| Kamis, 28 Juni 2007 | SALA |
Bisnis Memandikan Mayat (1)Awalnya Memandikan Mayat Teman''Moslem Corpse Bathing Service'' (Pelayanan Memandikan Jenazah Muslim), menjadi profesi baru di Solo. Dan pelaku bisnis jasa yang masih langka itu adalah M Asngari (43), warga Jalan WIjaya Kusuma, Tipes, Solo. Memang sempat tercengang ketika dia mengungkapkan,''Saya punya profesi baru Mas.'' Apa itu? ''Memandikan jenazah muslim,'' jawabnya. Barangkali benar juga. Memandikan jenazah memang sering dilakukan kalangan keluarga atau lembaga kemasyarakatan secara sosial. Namun sebagai sebuah usaha, barangkali merupakan pekerjaan yang belum banyak ditekuni secara profesional. Namun bagi Ari, panggilan akrab Aris, berhadapan dengan mayat bukan hal atau kegiatan yang baru. Sejak SMP, dia sudah pernah memandikan jenazah. Itu terjadi ketika dua temannya mengalami kecelakaan dan tewas. Kebingungan dan rasa takut, waktu itu ditunjukkan orang-orang yang dekat dengan korban termasuk keluarganya. Melihat kebingungan itu, muncul niat saya membantu untuk bersedia memandikan mayatnya. ''Itu saya lakukan setelah pihak keluarga sempat kebingungan ketika akan memandikan. Melihat kebingungan itu, entah mengapa saya tiba-tiba menyanggupi. Habis tidak ada yang berani dan mau begitu melihat mayatnya, apalagi kondisinya memprihatinkan karena kecelakaan,'' katanya. Sejak itu, Aris seperti mempunyai aktivitas baru, yaitu ''bermain-main'' dengan mayat. Malah ketika SMA dan kuliah di Bandung, kegemarannya itu sempat diketahui orang lain. Meskipun masih kuliah, dia sempat ditawari pekerjaan sampingan menjadi ''manajer'' alias juru kunci pemakaman umum yang dikelola yayasan. Profesional Usaha itu rencananya dikelola secara profesional. Lahan dan tata ruang pemakaman dirancang sedemikian indah dan sejuk tidak terkesan medeni dan angker. Namun karena terjadi benturan dengan pemerintah daerah setempat, rencana itu dibatalkan. ''Masak, kalau ada jenazah dimakamkan di situ harus membayar dua kali, ke yayasan dan Pemda. Akhirnya rencana itu batal.'' Usai menamatkan kuliah, Aris pulang ke Solo. Di kampungnya, aktivitas seputar jenazah tetap dilakoninya. Seringnya membantu memandikan mayat, warga setempat selalu mempercayakan urusan pralenan(kematian) di kampung itu kepadanya. Kebiasaan dan keahliannya dalam urusan seperti itu, membuatnya sering diundang kenalannya atau teman-temannya. Kegiatan itu semula dilakukan sebagai salah satu bentuk ibadah dan sekedar menolong saja. Kesehariannya, bersama istrinya, seorang pengacara, dan seorang anak, aktivis masjid itu menjalani hidupnya dengan menjadi guru les matematika SD dan TK di samping menjadi perantara jual beli tanah. ''Namun setahun lalu, banyak teman dan saudara saya mendorong agar kegiatan itu diseriusi. Jangan hanya menolong tapi mengorbankan keluarga dan merugikan orang lain. Akhirnya, saya menekuni secara profesional. Saya buat paket tarif pelayanan mulai dari tingkat rendah sampai plus,'' kelakarnya.(Sri Wahjoedi-42) |