda berhenti kendaraan belum tentu berhenti. Begitu pula ketika pemahaman terhadap diri sendiri salah, seringkali menjadi sumber malapetaka.

Pemahaman Hidup

Pelatihan LBC ini menguak secara fundamental tentang diri kita, sebagai makhuk paling sempurna. Menurut alumnus Kensington University AS itu, LBC merupakan konsep keseimbangan beban yang menekankan pemahaman tentang hidup manusia dilihat dari luar dirinya. Hidup sendiri, dalam pandangan LBC adalah beban. Kalau kita menyadari sejak awal kalau hidup adalah beban, maka sehat, sukses dan bahagia yang menjadi tujuan hidup banyak orang, akan menjadi kenyataan hidup kita.

Banyak orang berfikir, hidup itu indah dan menyenangkan, akibatnya ketika mereka mendapatkan masalah besar yang ada hanyalah stress, frustasi bahkan banyak yang lari dari kenyataan dan akhirnya bunuh diri. Tetapi jika menyadari lebih awal bahwa hidup adalah beban, kita sudah siap mental seadainya masalah dan beban hidup menghadang di perjalanan. Maka konsep keseimbangan beban yang dipraktikkan LBC ini, menjadi penting diterapkan.

Dia kemudian memberikan beberapa kiat agar bisa sukses. Pertama, perkaya hidup kita dengan cinta. Sejarah mencatat banyak peristiwa dan pencapaian luar biasa yang dilatarbelakangi cinta.

Maka mulailah saat ini untuk lebih meningkatkan cinta kepada Tuhan, diri sendiri, keluarga, pekerjaan, bangsa dan sesama. Kedua, milikilah keyakinan yang bulat kalau kita akan sukses. (33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA