| Senin, 02 Juli 2007 | SEMARANG |
Geluti Lumpur Porong hingga Abu Tulang Sapi
TAK kenal lelah bereksperimen dengan tanah. Itulah Roy Wibisono (35), sarjana Teknik Kimia FMIPA Undip yang sudah bertahun-tahun bergelut dengan tanah liat dalam pembuatan keramik. ''Bagi saya, keramik itu memadukan art (seni) dan teknologi,'' katanya saat ditemui di workshop-nya Sigar Bencah Keramik, Bukit Kencana Jaya CN 05, Semarang. Seni berarti bagaimana membentuk sebuah karya yang menarik, sedangkan teknologi berarti bagaimana membuat formula yang tepat dan efisien. Pengalamannya 3 tahun bekerja di sebuah pabrik keramik, dan satu tahun lebih belajar seni di Australia, membuat pria yang beristrikan Wido Praningtyas (34), seorang dosen Planologi Undip tersebut, terus meneliti potensi tanah di berbagai daerah. Tanah liat memang menjadi bahan baku utama yang dibutuhkan dalam pembuatan keramik. Selain itu, ada pula felspar atau batuan putih dari pegunungan, serta pasir kwarsa yang didapatnya di wilayah Rembang. Apakah hanya itu? Ternyata tidak, karena tanah liatnya bukan sembarang tanah. Setelah bereksperimen dengan tanah dari Sigar Bencah, bapak dua anak itu pun mencoba mencampurnya dengan lumpur Porong, yang memiliki efek gelembung dan bercak yang tidak ditemukan di tempat lain. ''Efek H2S atau sulfur yang dominan akan bereaksi waktu dibakar.'' Ingin tahu apa saja yang dicampurkan Roy dalam keramiknya? Yap, ada abu Gunung Merapi dan abu tulang sapi. Penasaran bagaimana kedua bahan tersebut bisa dicampurkan dalam formulanya? ''Pasar Eropa menyukai keramik berwarna tua dan kusam, dan abu Merapi memberikan efek kehitaman pada hasil setelah dibakar,'' jelasnya. Sementara abu tulang sapi dipilih setelah penelitiannya menunjukkan tidak ada bahan kimia berbahaya. ''Tulang sapi mengandung silica, alumina, phospor dan material lain yang bagus untuk menunjang pembuatan keramik.'' Untuk perbandingannya, dia mencampurkan 40% lumpur Porong, 30% kaolin dari Bangka, dan sisanya tanah dari Sigar Bencah. Kaolin dicampur untuk menetralisir efek H2S dalam lumpur Porong. Keramik China Produk keramik Indonesia belakangan tergusur keramik China yang murah. Padahal menurut Roy, kualitasnya tidak sebanding karena tidak akan tahan lama. Bahan baku keramik China dicampur PbO dari sel aki yang dihaluskan, ditambah borax. Keramik cukup dibakar dengan temperatur rendah 900 derajat, sehingga hemat bahan bakar. Tapi hasilnya jelek. ''Biasanya keramik China ini bobotnya ringan, dan setelah beberapa waktu gampang pecah, retak, dan noda-noda seperti kopi, sulit dibersihkan.'' Di workshop-nya, Roy bersama 6 karyawannya mampu menyelesaikan rata-rata 3.000 pesanan setiap bulan. Selain memenuhi pesanan pribadi, dia pun memasok pesanan toko suvenir, hotel, dan restoran, dan memasarkan produknya ini hingga Amerika Serikat, Australia, dan Singapura. Harga keramik buatannya yang murah dan berkualitas, membuatnya kewalahan memenuhi pesanan. Kini, 1.000 piece keramik untuk perhelatan Semarang Pesona Asia (SPA) berbentuk Tugu Muda, dan cangkir dengan berbagai ornamen khas Semarang seperti Lawang Sewu dan Gereja Blenduk, sedang digarapnya. Tertarik mengikuti jejak Roy? (18) |